• Home  
  • Jangan Tertekan oleh Masa Lalu
- Kajian Utama

Jangan Tertekan oleh Masa Lalu

Berapa banyak orang yang setiap harinya terhantui rasa sedih? Bukan karena ia sedang melakukan keburukan hari ini, melainkan karena terus dibayangi oleh kesalahan masa lalu. Bersedih dan menyesal itu memang perlu sebagai bentuk evaluasi diri, namun kita tidak boleh larut dalam kondisi tersebut. Kita harus bangkit, membangun tekad untuk melangkah maju, dan percaya sepenuhnya kepada […]

Jangan Tertekan oleh Masa Lalu

Berapa banyak orang yang setiap harinya terhantui rasa sedih? Bukan karena ia sedang melakukan keburukan hari ini, melainkan karena terus dibayangi oleh kesalahan masa lalu. Bersedih dan menyesal itu memang perlu sebagai bentuk evaluasi diri, namun kita tidak boleh larut dalam kondisi tersebut.

Kita harus bangkit, membangun tekad untuk melangkah maju, dan percaya sepenuhnya kepada ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tiada bertepi.

“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS Az-Zumar [39]: 53).

Ayat ini memberikan ruang bernapas sekaligus pesan yang tegas bahwa Allah Maha Mengetahui kondisi setiap hamba-Nya.

Ada kalanya seseorang merasa tertekan oleh rasa bersalah, takut jika dosa-dosanya tidak mendapat ampunan Allah. Namun, Allah sendiri yang menegaskan agar kita tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Bahkan, Allah berkuasa mengampuni seluruh dosa atas kehendak-Nya.

Dalam kitab tafsir Mafatihul Ghaib, Imam Fakhruddin ar-Razi menjelaskan bahwa ayat ini merupakan kabar gembira bagi siapa saja yang merasa hidupnya pernah bergelimang dosa.

Senada dengan hal tersebut, Tafsir Al-Muyassar menerangkan bahwa Allah akan mengampuni dosa hamba-Nya sebanyak apa pun itu, asalkan ia mau bertobat dan sungguh-sungguh meninggalkannya.

Berhenti Meratap, Mulai Memperbaiki

Jika kita telusuri lebih dalam, ayat tersebut mendorong kaum Muslimin untuk tidak berhenti melakukan perbaikan. Jangan sampai rasa bersalah di masa lalu justru membuat kita enggan beribadah. Begitu pula, jangan sampai ketakutan yang berlebihan membuat kita kehilangan arah dan kembali terjatuh ke lubang yang sama.

Hal paling utama yang harus kita lakukan adalah terus memperbaiki diri. Singkirkan perasaan pesimis dan ketakutan yang sia-sia.

Fokuslah pada upaya nyata untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Jauh lebih bijak jika kita menyibukkan diri dengan memahami Al-Qur’an daripada terus-menerus meratapi kesalahan tanpa ada tindakan nyata untuk berbenah.

Hidup akan terasa jauh lebih indah jika kita berusaha melakukan kebaikan demi kebaikan tanpa terbebani masa lalu.

Bagaimanapun, nilai seorang manusia terletak pada niat dan tindakannya saat ini. Oleh karena itu, mari terus melatih kesucian niat dan memastikan setiap langkah kita adalah bentuk pengabdian kepada-Nya.

Membangun Fondasi Takwa

Langkah paling strategis untuk bangkit adalah dengan membangun takwa di dalam jiwa. Allah menjanjikan kemudahan bagi mereka yang bertakwa:

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS At-Talaq: 2-3).

Maka, alangkah baiknya jika kita memfokuskan energi, waktu, dan kesempatan yang ada untuk memupuk ketakwaan.

Mulailah dari hal-hal sederhana, seperti menebar senyum kepada sesama atau berinfak meski dalam jumlah sedikit. Selain itu, latihlah diri agar tidak mudah marah ketika ada orang lain yang mengusik atau mengungkit masa lalu kita.

Pada akhirnya, merasa hina di hadapan Allah adalah hal yang baik, karena sejatinya kita bukanlah siapa-siapa tanpa pertolongan-Nya. Namun, tetaplah bersemangat dan terus maju dalam kebaikan. Mari tatap masa depan dengan penuh optimisme. Kita perkuat dengan iman dan amal saleh.*

Mas Imam Nawawi