Menghadapi bencana ekologis yang masyarakat Aceh Tamiang – saya baru hadir menyaksikan satu titik ini – alami bukan perkara mudah. Sebagaimana jamak orang ketahui, bencana bukan hanya merusak bangungan, tetapi juga meninggalkan puing-puing tak kasatmata dalam jiwa manusia. Meski begitu upaya untuk terus tumbuh agar kembali pulih dan bangkit perlu kita upayakan bersama.
Laznas BMH sendiri telah menutup lembaran tanggap darurat menuju masa recovery dengan menyiapkan program “Kampung Inspirasi” yang berlokasi di Desa Seumadam alias Kampung Rel.
Kampung Inspirasi menandakan bahwa warga setempat mulai sadar bahwa mereka perlu gotong royong dan melakukan hal-hal baik secara inspiratif. “Kami juga menyiapkan trauma healing dengan mendatangkan storyteller yang akan menjadi aktor utama dalam program Indonesia Bercerita,” ungkap Kadep Kreator BMH Pusat, Rohsyandi Santika (30/12).
Lebih Dalam Tentang Puing-puing Tak Kasatmata
Sebagian orang mungkin memahami langkah Laznas BMH itu dengan mendalam, tapi mungkin masih ada yang baru sampai pada pemahaman biasa.
Program Kampung Inspirasi itu menjadi urgen karena puing-puing tak kasatmata itu memang ada. Bentuknya bisa hilangnya harapan. Kemudian muncul rasa tidak aman. Bahkan bisa memicu trauma berkepanjangan. Ibu Baiti, warga setempat juga menuturkan mulai ada gejala warga yang stres akibat kondisi yang memang tidak bisa berubah cepat.
Sebagai sebuah fakta, itulah yang sekarang terjadi dalam jiwa dan kehidupan warga penyintas bencana. Sementara umumnya orang mudah berkonsentrasi untuk memberi perhatian pada masa evakuasi, distribusi logistik atau rekonstruksi infrastruktur. Padahal warga juga butuh rekonstruksi suprastruktur, yakni bangunan jiwa yang kokoh dan tangguh.
Mengapa suprastruktur itu penting? Tidak lain karena warga bisa terjebak mimpi buruk, kecemasan berlebih, penarikan diri dari lingkungan sosial, hingga perasaan bersalah karena dirinya masih selamat. Pada sebagian orang, trauma itu bisa cepat sembuh. Namun sebagian yang lain, terutama yang kehilangan orang yang tersayang, mengalami langsung peristiwa yang mengancam nyawa, maka luka dapat menetap dalam diam.
Mengawal Pulih, Bukan Sekadar Menghapus Lumpur
Air mungkin sudah surut, dan lumpur yang mengering telah kita bersihkan dari dinding rumah. Namun, perlu kita sadari bahwa surutnya air bukanlah akhir dari perjuangan para penyintas.
Puing-puing tak kasatmata—luka jiwa, kecemasan, dan hilangnya harapan—tidak bisa disapu dengan kain pel atau dibangun kembali dengan semen dan batu bata.
Mendukung warga Aceh Tamiang saat ini bukan lagi soal mengirim mie instan atau selimut, melainkan soal hadir menemani mereka membangun kembali “bangunan jiwa” yang runtuh.
Kita tidak boleh berhenti hanya karena bencana sudah tidak lagi menghiasi layar televisi. Sebab, selama rasa trauma masih membayangi setiap tidur mereka, selama itu pula dukungan kita tetap menjadi urgen. Mari terus membersamai mereka, karena pulih yang sejati butuh waktu, kasih, dan ketulusan yang tak terputus.
Seperti yang Anin (15) rasakan, ketika mendapat pertanyaan: “Apa perasaanmu kalau Sekolah Ceria dari BMH ini selesai?”
Ia menarik nafas panjang, bola matanya ke kanan dan kekiri. Namun bibir masih belum mengucapkan kata-kata. Ia tak menjawab, tapi air mata telah menggenangi kelopak matanya. Saya pun tidak menuntut ia menjawabnya dengan lisan. Karena matanya telah berbicara.*


