Kenapa kata kunci seakan punya magnet tersendiri? Karena tidak ada rumah yang tak punya pintu. Dan, setiap pintu pasti memiliki kunci untuk mudah kita keluar dan masuk ke dalam rumah. Seperti rumah, begitupun kesuksesan: ada pintu dan kuncinya tersendiri.
Pertanyaannya manusia yang mana yang akan meraih sukses?
Ada banyak argumen yang coba memberikan penjelasan. Karena sukses memang sebanyak persepsi manusia yang hidup saat ini. Namun, sukses sejati bukan bersumber dari subjektivitas manusia. Melainkan dari apa yang menjadi cahaya dari Allah SWT untuk umat manusia.
Salah satu cahaya itu adalah pentingnya setiap manusia mengenal siapa sesungguhnya dirinya sebagai manusia.
Sukses Berubah
Secara teoritis, siapapun akan bisa melakukan perubahan mendasar dalam hidupnya sejauh ia memahami, siapa sebenarnya dirinya sebagai manusia.
Apakah kita manusia seperti anggapan para filsuf kuno di Yunani. Manusia adalah makhluk yang berakal, berbicara. Kemudian manusia adalah hewan ekonomi dan hewan politik, serta hewan-hewan lainnya.
Kalaupun sebagai hewan, mengapa manusia lebih buas dari binatang. Hutan hancur, alam rusak dan manusia memakan manusia yang lain. Mengapa manusia kadang lebih ganas dari hewan buas?
Selamanya manusia akan memandang ekonomi sebagai tuhan kalau ia tidak berhasil melakukan perubahan.
Salah satu gerbang untuk sukses berubah adalah dengan mengenali dirinya sebagai makhluk (ciptaan) Allah. Yang Allah telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Sebuah fakta mendasar bahwa tidak ada kemuliaan satu manusia dengan yang lain berdasarkan nilai apapun, selain takwa.
Harta, jabatan dan pengaruh adalah ilusi sosial. Ia seperti ada namun ia bisa cepat tiada. Dan, ketika tiada, tampaklah bahwa manusia sebenarnya tidak punya daya apa-apa.
Dalam Islam semua yang palsu memang menyilaukan, tapi siapa yang tersipu akan hal itu, segera akan merasakan derita berkepanjangan.
Ketika Ilusi Sosial Menghantam Realitas Jiwa
Untuk menguatkan argumentasi ini, mari kita cermati dua fenomena yang dialami hampir setiap orang di kehidupan modern, yang membuktikan rapuhnya sukses yang berdasar pada ilusi:
Pertama, Krisis di Puncak Karir (Fenomena Kehampaan Pensiunan):
Lihatlah mereka yang sudah mencapai puncak piramida karier—memegang jabatan direktur, memiliki aset miliaran, dan dihormati publik. Namun, ketika mencapai usia 45 atau 55 tahun, atau saat memasuki masa pensiun, tiba-tiba muncul kekosongan batin yang mengerikan. Pertanyaan mendasar muncul: “Untuk apa semua ini?”
Hidup terasa kehilangan arti. Hal ini terjadi karena mereka membangun identitas dan suksesnya hanya pada jabatan dan pengaruh yang fana. Ketika ilusi itu dicabut (baik karena pensiun atau karena kondisi tertentu), jiwanya ikut runtuh karena gagal menemukan identitas sejati sebagai hamba Allah. Ini membuktikan bahwa definisi sukses yang murni materi tidak berkelanjutan.
Kedua, Kecemasan di Era Media Sosial (Arogansi dan Komparasi):
Kita hidup di tengah banjir informasi yang menampilkan highlight reel kehidupan orang lain—liburan mewah, pasangan sempurna, kesuksesan instan. Fenomena ini melahirkan kecemasan, rasa rendah diri, bahkan arogansi. Mereka yang merasa lebih unggul (“lebih kaya, lebih banyak followers) cenderung menyepelekan orang lain, bahkan melakukan perundungan (bullying).
Sikap arogansi ini adalah hasil dari lupa pada hakikat “segumpal darah.” Mereka terjerumus dalam ilusi perbandingan dan lupa bahwa kemuliaan tidak diukur dari jumlah like atau materi, melainkan ketakwaan yang luput dari pandangan manusia.
Kedua contoh di atas adalah bukti nyata bagaimana pengejaran sukses duniawi, tanpa pondasi tauhid, hanya menghasilkan penderitaan, baik berupa kehampaan batin maupun kebuasan sosial.
Menerima Cahaya
Mencermati semua itu maka tidak ada jalan lain kecuali kita berupaya menerima cahaya. Cahaya yang menunjukkan hakikat siapa manusia.
Segumpal darah menunjukkan manusia sangat dependen kepada Allah SWT. Hal itu juga mengindikasikan manusia tak layak bersikap arogan dan suka menyepelekan orang lain, sebab ia hanyalah makhluk lemah yang berasal dari sesuatu yang tidak bernilai.
Segumpal darah juga memberi makna bahwa nilai kemuliaan manusia bukan pada harta dan jabatan, tapi ketakwaan kepada Allah SWT. Dengan menerima ini, kita akan tenang dari kecemasan perbandingan sosial dan krisis identitas.
Lebih jauh, segumpal darah menandakan bahwa kita hanya akan selamat kalau tunduk kepada yang Maha Menciptakan. Termasuk menciptakan manusia dari segumpal darah. Mengapa ini Allah SWT sampaikan kepada kita sebagai manusia? Agar kita tidak lupa akan asal muasal dan menyiapkan diri bagaimana hidup yang sesungguhnya.
Hidup yang sesungguhnya bahagia, sebenarnya sukses dan sejatinya meraih ketenangan. Sebab manusia, meski sehari-hari butuh makan nasi, jiwanya sangat butuh akan cahaya dari Ilahi.*


