Saat banjir besar melanda beberapa wilayah di Sumatera saya merenung selama beberapa puluh jam. Satu pertanyaan yang mendasar adalah mengapa manusia lupa menjaga alam. Renungan itu akhirnya menggerakkan tanganku menuliskan tema dalam tulisan ini, setelah muncul fakta setelah banjir krisis pangan terjadi dengan begitu cepat dan masyarakat terpaksa mendahulukan naluri bertahan hidup meski dengan terpaksa melakukan “penjarahan”.
Banjir ternyata bukan semata peristiwa, tapi juga menunjukkan mata rantai dari kegiatan manusia yang melepaskan tanggung jawab dari alam, sehingga kebutuhan dasar manusia itu sendiri (makanan) juga menjadi langka.
“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya,” demikian Allah berfirman dalam Surah ‘Abasa ayat ke-24. Ternyata ini juga bukan soal halal dan haram, baik dan buruk, termasuk tentang bagaimana mekanisme alamiah seharusnya juga kita jaga bersama.
Lebih dari itu kalau kita memperhatikan ayat-ayat yang lain, yang berbicara tentang makanan Allah tumbuhkan melalui hujan, manusia tak punya hak menuding hujan sebagai akar dari kesengsaraan. Tetapi bagaimana manusia mengubah fungsi alam, sehingga hujan tak menjadi sahabat lagi, itulah yang mesti menjadi renungan mendalam, terutama para pemimpin, pemilik otoritas, pengambil kebijakan.
Akhlak
Jadi, peristiwa banjir, kayu gelondongan yang digendong arus air bak kapas di udara adalah bukti bahwa manusia penting memperhatikan akhlaknya. Sebab seburuk-buruk pekerjaan manusia adalah yang mendatangkan kelaparan bagi banyak orang. Yaitu merusak alamnya, mengakibatkan kesulitan massal dan pemulihan yang tidak mudah.
Dalam Alquran Allah memperkenalkan kepada kita kisah Nabi Yusuf. Ia seorang Nabi sekaligus pemimpin hebat. Berkatnya, masyarakat Mesir dan sekitarnya selamat dari krisis pangan selama 7 tahun.
Nabi Yusuf berhasil menciptakan satu sistem pengamanan hasil panen dan pendistribusian secara cermat dalam tempo 14 tahun dengan sangat baik, adil dan merata. Padahal kala itu belum ada digitilaisasi. Tapi semua berjalan dengan objektif dan transparan.
Tetapi perhatikan sekarang, banjir bandang sudah membuat semua hilang keseimbangan. Menandakan bahwa akhlak harus menjadi prioritas untuk kita tumbuhkan.
Kalau mau kita sisir, mengapa banjir memberi dampak sedemikian berat, boleh jadi karena upaya untuk benar-benar melindungi dan menjaga warga dari bencana alam belum berjalan maksimal.
Lebih jauh lagi, mungkin belum muncul kesadaran bahwa gerakan ekonomi pada alam hendaknya tidak menimbulkan ketidakseimbangan yang akan merugikan semua. Pada level inilah manusia hendaknya tak menjadi budak ekonomi.
Peluang Sedekah
Sekarang kondisi memang berat, tapi pada saat yang sama, keadaan saat ini merupakan peluang baik untuk kita banyak sedekah, peduli dan berempati.
Orang yang baik dalam pandangan Allah bukan yang semata beribadah, tetapi juga peduli, mau tolong menolong dengan sesama. “… Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan…” (QS. Al-Maidah: 2).
Dengan demikian jelas bahwa sekarang adalah kesempatan kita mengajak dan memberikan bantuan kepada saudara-saudara kita yang terkena musibah. Tak bisa datang ke lokasi, menyerahkan langsung kepada penyintas, itu bukan masalah. Sekarang kita bisa menitipkan amanah baik itu melalui lembaga-lembaga kemanusiaan seperti Baitul Maal Hidayatullah.
Secara prinsip, semua peristiwa tidak berdiri sendiri. Ada peran aktif manusia dalam setiap bencana yang terjadi.
Oleh karena itu mari kita kembali kepada Allah dalam arti hati-hati dalam eksplorasi alam. Jangan tergiur oleh uang yang tak berdampak bagi rakyat. Tapi sadarlah bahwa semua yang kita terapkan dalam berekonomi akan mengundang dampak serius bagi kehidupan sesama.
Dari banjir pada tahun 2025 Allah meminta kita untuk mampu berpikir mendalam, bertindak bijak dan jangan menjadi perusak.*


