Mas Imam Nawawi

- Opini

Menapak Tilas Jejak Kenabian: Mengenal Manhaj Sistematika Nuzulul Wahyu ala Ust. Abdullah Said

Mencerdaskan kehidupan bangsa itu misi kita semua dalam bernegara. Dan, karena itu upaya-upaya memajukan anak bangsa adalah hal yang urgen dalam perjalanan bangsa dan negara ini. Nah, soal itu, bagi Ust. Abdullah Said, pendiri gerakan Hidayatullah, bisa kita wujudkan melalui gerakan dakwah dan pendidikan. Oleh karena itu, sebuah gerakan dakwah dan pendidikan mesti punya arah […]

Menapak Tilas Jejak Kenabian: Mengenal Manhaj Sistematika Nuzulul Wahyu ala Ust. Abdullah Said

Mencerdaskan kehidupan bangsa itu misi kita semua dalam bernegara. Dan, karena itu upaya-upaya memajukan anak bangsa adalah hal yang urgen dalam perjalanan bangsa dan negara ini. Nah, soal itu, bagi Ust. Abdullah Said, pendiri gerakan Hidayatullah, bisa kita wujudkan melalui gerakan dakwah dan pendidikan. Oleh karena itu, sebuah gerakan dakwah dan pendidikan mesti punya arah yang pasti.

Basis dari upaya Ust. Abdullah Said membangun gerakan dakwah dan pendidikan adalah kegelisahan.

Kegelisahan beliau berakar pada satu hal: krisis kader. Beliau merenung, bagaimana mungkin sebuah gerakan bisa melahirkan pribadi tangguh sekelas Abu Bakar atau Umar jika metode pendidikannya tidak menyentuh akar spiritual yang paling dalam?

Setelah melalui pencarian panjang, akhirnya jawaban itu beliau temukan dalam Sistematika Nuzulul Wahyu (SNW). Tafsir “Sinar” karya Buya Malik Ahmad menjadi pemantiknya.

Nabi Muhammad SAW Sosok Nyata

Belakangan terbit buku dengan judul “Tafsir Modern Metodologi Penafsiran Al-Qur’an Berdasarkan Urutan Penurunannya” yang ditulis oleh Syekh Muhammad ‘Izzat Darwazah (1887-1984). Buku itu menjelaskan tentang seluk-beluk turunnya ayat demi ayat Al-Qur’an secara berurutan.

Beliau meyakini bahwa proses itu bukan semata cara turun. Tetapi juga cara tarbiyah (pendidikan) yang Allah berikan kepada Rasulullah SAW bukanlah sebuah kebetulan, melainkan sebuah “skenario” agung untuk membentuk mentalitas pejuang.

Selaras dengan itu, Syekh Muhammad ‘Izzat Darwazah dalam buku itu menulis bahwa Nabi Muhammad SAW memang figur yang menerima Al-Qur’an. Beliau SAW memiliki kepribadian yang langka dan unik.

Syekh ‘Izzat menulis, “Beliau SAW benar-benar tokoh yang nyata dan bukan fiktif” (halaman 34 Jilid 1).

Artinya, meneladani Nabi SAW dalam proses membangun kepribadian Islami sesuai Al-Qur’an yang turun sistematis adalah pilihan yang berdasar argumen dan fakta sejarah yang nyata.

Lima Fondasi Perubahan

Abdullah Said merujuk pada urutan lima surat pertama berdasarkan pendapat Ibnu Abbas sebagai fondasi kurikulum pengkaderan.

  1. Al-‘Alaq: Penanaman fondasi ilmu dan kesadaran bertauhid (Iqra).
  2. Al-Qalam: Pembentukan karakter dan etika melalui pena dan tulisan.
  3. Al-Muzzammil: Penguatan spiritual lewat ibadah malam (tahajud).
  4. Al-Mudatsir: Perintah untuk bangun dan mulai bergerak melakukan dakwah.
  5. Al-Fatihah: Sebagai muara, induk dari segala nilai Al-Qur’an.

Penting jadi catatan kita semua, lima fondasi itu bukan semata teori, tapi praktik yang membudaya. Hasilnya pun nyata, Hidayatullah bisa hadir dari Aceh sampai Papua. Bukan karena kekuatan finansial, tapi berkah dari kesiapan hati untuk tunduk kepada Allah secara spiritual dan mental.

Serius Mencari

Integritas Abdullah Said dalam mencari ilmu juga tercermin dari keputusan beraninya meninggalkan bangku kuliah formal di IAIN Alauddin Makassar hanya setelah satu tahun. Bukannya malas, namun beliau merasa materi yang diajarkan telah ia lahap sebelumnya melalui bacaan mandiri.

Baginya, efisiensi waktu adalah kunci; beliau lebih memilih talaqqi (berguru langsung) kepada ulama-ulama besar dan membaca otodidak daripada terjebak dalam formalitas yang tidak menambah kedalaman ilmunya.

Kini, manhaj ini bukan sekadar teori, melainkan ruh bagi gerakan Hidayatullah—sebuah upaya napak tilas jalan kenabian untuk mencetak generasi yang militan dan berkarakter.

Belakangan, terutama pada Munas VI Hidayatullah, gerakan dakwah mengarah pada upaya sinergi menyongsong Indonesia Emas 2045. Berdasarkan manhaj yang telah ada, posisi Hidayatullah sangat penting dan relevan untuk ikut membawa bangsa ini pada masa kejayaan. Biidznillah.*

Mas Imam Nawawi