Arus modernisasi menghantam tanpa henti. Dahulu keterbatasan memang menghambat kemajuan. Tapi kini banjir informasi merusak kesehatan, kesehatan mental secara khusus. Selain itu, derasnya gelombang ini, membuat mahasiswa Muslim menghadapi ujian berat: mempertahankan integritas spiritual atau larut dalam derasnya perubahan zaman.
Kalkulasinya pun tidak mudah. Pakai timbangan spiritualitas artinya harus siap hidup dengan tangan kosong. Mengikuti arus, mungkin tangan bisa menggenggam, tapi hati bisa terkena longsor keyakinan. Dilema dan benar-benar sulit untuk mengambil atau melepas.
Singkatnya posisi ini menempatkan mahasiswa pada persimpangan jalan. Mereka bukan sekadar individu yang duduk di bangku kuliah untuk menuntut ilmu.
Lebih dari itu, mereka memikul beban sejarah sebagai calon pemimpin masa depan. Masyarakat menanti lahirnya sosok yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh dalam karakter dan moral.
Minimnya Pembinaan
Sayangnya, realitas sering kali tak seindah harapan. Akar persoalan dari rapuhnya karakter mahasiswa hari ini adalah minimnya ruang pembinaan yang menyentuh aspek moral dan spiritual secara sistematis.
Kita membutuhkan wadah yang mampu mengintegrasikan kecerdasan akal, ketajaman hati, dan kepekaan sosial dalam satu tarikan napas.
Jejak Mentalitas Bung Karno
Saya teringat momen saat berdiri memberikan orasi kebangsaan di hadapan peserta Next Gen Leader (NGL) Gerakan Mahasiswa Hidayatullah. Acara tersebut menghimpun mahasiswa-mahasiswa dari DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Di sana, saya mengajak mereka menyelami kembali jejak hidup Proklamator RI, Bung Karno.
Bung Karno adalah representasi anak muda yang menolak merasa kerdil. Ia memancarkan mentalitas penakluk. Meski hidup di bawah tekanan kolonial, ia membangun cita-cita dan cara berpikir yang setara, bahkan melampaui orang-orang Eropa, khususnya Belanda.
Semangat itulah yang membakar dirinya untuk terus menimba ilmu, menempa karakter, dan mencintai negerinya tanpa syarat. Bung Karno tidak menunggu keajaiban; ia menciptakan momentum.
Bukan Sekadar Harapan
Mentalitas Bung Karno ini mengingatkan saya pada sebuah dialog dalam film bertema intelijen. Ada satu kalimat menohok yang patut kita renungkan: “Hidup tidak bisa bergantung pada harapan. Tetapi bagaimana kita punya rencana dan sudahkah kita menjalankan rencana itu sebaik mungkin.”
Kutipan ini relevan bagi mahasiswa Muslim hari ini. Menyongsong Indonesia Emas 2045, kita tidak bisa hanya bermodal doa dan harapan kosong.
Mahasiswa Muslim harus memiliki blueprint hidup yang jelas. Kalian harus berani menetapkan standar tinggi: menjadi lebih unggul dalam pemikiran, lebih mulia dalam akhlak, dan lebih tangguh dalam sikap.
Integritas nilai-nilai keislaman adalah kompas, sedangkan kompetensi adalah layar. Gabungkan keduanya, maka kalian tidak hanya akan bertahan di tengah badai zaman, tetapi justru akan memimpin arah perubahan bangsa ini. Insya Allah.*


