Mas Imam Nawawi

- Artikel

Scrolling Media Sosial Merampas Mimpi Indah Manusia?

Ahad sore (18/1/26) yang gerimis manja menyentuh bumi, saya membaca artikel penting bagi kaum gen z dan alpha. Inti dari artikel itu mengingatkan kita tentang bahaya kebanyakan scrolling media sosial. Memang apa-apa kalau berlebihan hasilnya tidak baik. Pun demikian dengan scrolling media sosial. Kata artikel itu scrolling media sosial berlebihan dapat mengakibatkan orang terpicu mengalami […]

Scrolling Media Sosial Merampas Mimpi Indah Manusia?

Ahad sore (18/1/26) yang gerimis manja menyentuh bumi, saya membaca artikel penting bagi kaum gen z dan alpha. Inti dari artikel itu mengingatkan kita tentang bahaya kebanyakan scrolling media sosial. Memang apa-apa kalau berlebihan hasilnya tidak baik. Pun demikian dengan scrolling media sosial. Kata artikel itu scrolling media sosial berlebihan dapat mengakibatkan orang terpicu mengalami mimpi buruk dan menurunkan kesehatan mental. Jadi kalau ada mimpi indah, bisa ke delete langsung itu?

Dalam kata yang lain, siapa sering apalagi berlebihan main media sosial, ia akan terampas mimpi indahnya.

Paparan cahaya biru dari ponsel ternyata dapat menghambat hormon melatonin. Akibatnya jelas, orang akan terganggu ritme sirkadiannya, sehingga kualitas istirahat menjadi sangat buruk kualitasnya.

Selain itu, informasi yang terlalu cepat, yang orang lihat terus menerus dapat menyebabkan otak tetap bekerja dalam ritme yang kacau saat tertidur. Wah, merugikan sekali, bukan!

Batasi Sekarang

Bahasan tentang hal ini bukan sekali dua kali orang tuliskan. Namun, pengetahuan tidak akan berarti apa-apa kalau kita tidak menindaklanjutinya dengan aksi. Aksi terbaik kita adalah bersegera membatasi diri sekarang juga dalam bermedia sosial.

Pembatasan ini menjadi kebutuhan primer bagi siapapun, utamanya menjelang tidur. Demi kesejahteraan emosional sebaiknya jauhkan HP pada saat akan tidur.

Langkah itu menurut ahli akan memberi dampak positif bagi kesehatan fisik dan sekaligus mendatangkan ketenangan pikiran.

Langkah Strategis

Namun demikian kita butuh langkah strategis dalam membatasi media sosial. Mungkin tidak bisa langsung drastis. Lakukan secara perlahan dan bertahap.

Journal of Technology in Behavioral Science pada tahun 2023 menemukan bahwa mengurangi penggunaan media sosial hanya 15 menit per hari sudah memberikan dampak positif yang nyata bagi kesehatan mental.

Kalau 15 menit cukup, tinggal kita coba dan tambahkan pada hari-hari mendatang. Terus kita lakukan sampai benar-benar berhasil menjauhkan media sosial dari kehidupan kita. Kita bisa bermedia sosial tapi secara proporsional saja.

Jadi, mulai sekarang coba agendakan langkah ini. Kemudian pada saat yang sama tingkatkan interaksi kita dengan Al-Qur’an dan berbagai macam buku bacaan. Keduanya itu penting agar kualitas kecerdasan kita dapat terus menerus mengalami peningkatan.

Dan, kalau kita renung-renungkan, mengapa kita tidak mau lebih sering membaca buku atau membaca lembar demi lembar Al-Qur’an. Bukankah itu yang pasti akan membawa kita pada peningkatan pemahaman dan perubahan perilaku lebih baik? Media sosial mungkin ada konten positif, tapi berbeda antara membaca dengan menonton video pendek.*

Mas Imam Nawawi