Bukan sekali atau dua kali, orang yang datang menemuiku dan mereka mengungkapkan hatinya yang retak. Retak karena ada miskomunikasi. Bahkan terbelah karena misunderstanding. Apakah fenomena mudah retak ini biasa dan terus kita anggap biasa? Lalu bagaimana dengan prinsip bahwa kita harus terus memperbaiki hati?
Menjawab fenomena itu kita perlu memahami dua prinsip utama dalam pergaulan. Pertama, prinsip persaudaraan. Kedua, prinsip kekuatan.
Begitu pentingnya persaudaraan Allah menegaskan bahwa beda kulit, beda suku dan beda bahasa bukan penghalang persaudaraan. Sebab sejatinya persaudaraan itu basisnya iman.
Kemudian tentang keberhasilan, tidak akan bisa kita raih tanpa persatuan. Maka Allah menegaskan bahwa cinta-Nya melimpah kepada orang yang berbeda pikiran, pakaian, latar belakang, karakter dan lain sebagainya, tapi komitmen pada satu tujuan: ketakwaan.
Ironisnya, manusia sering lupa dengan dua prinsip itu. Alhasil, meski punya kebiasaan baik, tapi soal hati mereka seperti “bermusuhan”. Nah inilah bagian yang mungkin masih menjadi hambatan mengapa umat Islam sulit tampil sebagai kekuatan yang menentukan.
Mengokohkan Bangunan dengan Semen Kasih Sayang
Oleh karena itu, kita wajib menengok kembali kondisi batin kita secara jujur. Kita seringkali terlalu sibuk memoles tampilan luar. Kita tampil rapi, bertutur kata manis, dan terlihat religius. Namun, kita kerap abai pada gemuruh ego di dalam dada.
Padahal, ego itulah penyebab utama keretakan. Ego membuat kita merasa paling benar. Sifat ini kemudian menutup pintu maaf bagi saudara yang khilaf.
Mari kita bayangkan sebuah analogi sederhana tentang bangunan tembok. Sebuah tembok yang kokoh tersusun dari ratusan batu bata. Batu-batu itu memiliki bentuk dan tekstur yang keras. Jika tukang bangunan hanya menumpuk batu-batu itu tanpa perekat, apa yang terjadi? Batu-batu itu akan saling bergesekan. Gesekan antar permukaan yang keras pasti menimbulkan bunyi bising. Lama-kelamaan, gesekan itu memicu keretakan dan akhirnya bangunan itu runtuh.
Sebaliknya, tukang bangunan yang cerdas akan memberi semen di antara batu-batu itu. Semen itu bersifat lunak, cair, dan mengisi celah kosong. Semen itulah tamsil dari kasih sayang dan kelembutan hati. Kelembutan ini meredam kerasnya karakter individu yang berbeda-beda. Ia mencegah gesekan berubah menjadi permusuhan. Saat batu bata mau “mengalah” memberi ruang bagi semen, mereka justru menyatu menjadi kekuatan yang tak tertandingi.
Begitulah seharusnya kita merawat hati dalam pergaulan. Kita tidak boleh membiarkan hati mengeras seperti batu tanpa semen. Kita harus senantiasa melunakkan hati dengan dzikir dan muhasabah. Selanjutnya, kita perlu menyiramnya dengan air pengertian. Tanpa elemen perekat ini, umat Islam hanya akan menjadi kerumunan yang bising, bukan barisan yang kokoh.
Menjadi Akar yang Menghidupkan Peradaban
Sampai di sini, kita mengerti bahwa memperbaiki hati adalah proyek seumur hidup. Kita tidak bisa berhenti hanya karena merasa sudah “cukup baik”. Setan selalu mencari celah untuk meniupkan prasangka. Maka, kewaspadaan menjaga hati harus terus menyala setiap saat. Jangan biarkan noda hitam sekecil apapun bersarang nyaman di sana. Segera bersihkan dengan istighfar.
Sebagai penutup, renungkanlah metafora tentang pohon kehidupan. Hati ibarat akar yang tersembunyi jauh di dalam tanah. Orang-orang memang lebih sering memuji daun yang rimbun. Mereka juga lebih suka menikmati buah yang manis. Jarang sekali orang peduli pada akar yang kotor bergelut dengan tanah. Namun, ketahuilah satu hal.
Jika akar itu busuk, daun akan mengering dan pohon raksasa itu pasti tumbang. Kekuatan umat ini tidak terletak pada sorak sorai kemeriahan di permukaan. Kekuatan sejati bersembunyi pada kualitas hati para pemeluknya.
Hati yang ikhlas akan menyuplai nutrisi bagi seluruh gerak tubuh. Hati yang bersih akan mengalirkan energi kebaikan ke seluruh penjuru kehidupan.
Jadi, mulailah fokus merawat akar itu sekarang. Biarkan ia menancap kuat menghujam bumi ketakwaan. Jangan pedulikan penilaian manusia yang hanya melihat “daun”. Berisik dan tidak berguna.
Dengan demikian tugas kita hanyalah memastikan akar itu tetap sehat dan kuat. Sebab, hanya dengan akar yang kuat, kita mampu menghadapi badai zaman yang kian kencang.*


