Mas Imam Nawawi

- Hikmah

Mengapa Ingat Allah itu Penting?

Sebagian besar umat Islam tahu kalau ingat Allah itu penting. Tapi apa sistem penjelasnya, mungkin belum banyak yang benar-benar mau menguliknya dengan seksama. Jadi? Kalau kita mau memperhatikan kehidupan ini dengan jeli, kita bisa paham apa urgensi mengingat Allah. Ingat dalam hal ini bukan semata pekerjaan memori, tapi urusan hati yang membentuk kesadaran, sikap dan […]

Mengapa Ingat Allah itu Penting?

Sebagian besar umat Islam tahu kalau ingat Allah itu penting. Tapi apa sistem penjelasnya, mungkin belum banyak yang benar-benar mau menguliknya dengan seksama. Jadi?

Kalau kita mau memperhatikan kehidupan ini dengan jeli, kita bisa paham apa urgensi mengingat Allah. Ingat dalam hal ini bukan semata pekerjaan memori, tapi urusan hati yang membentuk kesadaran, sikap dan perilaku.

Misalnya soal kesehatan bahkan hidup seseorang, umumnya akan memandang itu karena orang mau makan dan minum. Tetapi yang sejatinya membuat manusia itu hidup dan sehat bukan makan dan minum, tapi kehendak Allah.

Dalam kata yang lain, Allah ingin kita tidak terjebak pada suasana yang berulang tanpa paham substansinya. Allah sangat ingin kita menyadari bahwa hakikat dari semua itu adalah dari Allah.

Misalnya, ketika kita bisa sarapan dengan menu yang enak dan lezat, apakah itu datang sendiri. Kalau Allah tidak merawat sistem alam ini, katakan terjadi bencana, maka sarapan itu bukan perkara mudah.

Beberapa tahun silam, saya pernah mendapat tugas ke pedalaman Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Karena pedalaman maka saya membawa uang cash dalam jumlah lebih dari cukup. Dan, ternyata titik ini adalah desa paling dalam, dekat dengan kaki Gunung Bongka. Tak ada warung, tak ada listrik.

Alhasil uang yang saya bawa tidak berguna apa-apa. Karena masyarakatnya belum ada yang punya warung, apalagi toko. Nanti kembali dari sana, barulah uang itu bisa membeli air mineral dan snack yang saya butuhkan. Dan, seketika itu saya ingat, Allah Maha Kuasa.

Mati dan Hidup

Betapa urgennya mengingat Allah, permisalan dari Rasulullah SAW sangat tegas. Bahwa beda orang yang ingat Allah dan tidak ingat Allah laksana orang yang mati dan orang yang hidup.

“Permisalan orang yang mengingat Allah dan yang lalai dari mengingat-Nya, laksana orang yang hidup dan orang yang telah mati.” (HR. Bukhari).

Sekarang mari kita perhatikan perlahan-lahan. Mengapa ada orang mau korupsi? Itu karena ia lupa kepada Allah. Ia mengira harta itu sumber kebahagiaan. Uang banyak itu benteng terbaik dalam kehidupan ini. Tetapi lihat sekarang, berita di media massa, tidak pernah sepi dari cerita orang yang dahulu menjabat lalu korupsi. Bukankah itu artinya tidak ingat Allah sangat merugikan?

Jadi, ingat kepada Allah mencegah kita dari berbuat yang merusak. Karena hati kita bisa melihat hakikat sesuatu. Misalnya jabatan, itu bukan sarana memperkaya diri, keluarga dan kroni. Itu adalah amanah yang Allah akan minta pertanggungjawabannya nanti. Memang nanti, setelah mati. Bukan sekarang selagi di dunia bisa menikmati segala macam fasilitas.

Membentuk Visi

Berapa banyak orang yang telah meninggal dunia tapi amal perbuatannya terus menginspirasi manusia dari generasi ke generasi. Apa rahasia dari orang yang seperti itu? Ia ingat kepada Allah.

Gus Baha mengidentifikasi Nabi Muhammad SAW benar-benar nabi dengan memahami visi Nabi sendiri.

Penalarannya seperti ini. Nabi Muhammad SAW itu pemimpin hebat. Makkah bisa ditaklukkan tanpa perang dengan 10 ribu pasukan. Artinya di Arab ketika itu tidak ada lagi orang yang sehebat Nabi. Akan tetapi karena Muhammad adalah Nabi, beliau SAW memberikan kita teladan tentang indahnya mendirikan shalat.

Dalam kondisi telah menang, Rasulullah SAW tidak jumawa, justru beliau menjadi khawatir. Karena akar dari kehancuran adalah ketika nikmat dunia telah Allah bukakan. Sekiranya putra Abdullah itu bukan Nabi, maka perilakunya akan sama dengan manusia yang jadi pemimpin besar. Menjadi arogan dan sangat self oriented.

Hal ini menunjukkan bahwa ingat kepada Allah itu membentuk visi, menata pikiran dan mengelola hati tak terjebak keindahan duniawi.

Lalu bagaimana dengan maksud ingat kepada Allah itu dengan berdzikir? Lakukan dengan baik, karena itu perintah Allah dan ulama telah memberikan penjelasannya.*

Mas Imam Nawawi