Tidak setiap orang bisa bebas tekanan dalam hidup ini, meski pergantian tahun baru saja tiba. Bahkan salah-salah, orang bisa lebih stres karena gagal mengelola tekanan. Sesungguhnya setiap orang punya masalah, namun tak setiap jiwa menyikapinya dengan stres. Lalu bagaimana caranya?
Stres muncul saat tekanan datang bertubi-tubi. Ia bisa mewujud dalam bentuk kesalahan masa lalu, kecemasan masa depan, ketakutan yang tak beralasan, hingga tanggungan yang belum teratasi seperti utang piutang. Tekanan ini pun sering kali bersumber dari retaknya relasi, baik internal dengan keluarga maupun eksternal dalam pergaulan.
Alhasil, seseorang mengalami problem psikologis—sebuah kondisi tidak normal yang terus menekan fisik dan mental. Keadaan ini bersifat universal; ia bisa menimpa siapa saja, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
Rahasia Ketangguhan Para Nabi
Jika kita perhatikan dengan seksama, tak satu pun Nabi dan Rasul yang hidup tanpa tekanan. Justru, ujian mereka jauh lebih berat dari manusia biasa. Namun, mengapa mereka tidak stres atau depresi?
Jawabannya terletak pada sikap mental. Ibarat sebuah kapal, tekanan hidup adalah ombak besar di lautan. Kapal yang karam bukan karena dikelilingi air, melainkan karena membiarkan air masuk ke dalam lambungnya.
Para Nabi memiliki “lambung jiwa” yang rapat karena mereka mengenal Allah dan hidup dengan petunjuk-Nya.
Dalam menghadapi tekanan, manusia terbagi dalam beberapa golongan:
- Pesimis: Mereka yang langsung lemas, putus asa, hingga kehilangan keinginan untuk hidup.
- Apatis: Mereka yang pasrah tanpa daya karena memandang gelap masa depan.
- Optimis: Mereka yang berusaha bangkit dengan logika manusiawi.
- Mutawakkil: Inilah sikap terbaik. Ia optimis, ia berusaha maksimal, lalu ia tawakkal (menyerahkan hasil akhir) kepada Allah.
Al-Qur’an sebagai Pusat Kesehatan (Healing Center)
Bagi kita yang hidup di masa kini, kuncinya adalah menata ulang (re-setting) cara pandang kita terhadap Al-Qur’an. Allah SWT menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah obat (syifa) dan rahmat bagi orang beriman (QS. 17:82).
Al-Qur’an bukan sekadar bacaan ritual, melainkan pusat kesehatan lahir dan batin.
Jika tubuh yang lelah butuh istirahat, maka jiwa yang sesak butuh Al-Qur’an untuk mendapatkan kembali energi iman dan kejernihan pikiran.
Ibn Katsir menjelaskan bahwa orang yang kembali pada Al-Qur’an akan jauh dari keraguan, kemunafikan, dan perselisihan hati. Al-Qur’an menyembuhkan akar dari segala stres tersebut.
Sintesis Solusi: Pulang ke Al-Qur’an
Stres bisa diatasi dengan cara “mempertemukan” jenis problem kita dengan petunjuk ayat demi ayat. Al-Qur’an adalah kompas di tengah badai. Saat kita merasa sempit karena utang, Al-Qur’an bicara tentang kelapangan setelah kesulitan. Saat kita dikhianati manusia, Al-Qur’an mengingatkan bahwa hanya Allah tempat bergantung.
Dengan melakukan sintesis antara masalah hidup dan petunjuk wahyu, kita akan menemukan hikmah. Insya Allah, penyakit hati akan terkikis, dan kita mampu menghadapi tekanan tanpa kehilangan harapan serta keimanan kepada Allah SWT.
Oleh karena itu pulanglah kepada Al-Qur’an, karena di sanalah ketenangan bermuara.*


