Sepulang dari rumah, Rizki yang biasanya tersenyum berubah cemberut. Langkahnya gontai, tatapan matanya kosong. Ia terduduk seperti tawanan yang tertangkap musuh bebuyutan. Tak ada reaksi berarti, tak lagi ada harapan. Rozak sang kakak yang baru saja lulus perguruan tinggi diam-diam mengamati tingkah adiknya itu. “Saya seperti kehilangan semua semangat. Soalnya pas lagi menjelaskan hasil belajar saya selama ini, tiba-tiba ada yang nyeletuk. ‘Sok pinter, kamu.” Rizki mengungkapkan isi hatinya setelah Rozak mendekati dengan wajah yang ingin menanyakan pokok soal dalam pikiran Rizki. Rozak pun bertanya singkat, “Mengapa celetukan itu harus meruntuhkan semangat yang kamu rawat?”
Rizki seperti tersadar, matanya kembali punya harapan. Ia pun bangkit dan memeluk kakaknya yang terkenal filosofis itu. “Terimakasih, Kak. Kenapa saya lupa menggugat dengan pertanyaan seperti itu?”
Filosofi Perahu Tenggelam
Seringkali manusia mudah goyah ketika menghadapi kondisi yang tak sesuai harapan. Kasus Rizki itu salah satu contoh, bagaimana ia langsung tumbang karena omongan negatif orang lain. Padahal ia bisa merespon secara santai atau bahkan tak perlu memikirkannya sama sekali.
Ada filosofi perahu tenggelam, yang sangat penting menjadi pemahaman kita semua dalam interaksi kehidupan. Bahwa selama perahu pada posisinya, berada di atas air, maka perahu bisa berguna dengan baik. Akan tetapi, begitu kita membiarkan lubang pada perahu, apalagi sampai melubangi sendiri, maka air akan masuk. Air yang masuk ke dalam perahu itulah ucapan buruk orang lain tentang atau kepada kita. Jika kita biarkan masuk, lama-lama perahu akan tenggelam.
Kalau perahu sudah tenggelam, maka tidak ada lagi harapan untuk bisa berfungsi dengan baik. Begitu pun hati manusia, kalau ia menelan ucapan buruk orang lain, sebagai hal yang menyakitkan dan mengganggu maka kita akan tenggelam. Tetapi kalau kita bisa menyaring, mengabaikan, dan membiarkan itu sebatas ucapan belaka, maka kita tidak akan mengalami gangguan apapun.
Pengganggu
Kita semua tentu menyadari fenomena itu, “pengganggu”. Orang seperti itu akan selalu ada. Jangankan pada era kita, era Nabi Muhammad SAW pun ada.
Namun, tugas kita tetap pada kebaikan, menekuni kebermanfaatan sebagai dedikasi hidup (ibadah) kepada Allah. Kita tak perlu merisaukan ucapan orang-orang yang memang tidak berdasar pada ilmu atau pun kebenaran.
Kita bisa bayangkan, Nabi Muhammad SAW pun mendapat cemoohan orang-orang kafir sebagai orang gila, tukang sihir dan lain sebagainya. Tapi apakah mungkin Nabi Muhammad SAW gila? Mustahil! Ucapan-ucapan itu hanya keluar dari lisan orang yang tidak pernah mau berpikir.
Begitu pun kalau kita mendapat hinaan orang lain, apakah hinaan itu otomatis menjadi fakta dalam hidup kita? Tentu tidak. Jadi biarkan saja. Lebih baik kita berupaya untuk tenang dan tidak terpancing emosi oleh lisan orang yang memang negatif.
Introspeksi
Lebih dalam, kepada siapapun yang suka menghina, jika kegiatan buruk itu tidak segera dihentikan, maka peluang untuk hidup lebih baik menjadi tertutup.
Setiap waktu adalah kesempatan memperbaiki diri. Kita tidak akan sampai pada posisi dan kondisi lebih baik kalau lisan lebih suka mengurus urusan orang lain apalagi sampai menghina dan mengganggu serta menjatuhkan martabat orang lain.
Dalam kondisi seperti itu yang rugi bukan orang yang kalian hina, tapi kalian sendiri. Karena kesempatan untuk menjadi lebih baik benar-benar kalian abaikan.
Rasulullah SAW bersabda, “Seorang hamba tidak akan mencapai iman yang sempurna hingga dia menjaga lisannya dari perkataan yang batil dan tidak bermanfaat.” (HR. Thabrani).
Oleh karena itu, bagi kita yang dapat hinaan, tetap tenang. Hinaan orang tak akan mengubah nasib kita menjadi lebih buruk, kecuali kita merespon dengan salah. Pun, seseorang tidak akan mulia karena banyak menghina. Kemuliaan setiap jiwa kata Allah ada pada takwanya. Jadi, buat apa tumbang karena cacian orang?*


