Mas Imam Nawawi

- Artikel

Mengapa Sebagian Orang Butuh Instruksi untuk Bergerak?

Sebagian kita mungkin pernah melihat sosok yang kalau tidak dapat instruksi tidak akan ada inisiatif bergerak. Walaupun pernah, biasanya kita hanya melihat dan menyimpulkan apa adanya. Padahal itu adalah sebuah fenomena yang tidak biasa. Lantas kita mesti “ngapain?” Eric Barker dalam buku “Mendaki Tangga yang Salah” mengutip ungkapan James Richardson. “Tidak ada hal penting yang […]

Instruksi

Sebagian kita mungkin pernah melihat sosok yang kalau tidak dapat instruksi tidak akan ada inisiatif bergerak. Walaupun pernah, biasanya kita hanya melihat dan menyimpulkan apa adanya. Padahal itu adalah sebuah fenomena yang tidak biasa. Lantas kita mesti “ngapain?”

Eric Barker dalam buku “Mendaki Tangga yang Salah” mengutip ungkapan James Richardson. “Tidak ada hal penting yang datang dari intruksi”.

Hal itu menandakan bahwa orang yang ada dalam lingkaran kita, baik sebagai teman, rekan kerja atau tim dalam sebuah organisasi mesti memahami dengan jelas. Utamanya tentang apa yang paling penting bagi mereka untuk keberlangsungan agenda, program atau pun gerakan.

Meningkatkan Kesadaran

Ketika dalam tim kita ada sosok yang seperti itu, maka setidaknya ada dua hal yang tengah terjadi. Pertama, person itu memang tidak tahu apa yang penting. Kedua, person itu tidak mau memahami posisinya secara baik dan menyeluruh. Alhasil, tanpa instruksi dia tidak bergerak. Dan, orang yang bergerak karena sebatas instruksi, biasanya kurang mampu bekerja dengan sangat baik.

Meski demikian ini bukan “dalil” kita perlu menolak pentingnya instruksi, melainkan mengingatkan bahwa hal-hal yang benar-benar berharga dalam hidup—seperti kebijaksanaan, kreativitas, cinta, atau karakter—tidak lahir hanya karena seseorang diberi perintah.

Oleh karena itu para leader perlu memberikan pelatihan dan kesadaran agar anggota mampu berpikir kritis. Memiliki empati tinggi, kemudian mempunyai ketahanan mental, atau inovasi—justru tumbuh dari pengalaman, refleksi, dan kebebasan mencoba serta gagal.

Karena pada dasarnya otak manusia tidak belajar makna terdalam hanya dengan mendengar “lakukan ini”. Ia belajar saat terlibat, merasakan konsekuensi, dan menarik makna dari proses itu sendiri.

Terus Bina

Menyadari hal itu maka para pemimpin pada level dan bentuk organisasi apapun penting untuk terus membina anggotanya.

Paparan ini mengajak kita berhenti mengira bahwa cukup dengan memberi atau menerima instruksi, kita sudah menciptakan perubahan bermakna.

Hal-hal penting dalam hidup—yang membentuk siapa kita—lazimnya lahir dari pengalaman, kesadaran, dan pilihan pribadi, bukan sekadar ketaatan buta pada perintah.

Sebuah analogi memberikan kita sadar akan hal itu.

Mungkin sekali sebuah instruksi bisa mengajari orang tentang cara memegang kuas. Tapi instruksi tidak bisa membuat orang itu langsung mampu melukis mahakarya. Mahakarya itu datang dari diri kita sendiri yang terus mau tumbuh dan saling menguatkan. Dalam kata yang lain, berikan kekayaan berupa pemahaman, keterlibatan dan pengalaman.*

Mas Imam Nawawi