Mas Imam Nawawi

- Opini

Menerapkan Ide, Itu yang Banyak Tidak Orang Lakukan

Ketika orang ingin melakukan sebuah kegiatan, umumnya mereka bergerak karena biasa. Tidak ada ide yang sebenarnya mereka perlukan benar-benar hadir. Dan, kita bisa tebak, kegiatan itu akan berjalan apa adanya, hambar dan tak mengesankan, kecuali negatif. Suatu waktu sejumlah orang mendapat tugas menjadi tim. Sang kepala ternyata bukan saja tidak punya ide, tapi sering mengabaikan […]

Menerapkan Ide, Itu yang Banyak Tidak Orang Lakukan

Ketika orang ingin melakukan sebuah kegiatan, umumnya mereka bergerak karena biasa. Tidak ada ide yang sebenarnya mereka perlukan benar-benar hadir. Dan, kita bisa tebak, kegiatan itu akan berjalan apa adanya, hambar dan tak mengesankan, kecuali negatif.

Suatu waktu sejumlah orang mendapat tugas menjadi tim. Sang kepala ternyata bukan saja tidak punya ide, tapi sering mengabaikan koordinasi. Hasilnya, kita sama-sama bisa baca, mereka tidak solid meski masing-masing masih komitmen pada tujuan.

Dalam skala pribadi pun sama. Ketika kita melakukan suatu kegiatan tanpa ide hasilnya biasa. Misalnya membaca buku, kalau tidak ada target mendapatkan ide atau membacanya dengan tanpa cara tertentu, maka usai membaca juga hasilnya sama dengan waktu sebelum membaca.

Bahkan dalam skala pemerintahan pun kalau cara-cara berkegiatan tidak lahir dari satu gagasan atau ide, yang terjadi adalah riuh tapi tak ada pengaruh.

Pertanyaannya mengapa itu terjadi?

Jebakan Kenyamanan dan Ketakutan Memulai yang Baru

Alasan mendasar mengapa kita enggan menyertakan ide dalam tindakan adalah karena ide menuntut tanggung jawab lebih.

Bergerak berdasarkan kebiasaan itu otomatis, tidak perlu berpikir, dan yang paling penting: aman dari kritik.

Ketika kita bekerja tanpa ide, kita punya alasan untuk bersembunyi di balik kalimat “memang prosedurnya begini”.

Kita lebih memilih menjadi sekrup dalam mesin besar yang bergerak monoton daripada menjadi motor penggerak yang membawa arah baru.

Dominasi Mekanis di Atas Kesadaran

Lalu apa penyebabnya?

Penyebab pertama adalah hilangnya kesadaran penuh saat bertindak dalam jiwa kepala atau anggota tim.

Kita sering terjebak dalam gerak mekanis. Seperti orang yang menyetir kendaraan di rute yang sama setiap hari, kita sampai ke tujuan tanpa benar-benar sadar apa yang kita lalui.

Dalam bekerja atau memimpin tim, jika kesadaran ini hilang, yang tersisa hanyalah teknis. Tanpa kesadaran, tidak mungkin ada ruang bagi ide untuk masuk. Ide hanya lahir dari kepala yang terjaga, bukan yang sekadar mengikuti arus.

Keengganan Membayar Harga Sebuah Perubahan

Sebab kedua adalah kalkulasi untung-rugi yang keliru. Menghadirkan ide berarti siap dengan konsekuensi kerja ekstra.

Membaca buku dengan target ide baru jauh lebih melelahkan daripada sekadar membaca santai.

Memimpin tim dengan koordinasi yang tajam dan gagasan segar jauh lebih menguras energi daripada sekadar memberi instruksi searah.

Jadi, mungkin sekali kita sering terlalu pelit untuk menginvestasikan energi mental kita, sehingga kita memilih hasil yang “biasa saja” asalkan beban kerja tidak bertambah.

Budaya Formalitas yang Mematikan Intisari

Terakhir, baik dalam skala tim maupun pemerintahan, seringkali kita lebih mementingkan bungkus daripada isi. Yang penting ada rapat, yang penting ada laporan, yang penting ada kegiatan.

Dalam kata yang lain formalitas telah telah menjadi budaya dan membunuh esensi.

Ketika sebuah kegiatan hanya dianggap sebagai deretan checklist yang harus dicentang, maka ide dianggap sebagai gangguan yang memperlambat proses. Sebuah tim atau seorang leader mungkin telah menuntaskan tugasnya, tapi lihat apa dampaknya.

Berapa sering orang duduk rapat dalam setiap pekan, tapi apa hasilnya. Jangankan perubahan, mereka yang terlalu sering duduk rapat kadang sudah tertinggal oleh problematika realitas yang terus bergerak lebih cepat daripada kedipan mata.

Jangan sampai, kita lebih takut pada administrasi yang tidak lengkap daripada dampak yang tidak terasa. Akibatnya, kita terus riuh dalam kesibukan yang kosong. Selain itu, orang yang demikian kadang tidak peka terhadap tim, apalagi mitra, lebih-lebih orang lain.

Dalam bahasa Cynthia Barton Rabe dalam buku “The Innovation Killer”, kita akan maju secara signifikan kalau memang ada ide yang kita siapkan dan kita terapkan dengan sungguh-sungguh. Itulah kunci dari inovasi.*

Mas Imam Nawawi