Tak ada satu pun manusia, meski ia cerdas secara kognitif, yang bebas dari perilaku mengeluh. Al-Qur’an pun menegaskan hal tersebut: “Sesungguhnya manusia diciptakan dengan sifat keluh kesah lagi kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 19). Lalu, bagaimanakah sikap terbaik kita sebagai orang tua jika anak sendiri yang mengeluh karena merasa diperlakukan tidak baik oleh teman-temannya?
Dalam banyak kasus, orang tua cenderung bersikap reaktif. Alih-alih memberikan pemahaman tentang cara menyikapi kondisi sulit, sebagian orang tua justru terjebak ikut mengkritik teman anak atau membenarkan bahwa lingkungan mereka memang buruk.
Sebagai langkah awal, orang tua perlu mendengar dengan saksama. Setelah itu, barulah kita dapat memberikan nasihat yang tepat dan tegas.
Berikan ruang bagi anak untuk mencerna situasi, memahami keadaan, dan mengambil keputusan sendiri.
Hal ini menjadi sangat krusial, terlebih jika anak sedang menempuh pendidikan di pesantren. Anak yang mampu membuat pilihan tepat secara mandiri akan memiliki mental dan psikologi yang jauh lebih kuat di masa depan.
Memberikan Ruang bagi Anak untuk Menghadapi Situasi Sulit
Membiarkan anak menghadapi masalah bukan berarti kita bersikap abai atau cuek. Sebaliknya, ini adalah upaya memberikan kesempatan kepada anak untuk melatih ketangguhan sosialnya.
Kita bisa membimbing anak untuk melihat bahwa ia memiliki berbagai opsi keputusan. Misalnya, belajar memisahkan mana kata-kata yang penting untuk dipikirkan dan mana yang tidak. Kalimat negatif dari teman hendaknya tidak dibiarkan melemahkan mental, karena kalimat yang layak untuk kita “konsumsi” hanyalah kalimat yang membawa kebaikan.
Sebaliknya, doronglah anak untuk menjadikan momen sulit tersebut sebagai sarana memperkuat tekad belajar dan menstabilkan emosi. Sebab, memberikan respons berlebihan terhadap ucapan buruk orang lain hanya akan membuat kita ikut terperosok ke dalam “jurang” emosi yang merugikan.
Sebagai langkah pamungkas, doronglah anak untuk mengadu kepada Allah. Ceritakan kisah Nabi Yusuf a.s. yang tetap tangguh menghadapi berbagai cobaan tanpa sedikit pun kehilangan iman dan harapan.
Menentukan Skala Prioritas
Orang tua juga dapat memanfaatkan momen “curhatan” anak untuk melatih kemampuan mereka dalam menentukan skala prioritas.
Pertama, utamakan efektivitas pribadi (produktivitas). Ingatkan anak bahwa ia berada pada masa emas untuk belajar dan membentuk akhlak. Setiap kejadian dalam hidup harus membangun kesadaran bahwa ia mesti tumbuh menjadi pribadi yang cerdas sekaligus berbudi pekerti luhur.
Kedua, petik kebijaksanaan dari setiap kejadian. Alih-alih membiarkan anak terus bertanya mengapa teman-temannya melukai perasaannya, doronglah ia untuk mencari hikmah.
Tanyakan padanya, “Pelajaran atau kebijaksanaan apa yang bisa kita ambil dari kondisi ini?”
Kedua langkah tersebut akan membantu anak untuk tetap fokus pada tujuan utama. Mereka tidak akan mudah goyah oleh gangguan-gangguan kecil dan akan semakin konsisten mengejar apa yang seharusnya mereka capai.
Dengan demikian, anak kita tidak hanya akan sukses secara akademik, tetapi juga berhasil meraih bekal pendidikan mental yang kokoh untuk kiprahnya dalam kehidupan bermasyarakat yang sesungguhnya.*


