Mas Imam Nawawi

- Hikmah

Iqra’ Bismirabbik: Seni Memaknai Hidup dan Menemukan Tuhan yang Maha Besar

Seringkali kita merenung, mengapa mandat langit yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah untuk mendayagunakan akal melalui aktivitas “membaca” (Iqra’). Perintah ini bukanlah seruan literasi biasa yang sekadar memuaskan dahaga intelektual atau ambisi pribadi. Ia adalah seruan yang dipaketkan dengan satu kunci fundamental: “Bismirabbik” (dengan nama Tuhanmu). Ada rahasia besar di sana. […]

Iqra’ Bismirabbik: Seni Memaknai Hidup dan Menemukan Tuhan yang Maha Besar

Seringkali kita merenung, mengapa mandat langit yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah untuk mendayagunakan akal melalui aktivitas “membaca” (Iqra’). Perintah ini bukanlah seruan literasi biasa yang sekadar memuaskan dahaga intelektual atau ambisi pribadi. Ia adalah seruan yang dipaketkan dengan satu kunci fundamental: “Bismirabbik” (dengan nama Tuhanmu).

Ada rahasia besar di sana. Bahwa hidup, sejatinya, adalah tentang seni memberi makna. Begitulah yang kurasakan ketika merenungi hal tersebut pada Ahad pagi (23/11/25).

Saya pernah menemukan sebuah ungkapan yang menggugah: “Hidup ini tergantung pada bagaimana kita memberi makna. Jika kita membingkainya dengan makna positif, maka sikap dan respons tubuh kita akan selaras dengan kebaikan itu. Sebaliknya, jika kita memaknainya secara negatif, maka yang lahir hanyalah gemuruh amarah, kebencian, dan jiwa yang kehilangan kendali.”

Esensi

Renungan ini membawa kita kembali pada esensi Iqra’ Bismirabbik.

Ini bukan sekadar membaca teks, melainkan membaca realitas dengan melibatkan kekuasaan Allah. Kesadaran inilah yang menjadi fondasi keteguhan. Bagaimana mungkin kita merasa lemah dan kerdil di hadapan masalah, sementara kita sadar bahwa kita bersandar pada Dzat Yang Maha Kuasa?

Pertanyaannya, apakah konsep transenden ini mampu menyelesaikan masalah riil di lapangan? Jawabannya: Ya, sangat.

Seseorang yang menanamkan kerangka berpikir (frame) ini dalam kesadarannya akan tumbuh menjadi pribadi dengan keyakinan setegar karang. Keyakinan yang tidak mudah lapuk oleh hujan ujian, tak lekang oleh panasnya tantangan.

Perjalanan Dakwah Ust. Abdullah Said

Kita bisa menengok jejak sejarah yang ditorehkan oleh Allahu Yarham Ust. Abdullah Said, pendiri Hidayatullah.

Beliau adalah manifestasi nyata dari manusia yang memahami dan membumikan Iqra’ Bismirabbik pada abad ini.

Lihatlah hasilnya hari ini. Pesantren Hidayatullah membentang dari Sabang hingga Merauke, menjadi oase peradaban di berbagai pelosok negeri.

Apa rahasianya? Bukan kekuatan dana yang melimpah ruah, bukan pula semata-mata kecerdasan manajerial manusiawi. Semua itu tegak berdiri karena Iqra’ Bismirabbik yang telah mendarah daging, meneguhkan kekuatan syahadat, dan melahirkan gerak dakwah yang tak terbendung. Bahkan kekuatan itu mengalir dalam kesadaran para kadernya yang bertugas ke seluruh Indonesia.

Kita Gunakan

Logika iman ini juga yang semestinya kita pakai dalam membedah kehidupan kita hari ini.

Jika kita mampu menerapkan Iqra’ Bismirabbik dengan paripurna, niscaya kita mampu menyelamatkan hati dari perspektif negatif yang kerap melumpuhkan akal dan memusnahkan harapan.

Maka, wahai sahabat, jika hari ini beban terasa menghimpit dada, cobalah duduk sejenak. Kenali Allah kembali. Bacalah masalahmu dengan nama-Nya.

Mari bertanya pada nurani yang paling dalam: Adakah masalah di dunia ini yang benar-benar besar sehingga tak teratasi? Atau jangan-jangan, masalah itu terasa besar hanya karena kita telah kehilangan kedekatan dengan Allah Yang Maha Besar?*

Mas Imam Nawawi