Mas Imam Nawawi

- Opini

Jiwa yang Lelah dan Rindu Jeda: Membaca Paradoks Liburan di Tengah Ekonomi Sulit

Data seringkali berbicara fakta yang mengejutkan, melampaui logika sederhana kita. Di tengah riuh rendah isu daya beli masyarakat yang melemah dan dompet yang kian menipis, Kementerian Perhubungan justru memperkirakan 119,5 juta orang akan melakukan perjalanan pada libur Natal dan Tahun Baru kali ini. Angka ini naik 2,71 persen daripada tahun lalu. Senada dengan itu, data […]

Jiwa yang Lelah dan Rindu Jeda: Membaca Paradoks Liburan di Tengah Ekonomi Sulit

Data seringkali berbicara fakta yang mengejutkan, melampaui logika sederhana kita. Di tengah riuh rendah isu daya beli masyarakat yang melemah dan dompet yang kian menipis, Kementerian Perhubungan justru memperkirakan 119,5 juta orang akan melakukan perjalanan pada libur Natal dan Tahun Baru kali ini. Angka ini naik 2,71 persen daripada tahun lalu.

Senada dengan itu, data dari Tiket.com menunjukkan lonjakan pemesanan tiket pesawat hingga tiga kali lipat dan hotel dua kali lipat. Pertanyaannya, jika ekonomi sedang sulit, mengapa masyarakat justru antusias berlibur?

Secara matematika ekonomi, fenomena ini tampak sebagai anomali. Namun, jika kita baca dengan kacamata sosial dan psikologis, ini adalah kewajaran.

Liburan dalam Era Digital

Mengapa wajar? Tentu saja karena manusia bukanlah robot yang didesain untuk bekerja tanpa henti.

Dalam intensitas tekanan hidup yang kian berat, rutinitas yang monoton, dan bisingnya dunia digital, jiwa manusia mengalami kekeringan. Alhasil, masyarakat rela merogoh kocek—bahkan mungkin menggunakan tabungan terakhir—karena bagi mereka, “biaya” untuk memulihkan kewarasan mental yang terasa lebih mendesak daripada sekadar menahan uang dalam tabungan.

Liburan bagi masyarakat modern telah bergeser. Ia bukan lagi sekadar gaya hidup atau kebutuhan tersier, melainkan mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) untuk mengambil “jeda”. Ada kerinduan mendalam untuk kembali terhubung dengan alam, dengan keluarga, dan dengan diri sendiri. Sebab dunia digital telah banyak merenggut kewarasan manusia. Sebagian sampai depresi dan tak kenal waktu dalam bekerja, hingga terserang brain rot.

Dalam perspektif yang lebih spiritual, momen ini bisa dimaknai sebagai upaya tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) melalui perjalanan. Islam sendiri menganjurkan kita berjalan di muka bumi (siruu fil ardh) bukan untuk hura-hura, melainkan untuk tadabbur; merenungi kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya. Tentu saja dengan catatan, lokasi liburannya yang edukatif.

Jangan Terjebak Gengsi

Terlebih bagi para orang tua, liburan akhir tahun seringkali menjadi momen sakral untuk “membayar utang” kehadiran kepada anak-anak.

Sepanjang tahun, mungkin waktu kita habis tersita untuk mencari nafkah, hingga lupa bahwa anak-anak juga butuh sosok ayah dan ibunya secara utuh. Investasi pada memori indah bersama keluarga ini nilainya jauh melampaui materi yang dikeluarkan.

Namun, sebagai catatan reflektif, mari kita luruskan niat. Jangan sampai liburan menjadi pelarian yang justru menambah beban di kemudian hari, apalagi jika harus berutang demi gengsi. Pasalnya orang yang akhirnya terjerat pinjaman online jumlahnya ribuan dan mayoritas perempuan.

Bahagia itu sederhana; tidak harus destinasi mewah, yang penting adalah kualitas kebersamaan. Bahkan kalau melihat kondisi saudara kita di Sumatera dan Aceh yang terdampak bencana banjir, rasanya bijak kalau kita juga mengalokasikan sedikit rezeki untuk membantu mereka.

Semoga perjalanan di penghujung tahun ini tidak hanya menguras isi dompet, tetapi benar-benar mampu mengisi kembali “tangki” jiwa kita.

Sehingga saat kembali nanti, kita pulang dengan hati yang lebih lapang, syukur yang lebih dalam, dan semangat baru untuk menatap masa depan.*

Mas Imam Nawawi