Mas Imam Nawawi

- Artikel

Sinergi Muda, Hikmah Tua

Dalam buku berjudul “Buya Hamka” (karya Imron Mustofa), ada pesan mendalam mengenai keseimbangan hidup. Menurutnya, perjalanan hidup yang ideal lahir dari perpaduan antara gelora semangat kaum muda dengan renung pikiran orang tua. Pandangan ini bukan sekadar puitis, melainkan sebuah strategi jitu untuk mencapai kemajuan yang terukur. Saya sendiri pernah mendengar ada orang yang cukup senior, […]

Sinergi Muda, Hikmah Tua

Dalam buku berjudul “Buya Hamka” (karya Imron Mustofa), ada pesan mendalam mengenai keseimbangan hidup. Menurutnya, perjalanan hidup yang ideal lahir dari perpaduan antara gelora semangat kaum muda dengan renung pikiran orang tua. Pandangan ini bukan sekadar puitis, melainkan sebuah strategi jitu untuk mencapai kemajuan yang terukur.

Saya sendiri pernah mendengar ada orang yang cukup senior, berusia 60 tahun, menyampaikan rasa ragunya terhadap anak muda. Kata dia anak muda sekarang tidak seperti masanya kala muda. Tapi, saya coba merespon dengan tenang dan diam sambil terus mencoba mencerna.

Dan, kalau kembali pada pandangan Buya Hamka, rasanya khawatir boleh, tapi jangan terus khawatir. Kapan membangun sinerginya.

Bukankah kalau melihat cerita dalam Alquran, yang senior, selalu aktif mempertegas orientasi hidup generasi mudanya. Seperti Nabi Ya’kub kepada putra-putranya, beliau tegas menanyakan, siapa yang akan kalian sembah setelah kepergianku. Seluruh anaknya menjawab, “Allah”.

Analogi Gadget Modern

Bayangkan sebuah ponsel pintar (smartphone) terbaru. Gelora kaum muda adalah prosesor (CPU) yang sangat kencang, memungkinkan aplikasi berjalan kilat.

Namun, renung pikiran orang tua adalah Sistem Operasi (OS) yang stabil dan matang. Tanpa prosesor kencang, ponsel akan lambat (stagnan).

Sebaliknya, tanpa OS yang stabil, ponsel akan sering mengalami crash atau overheat (ceroboh). Hidup membutuhkan keduanya agar tetap produktif sekaligus berumur panjang.

Mengapa Harus “Gila” dan Progresif?

Meskipun menekankan keseimbangan, Hamka tetap mendorong kaum muda untuk berani bertindak progresif, bahkan cenderung “gila”.

Dalam konteks sains, hal ini selaras dengan fakta neurologis. Penelitian dari University College London menunjukkan bahwa bagian otak prefrontal cortex pada anak muda memiliki plastisitas tinggi. Kondisi ini membuat mereka lebih berani mengambil risiko dibandingkan orang tua.

Namun, keberanian ini seringkali membutuhkan kemudi. Oleh karena itu, sinergi dengan pengalaman orang tua menjadi krusial. Pengalaman berfungsi sebagai “rem” atau “peta” agar keberanian tersebut tidak berujung pada kehancuran sia-sia.

Fakta Sejarah dan Modernitas

Sejarah membuktikan bahwa perubahan besar selalu dipicu oleh keberanian yang “gila”. Sumpah Pemuda tahun 1928 adalah bukti nyata progresivitas anak muda Indonesia.

Di era digital, lahirnya perusahaan rintisan (startup) raksasa seringkali berawal dari ide yang dianggap mustahil oleh generasi sebelumnya.

Dengan demikian, menjadi progresif bukan berarti mengabaikan nasihat. Sebaliknya, kaum muda harus menggunakan energi mereka untuk mendobrak pintu-pintu baru. Namun, mereka tetap memerlukan hikmah dari masa lalu agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Kunci Keberhasilan

Perpaduan antara aksi dan refleksi adalah kunci keberhasilan. Kita tidak boleh hanya menjadi pengamat yang penuh pertimbangan tanpa tindakan. Di sisi lain, kita tidak boleh menjadi pelari cepat yang kehilangan arah.

Oleh karena itu, ambillah semangat “gila” untuk berinovasi, tetapi jangan lupakan cermin sejarah untuk menimbang langkah. Dengan cara inilah, keseimbangan hidup yang dicita-citakan dapat kita wujudkan. Begitulah Buya Hamka meninggalkan pandangan untuk kita. Tentu itu agar wajah umat Islam terus relevan dan cemerlang menebar cahaya kebaikan.*

Mas Imam Nawawi