Sebagian orang, meski mengaku beriman kepada Allah, belum tentu bisa menjabarkan apa iman itu. Hal ini telah lama Nabi SAW antisipasi agar umat Islam tidak goyah dalam imannya. Selain itu iman adalah satu-satunya pokok perkara yang akan membuat jiwa seorang Muslim selamat dan melesat (semangat dalam melakukan kebaikan-kebaikan).
Suatu waktu, sebagaimana riwayat dari Amr bin Abasah, seseorang menemui Nabi SAW dan bertanya. Salah satu pertanyaannya adalah tentang apa arti iman atau apa iman itu.
Nabi SAW pun bersabda, “Kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan kebangkitan setelah mati.” (HR. Ahmad).
Dalam hadits yang lain, sebagaimana riwayat dari Ali ra, Rasulullah SAW bersabda: “Seorang hamba tidak akan beriman hingga ia mengimani empat hal; iman kepada Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya, mengimani bahwa aku adalah utusan Allah, iman kepada hari kebangkitan setelah kematian dan iman kepada takdir.” (HR. Ibn Majah).
Teladan Nabi Yusuf as
Definisi tentang iman ada begitu banyak. Para ulama telah merumuskannya. Namun, saya tertarik untuk melihat teladan iman dari Nabi Yusuf as.
Nabi Yusuf as adalah sosok Nabi yang sejak kecil telah memiliki mimpi. Namun, mimpi itu menuntut sebuah proses yang sangat-sangat tidak mudah. Beliau dimasukkan ke dalam sumur. Kemudian menjadi budak yang diperdagangkan. Lalu menjadi “pembantu” pejabat Mesir. Masih tidak cukup, Nabi Yusuf kena fitnah dan akhirnya kena vonis hukum penjara.
Namun, mimpi itulah yang menjadikan Nabi Yusuf terus memeluk iman kepada Allah dengan sekuat daya. Ia yakin bahwa kalau tetap iman kepada Allah, hasilnya akan hebat. Tetapi kalau sampai iman lepas, maka hidup akan sulit, kacau dan berakhir rugi.
Singkat kata, Nabi Yusuf as berhasil melalui ujian demi ujian itu. Ia bebas dari penjara kemudian menjadi orang berpengaruh dalam menentukan arah pembangunan Mesir selanjutnya.
Ketika bertemu sang ayah, Nabi Ya’qub as, Nabi Yusuf as menyampaikan kalimat yang indah.
“Dan berkata Yusuf: “Wahai ayahku inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Yusuf: 100).
Perteguh Iman untuk Hidup yang Bermakna
Kisah Nabi Yusuf mengajarkan kita bahwa iman adalah jangkar saat badai ujian datang menerjang. Dengan begitu tak ada trauma apalagi keinginan balas dendam kepada saudara-saudaranya yang zalim.
Kita bisa menangkap bahwa tanpa iman yang kokoh, manusia akan mudah menyerah saat menghadapi kesulitan hidup yang bertubi-tubi. Lihat dalam film, rata-rata mereka terpacu oleh dendam.
Sebaliknya, iman yang benar akan menuntun setiap langkah kita menuju keberhasilan yang mulia dan berkah.Inilah kemampuan yang indah, ketika orang bisa membalas, namun ia sadar, melakukan itu artinya masuk perangkap setan untuk terus bermusuhan.
Langkah Praktis
Teman-teman dapat mulai memperkuat kualitas iman dengan langkah-langkah praktis berikut ini:
Pahami Rukun Iman Secara Mendalam.
Pelajari kembali makna setiap rukun iman agar keyakinan dalam hati tidak mudah goyah oleh keadaan.
Jaga Harapan di Tengah Kesulitan.
Contohlah Nabi Yusuf yang tetap memegang teguh mimpinya meski harus mendekam di balik dinginnya jeruji penjara.
Terima Takdir dengan Lapang Dada.
Yakini bahwa setiap kejadian merupakan bentuk kasih sayang Allah yang Maha Lembut terhadap setiap hamba-Nya.
Fokus pada Kebaikan Berkelanjutan.
Jadikan iman sebagai mesin penggerak untuk terus berbuat baik kepada sesama manusia dalam kondisi apa pun.
Syukuri Keberhasilan dengan Rendah Hati.
Saat impian terwujud, kembalikan seluruh pujian kepada Allah sebagai pemilik segala kuasa dan kebijaksanaan.
Iman bukan sekadar ucapan, melainkan kekuatan yang akan membuat kita selamat di dunia maupun akhirat.
Oleh karena itu, mari rawat iman dalam dada ini agar kehidupan kita selalu melesat dalam ridha Allah SWT.*


