Dalam perjalanan rutin yang biasa saya lakukan, selalu ada kenangan mendalam yang menancap kuat dalam sanubari. Hal ini boleh jadi karena saya selalu menyiapkan rencana sebelum berangkat, termasuk keputusan untuk membawa buku fisik atau tidak. Semuanya saya rencanakan.
Dampaknya memang luar biasa. Sebagai contoh, dalam perjalanan Jakarta–Surabaya, ketika cahaya matahari cukup lembut dan nyaman untuk membaca di dalam mobil, saya bisa “merekam” pesan penting dari puluhan halaman buku. Saya terus membaca hingga merasa perlu beralih ke kegiatan lain.
Alhasil, ketika mendadak harus berbagi (sharing) dengan mahasiswa, materi yang saya baca di jalan tadi menjadi pemantik energi untuk berdiskusi dengan generasi bangsa.
Menariknya, rencana bukan semata kebutuhan manajemen, tetapi juga perintah Allah. Kita diperintahkan untuk menyiapkan hari esok (akhirat) hingga mempersiapkan kekuatan untuk unggul dalam percaturan peradaban.
Dua Inspirasi
Singkat kata, perjalanan kali ini memberikan dua inspirasi penting bagi saya.
Pertama, miliki perencanaan yang jelas dan hindari berjalan tanpa arah, meskipun tidak 100% detail.
Ungkapan ini sangat penting untuk kita pahami. Dalam keseharian, terkadang kita harus putar balik hanya karena ada barang penting yang tertinggal. Masalahnya bukan soal jarak, melainkan waktu dan watak. Jika sesekali mungkin bisa dimaklumi, namun bagaimana jika hal itu hampir menjadi kebiasaan?
Kedua, tanpa rencana, hal yang semestinya berjalan lancar pun bisa terkendala oleh hal sepele.
Ketika seseorang bepergian tanpa perencanaan baik—misalnya kartu e-toll tertinggal—hal sepele itu akan menguras waktu, tenaga, dan pikiran. Padahal, kartu tersebut adalah hal mutlak yang harus ada saat melaju di jalan bebas hambatan.
Terencana Lebih Hebat dengan Berjamaah
Bunda Aisah pernah berpesan kepada saya dan teman-teman bahwa kebaikan harus dilakukan secara berjamaah. “Mari kejar akhirat, maka dunia akan ikut,” ujarnya.
Pesan ini menegaskan pentingnya sebuah rencana. Jika kegiatan pribadi saja membutuhkan rencana, apalagi jika kita ingin bergerak bersama-sama dalam kebaikan.
Rasulullah SAW sendiri banyak memberikan teladan soal perencanaan ini. Mulai dari bagaimana dakwah dari tertutup menjadi terbuka.
Termasuk bagaimana beliau sukses hijrah ke Madinah saat pengepungan yang mencekam terjadi di rumah beliau SAW. Semua memang takdir Allah, tapi kita bisa berperan dengan memasang rencana dengan sebaik mungkin.*


