Jumat (26/12/2025), roda kendaraan membawa saya menyusuri jalanan Aceh Tamiang. Tujuan saya mengarah ke kawasan Babo. Yang mana itu adalah salah satu kecamatan yang ada di Aceh Tamiang. Waktu shalat Jumat tiba. Saya pun melihat wajah-wajah polos anak-anak. Warga duduk khusyuk. Mereka menikmati siraman ruhani dari khatib di Masjid Al-Hidayah.
Selepas salat Jumat saya dan teman-teman Laznas BMH berdialog dengan sosok humoris yang ramah kepada kami. Dan, sebuah kalimat menggetarkan hati saya.
“Indahnya Islam itu begini ternyata.”
Kalimat itu meluncur tulus dari lisan Pak Ruslan. Beliau adalah Ketua DKM Masjid Al-Hidayah. Dan bagiku kata-kata sederhana itu menyimpan makna mendalam tentang persaudaraan.
Kecemasan yang Berubah Menjadi Harapan
Selanjutnya, Pak Ruslan bercerita dengan emosional. Ia mengenang detik-detik awal bencana melanda desanya.
“Terus terang, kami bingung. Pikiran kami tak menentu,” ungkapnya membuka percakapan.
Kemudian ia menggambarkan situasi saat air terus naik setiap jam. Bayangan kelaparan pun bahkan menghantui benak mereka. Ketakutan rumah rusak atau hilang merasuki pikiran. Warga merasa sendirian menghadapi takdir ini. Namun, skenario Allah berbeda. Namun ketakutan terburuk itu tidak terjadi sepenuhnya. Secara keseluruhan kasih sayang Allah lebih luas dari besarnya arus banjir yang melanda.
Gelombang Solidaritas Tanpa Batas
Berbicara tentang persaudaraan, bukti nyata pun akhirnya tiba.Dua hari pascabencana, keajaiban sosial terjadi. Banyak orang datang membawa bantuan logistik. Pada saat yang sama ada donatur yang datang jauh dari Lampung. Ada pula rombongan dari Jakarta. Termasuk, teman-teman relawan BMH hadir di tengah mereka. Bahkan BMH terus membersamai mereka hingga kini.
“Kami tak tahu, BMH masuk. Mereka bilang akan bersihkan masjid ini,” lanjut Pak Ruslan dengan mata berbinar.
Alhasil aksi cepat itu memberi dampak instan. Masjid kembali bersih. Sekarang warga bisa melaksanakan shalat dengan nikmat kembali. Sehubungan dengan hal itu, fakta itu mengubahkebingungan mereka sebelumnya, menjadi kesyukuran.
Yang paling penting, kini masjid menjadi pusat kegiatan masyarakat, mulai ibadah hingga makan bersama untuk siang hari. Bahkan setiap ada bantuan baru datang, alamatnya jelas ke masjid.
Persaudaraan yang Menyembuhkan Luka
Oleh karena itu peristiwa ini melahirkan renungan mendalam bagi Pak Ruslan. Ia menemukan esensi ajaran agama justru di saat paling sulit. Bencana banjir membuka mata hatinya tentang kekuatan ukhuwah.
“Akhirnya saya berpikir. Ternyata inilah indahnya Islam. Saat kami sakit, saudara lain datang membantu,” ucapnya lirih.
Suaranya tertahan. Kelopak matanya basah oleh air mata. Tangis itu bukan karena sedih. Itu adalah air mata syukur.
Ia menyaksikan bukti nyata bahwa dalam Islam, tidak ada penderitaan yang harus kita pikul sendirian. Bantuan ini lebih dari sekadar materi. Ini adalah penguat jiwa bagi mereka yang sedang rapuh.*


