Mas Imam Nawawi

- Kajian Utama

Menyongsong Masa Depan, Bagaimana Caranya?

Berbicara masa depan rasanya setiap orang tertarik melakukannya, bahkan dengan cara yang mendalam. Namun, pernah kah kita sampai pada satu pemahaman mendalam, tentang masa depan yang sejati. Masa depan yang sejati bukan semata soal bagaimana nasib kita secara ekonomi dalam kehidupan dunia ini. Akan tetapi juga tentang bagaimana anak-anak kita ke depan. “Dan hendaklah takut […]

Menyongsong Masa Depan, Bagaimana Caranya?

Berbicara masa depan rasanya setiap orang tertarik melakukannya, bahkan dengan cara yang mendalam. Namun, pernah kah kita sampai pada satu pemahaman mendalam, tentang masa depan yang sejati.

Masa depan yang sejati bukan semata soal bagaimana nasib kita secara ekonomi dalam kehidupan dunia ini. Akan tetapi juga tentang bagaimana anak-anak kita ke depan.

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisa: 9).

Memahami Makna

Tafsir Al-Muyassar mendetailkan maksud ayat itu. Yakni kita takut anak-anak yang masih kecil dan lemah itu mengalami kezaliman, tidak terurus dan terlantar. Maka sikap kita adalah menguatkan akidah dalam diri dan jiwa anak-anak kita. Sembari mendorong mereka untuk menguasai alat-alat yang memungkinkan mereka bisa survive dalam hal ekonomi.

Dalam hal ini, cara terbaik untuk melahirkan generasi yang kuat adalah pendidikan. Meliputi pendidikan akidah, keprofesinalan dan keadaban.

Oleh karena itu ada tafsir lain yang meneguhkan maksud ayat itu secara lebih spesifik. Hal itu bersandarkan pada hadits Nabi Muhammad SAW.

“Maka sepertiga. Sepertiga itu sudah banyak. Sungguh Kamu tinggalkan ahli warismu dalam kondisi kuat secara finansial itu lebih baik daripada Kamu tinggalkan mereka dalam kondisi fakir meminta-minta orang lain dengan tangan mereka.” (HR. Al-Bukhari).

Realisasi

Belajar pada ayat itu maka kita dapat mengambil sikpa realisasi yang tepat dan benar dalam pandangan Islam.

Pertama, kita sebagai orang tua harus memiliki keteladanan dalam kedisiplinan mencari harta dengan cara yang baik dan halal.

Kedua, harta yang kita peroleh harus kita belanjakan di jalan Allah. Pada saat yang sama juga mesti kita siapkan untuk pendidikan akidah, keprofesionalan dan keadaban bagi anak-anak kita.

Ketiga, kita harus menjalani hidup ini dengan penuh takwa. Tidak memiliki harta yang memadai untuk pendidikan anak sampai ke level tertinggi, tidak berarti peluang hidup bermanfaat tertutup. Sebab kalau kita renungkan baik-baik, sebenarnya Allah menginginkan kita menjadi orang yang bertakwa dan bersyukur.

Dalam makna aplikatif, itu berarti kita sebagai orang tua harus bisa menjadi teladan bagi anak-anak kita bahwa hidup kita bahagia karena iman, takwa dan terus bersyukur.

Dalam kata yang lain, jangan suka mengeluh, apalagi mendorong anak menjadi pengejar dunia dengan melupakan Islam sebagai petunjuk arah. Langkah-langkah ini penting, karena masa depan tidak saja penting bagi anak-anak kita secara finansial, tapi juga sangat kita butuhkan sebagai orang tua yang pasti akan meninggal dunia.

Doa-doa dari anak-anak yang shaleh dan shalehah, itulah masa depan yang sejati. Maka survivelah dalam kehidupan dunia dan sukseslah dalam kehidupan akhirat. Itulah masa depan sejati bagi seluruh umat manusia.*

Mas Imam Nawawi