Mas Imam Nawawi

- Artikel

Akar Pertumbuhan Kualitas Pribadi

Setiap orang ingin tampil hebat, namun sering kali luput menyadari bahwa kehebatan itu bermula dari hal yang tak terlihat, yakni akar. Sebagaimana Allah SWT menjadikan pohon sebagai pelajaran, akar adalah penentu utama mengapa batang bisa kokoh berdiri dan daun terus lahir memperindah suasana. Kualitas diri tidak muncul tiba-tiba; ia adalah hasil dari “akar” keyakinan dan […]

Akar Pertumbuhan Kualitas Pribadi

Setiap orang ingin tampil hebat, namun sering kali luput menyadari bahwa kehebatan itu bermula dari hal yang tak terlihat, yakni akar. Sebagaimana Allah SWT menjadikan pohon sebagai pelajaran, akar adalah penentu utama mengapa batang bisa kokoh berdiri dan daun terus lahir memperindah suasana.

Kualitas diri tidak muncul tiba-tiba; ia adalah hasil dari “akar” keyakinan dan prinsip yang menancap kuat di dalam jiwa, menjadi fondasi bagi segala pertumbuhan yang tampak di permukaan.

Cara berpikir kita harus meniru kinerja akar yang bekerja dalam sunyi namun berdampak nyata. Jika akar mampu bekerja dengan baik menyerap nutrisi dan lingkungan pun mendukung, maka proses pertumbuhan akan berjalan alami dan berkelanjutan.

Pola pikir ini tidak sibuk memoles citra luar semata, melainkan fokus memperkuat kapasitas internal dan menyerap kebaikan dari sekitar, memastikan bahwa diri ini siap untuk bertumbuh makin tinggi tanpa melupakan pijakan dasarnya.

Pada akhirnya, tindakan nyata adalah buah yang dinanti. Jika ukuran pohon dinilai bagus atau tidaknya dari buah yang dihasilkan, maka kualitas manusia pun sejatinya orang ukur berdasarkan kebermanfaatannya bagi kehidupan.

Pribadi yang berkualitas tidak hanya berhenti pada tumbuh besar untuk dirinya sendiri, melainkan memastikan keberadaannya memberikan “buah” kebaikan yang dapat dinikmati oleh orang lain, sebagai bukti sah dari akar yang sehat dan proses tumbuh yang benar.

Membaca Terus

Untuk menjadi pribadi berkualitas, kita tidak mungkin bisa menyelisihi bagaimana Allah mendidik Nabi Muhammad SAW. Iqra’ Bismirabbik, itulah kesadaran yang harus kita bangun.

Sebatas membaca biasa (tanpa bismirabbik) orang bisa maju dalam hal arsitektur, militer dan tata kota. Akan tetapi membangun pribadi yang bermanfaat “Bismirabbik” sungguh sangat kita butuhkan. Dalam konteks kekinian, orang bisa merencanakan kemajuan dengan membabat hutan, tapi apa yang terjadi saat musim hujan datang?

Tapi sebagai langkah awal, prinsip yang harus kita bangun adalah membaca terus agar akar dalam jiwa kita tetap kokoh. Intan Paramaditha, penulis yang novelnya akan mendunia tahun ini menegaskan bahwa untuk terus tumbuh dalam menulis kita tak boleh berhenti membaca. “Kelilingi dirimu dengan karya-karya yang kamu anggap terbaik,” pesannya seperti Tempo publikasikan.

Artinya kita harus aktif membaca, terus melahap pikiran-pikiran orang lain melalui karya-karyanya. Karena itu seperti air dan pupuk bagi akar yang penting untuk jadi nutrisi pertumbuhan.

Setelah itu, kita perlu menjadi pribadi yang bisa mengerti, merasakan dan melakukan. Dalam bahasa Ki Hajar Dewantara: “ngerti, ngroso, nglakoni.”

Berpikir

Ketika aktivitas membaca telah menjadi kegiatan utama kita dalam 24 jam, langkah berikutnya adalah berpikir. Buya Hamka mengatakan pemuda yang hebat itu adalah yang punya pendapat sendiri setelah sekian banyak dan sekian lama membaca. Kita tak boleh menjadi “Pak Turut” kata Buya Hamka. Termasuk hanya “menuruti” apa yang kita baca.

Hal itu menandakan bahwa kita mesti berpikir. Alasan utamanya ringkas, karena pemikiran pada masa dahulu belum tentu bisa kita terapkan pada masa kini apalagi masa mendatang. Dalam kata yang lain berpikir dalam konteks ini kita penting mampu menciptakan metode-metode relevan untuk mengubah kondisi hari ini dengan prinsip-prinsip nilai yang esensial dan universal.

Oleh karena itu, Alquran tidak semata berbicara tentang ibadah dalam arti shalat dan lain-lainnya. Tetapi juga menekankan pentingnya berpikir. Nah, berpikir itu adalah perawat akar terbaik bagi manusia untuk terus dalam jalan yang lurus.*

Mas Imam Nawawi