Berpikir strategis, mungkin bagi sebagian orang itu dinilai urusan para pemimpin atas, baik dalam perusahaan atau organisai. Tapi benarkah begitu? Ketika saya membaca buku “Solid Skills” karya Vicario Reinaldo jawabannya berbeda. Mari kita bahas lebih lanjut.
Vicario menulis, “Berpikir strategis (strategic thinking) adalah kemampuan berpikir sistematis untuk membuat perbedaan bermakna berdasarkan pemahaman situasi secara utuh”.
Kalau kita perdalam, maka ada dua kriteria penting dalam berpikir strategis itu. Pertama, berpikir sistematis (berurutan, tertata). Kedua, pemahaman situasi secara utuh.
Jika dua hal itu tidak ada, maka tujuan dari berpikir strategis, yaitu membuat perbedaan bermakna tidak akan pernah hadir dalam kehidupan seseorang, organisasi atau perusahaan.
Siapa yang Seharusnya Berpikir Strategis?
Pertanyaan itu juga bagian dari ulasan buku itu. “Menurut saya, setiap orang perlu berpikir strategis, tapi bentuknya tergantung dengan ruang lingkup pekerjaannya.”
Lebih lanjut, sang penulis menegaskan bahwa setiap orang mesti mampu berpikir strategis, apalagi yang aktif di dalam organisasi. Tentu saja ruang lingkupnya tergantung dari deskripsi jabatan setiap orang.
Jadi, kalau saya misalnya seorang direktur, maka tugas saya adalah berpikir bagaimana organisasi maju, berdampak dan berpengaruh. Seorang direktur tidak perlu menghabiskan waktu mengurusi apalagi turun langsung mengatasi pekerjaan manajer hingga staf.
Berpikir Strategis Dimulai dari Menyadari Peran
Sekarang kita memahami, bahwa siapapun bisa dan idealnya mampu berpikir strategis. Terlebih setiap orang punya peran, dan dari situlah berpikir strategis bisa kita mulai.
Ketika kita paham posisi dan tanggung jawab kita, keputusan yang diambil menjadi lebih tepat sasaran. Tanpa kesadaran ini, kita mudah sibuk tetapi tidak benar-benar memberi dampak.
Biasakan Berpikir Terstruktur dalam Hal Kecil
Berpikir strategis bukan cuma urusan rencana besar. Ia tumbuh dari kebiasaan berpikir rapi dalam keputusan sehari-hari. Mulai dari bertanya: apa tujuannya, apa dampaknya, dan apa langkah berikutnya? Sederhana, tapi sangat menentukan.
Lihat Masalah Secara Menyeluruh
Sering kali masalah terasa rumit karena kita melihatnya sepotong-sepotong. Berpikir strategis mengajak kita memahami situasi secara utuh—tidak terburu-buru menilai, dan tidak terpaku pada satu sudut pandang saja.
Ukur Strategi dari Dampaknya
Pada akhirnya, strategi yang baik selalu bisa dirasakan dampaknya. Jika cara berpikir dan keputusan kita membawa perubahan yang lebih baik, berarti kita sedang berjalan di jalur yang benar. Jika tidak, mungkin cara berpikir kita perlu disusun ulang. Kita perlu Iqra’ Bismirabbik lagi.*


