“Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas,” – Bung Hatta.
Semalam saya menjadi narasumber dalam event zoom Pemuda Hidayatullah NTB. Satu pertanyaan peserta adalah bagaimana meningkatkan kesukaan membaca.
Nah, ini pertanyaan tepat. Karena salah satu karakter utama pemuda adalah senang membaca. Layaknya balita, mereka mengeksplorasi apa pun di sekitarnya dengan rasa ingin tahu. Namun, apa jadinya jika pemuda kehilangan semangat membaca? Kondisinya serupa petani yang malas. Tidak membaca di usia muda sama dengan tidak menanam benih.
Pepatah lama mengingatkan, “menanam padi pun rumput bisa tumbuh.”
Bayangkan jika kita sengaja membiarkan rumput liar menguasai lahan tanpa pernah menabur padi. Mungkinkah kita mengharap panen saat musim tiba?
Sungguh, tanpa bacaan, pikiran pemuda hanya akan berisi semak belukar informasi yang tak berguna. Seperti kita ketahui, banyak anak muda energinya besar tapi pendayagunaannya salah arah. Apa yang bisa kita harapkan?
Diskursus literasi belakangan ini memotret realita pahit bagi bangsa Indonesia. Kita menempati urutan ke-61 dari 63 negara dalam hal kegemaran membaca. Konon, hanya satu dari seribu orang yang tekun membaca buku atau berita. Namun, literasi bukan sekadar angka di atas kertas.
Membaca punya dimensi luas: membaca Al-Qur’an hingga membaca kondisi zaman. Kita tak perlu sekadar risau pada statistik. Saat ini, kita membutuhkan aktivitas membaca yang berlandaskan Iqra’ Bismirabbik—membaca dengan nama Tuhanmu.
Ilmu dan Amal
“Ilmu bukanlah apa yang dihafal, tetapi yang memberikan manfaat,” – Imam Syafi’i.
Dalam Islam, membaca adalah cara menemukan bekal hidup untuk menggerakkan amal kebaikan. Kita membaca bukan untuk merasa paling hebat atau mengelabui orang lain dengan kecerdasan semu. Membaca seharusnya menjadi cermin untuk mengenali diri agar hidup penuh akhlak.
Landasan Bismirabbik menyadarkan kita tentang kebutuhan hakiki: ilmu dan amal. Keduanya ibarat dua sayap burung; mustahil kita terbang tinggi jika salah satunya patah. Orang yang berilmu tinggi namun minim amal menunjukkan bahwa proses membacanya belum berjalan dengan benar.
Nilai manusia di hadapan Allah terletak pada amalnya, terutama amal hati. Ketulusan hati mustahil hadir jika nafsu menjadi bahan bakar utama saat kita membaca. Mari jadikan buku sebagai nutrisi jiwa, bukan sekadar pemuas ego. Mulailah membaca sekarang, sebelum lahan pikiranmu terlanjur gersang.
Menabung Bacaan Menjemput Masa Depan Gemilang
Membaca adalah investasi yang tak pernah merugi. Setiap lembar yang kita baca hari ini adalah benih yang akan tumbuh menjadi pohon kebijaksanaan di masa depan.
Jangan biarkan hari berlalu tanpa nutrisi ilmu, karena kualitas amal kita sangat bergantung pada kedalaman bacaan kita. Mari membaca untuk memahami, bukan sekadar tahu, demi hidup yang lebih berarti.*


