Mas Imam Nawawi

- Artikel

Mengapa Tidak Kita Maksimalkan Hari Ini?

Berapa banyak orang yang semakin bertambah umur, ternyata yang bertambah kuat dalam pikirannya malah ketakutan. Ya, ketakutan akan masa depan. Padahal sebenarnya masa depan itu akan terjadi sesuai dengan pikiran dan tindakan demi tindakan setiap orang dalam setiap hari. Kalau begitu mengapa kita tidak memaksimalkan hari ini dengan segala jenis kebaikan? Mari coba dudukkan posisi […]

Mengapa Tidak Kita Maksimalkan Hari Ini?

Berapa banyak orang yang semakin bertambah umur, ternyata yang bertambah kuat dalam pikirannya malah ketakutan. Ya, ketakutan akan masa depan. Padahal sebenarnya masa depan itu akan terjadi sesuai dengan pikiran dan tindakan demi tindakan setiap orang dalam setiap hari. Kalau begitu mengapa kita tidak memaksimalkan hari ini dengan segala jenis kebaikan?

Mari coba dudukkan posisi Amerika yang sebut saja mengabaikan kedaulatan Venezuela. Itu bukan saja sebuah tindakan hari ini, tapi juga pembentukan masa depan AS sendiri. Seiring dengan waktu dan kesadaran warga global yang meningkat, posisi AS akan tindakan itu justru akan mendatangkan kerugian dari berbagai aspek bagi AS.

Sama dengan individu, manusia secara umum. Kalau hari ini ia rajin belajar, karena masih pelajar atau mahasiswa, potensi maju pada masa hidup dalam masyarakat semakin terbuka. Logikanya sederhana, jika orang menanam padi, potensi ia akan bisa panen padi, punya beras dan bisa makan dengan cukup. Dan, sebaliknya, siapa yang hari ini tidak menanam, besok akan sangat mungkin tidak memiliki buah apapun yang bisa ia nikmati.

Sebaliknya, perbuatan buruk yang terus manusia lakukan, puncaknya akan menjebloskan sang pelaku masuk dalam jurang kerugian dan penyesalan. Maka orang memberi peringatan, “Sesal di depan pendapatan. Sesal di akhir tiada guna”.

Jebakan Rasa Takut dan Kelumpuhan Bertindak

Fenomena itu menandakan bahwa tidak sedikit orang yang terjebak dalam paradoks usia. Yakni kondisi orang yang semakin dewasa, bukannya semakin berani, kita justru sering kali menjadi tawanan bagi kecemasan yang kita buat sendiri.

Ketakutan akan masa depan sering kali menjadi “penjara pikiran” yang menguras energi yang seharusnya dialokasikan untuk berkarya hari ini. Kita terlalu sibuk mengkhawatirkan hari esok yang belum tiba, hingga kita lupa bahwa hari esok hanyalah pantulan dari cermin apa yang kita lakukan sekarang.

Ketakutan (yang tidak menggerakkan kebaikan) adalah sinyal, bukan tujuan. Jika kita merasa takut akan kekurangan di masa depan, maka jawaban logisnya bukan sekadar merenung atau mengeluh, melainkan memperbesar kapasitas diri di saat matahari masih bersinar.

Ketakutan akan masa depan seharusnya menjadi bahan bakar untuk mempercepat langkah hari ini, bukan justru menjadi alasan untuk berhenti di tempat. Karena pada akhirnya, masa depan tidak datang sebagai kejutan yang tiba-tiba; ia adalah akumulasi dari detik-detik yang kita habiskan saat ini.

Menanam Benih Kebaikan sebagai Investasi Peradaban

Sama seperti ilustrasi kebijakan luar negeri atau ketekunan seorang pelajar, setiap tindakan kita memiliki efek domino yang tak terelakkan.

Menanam kebaikan hari ini bukan sekadar tentang etika, melainkan tentang hukum tabur-tuai yang presisi. Ketika kita memilih untuk bekerja dengan integritas, belajar dengan sungguh-sungguh, atau menjaga kedaulatan moral dalam setiap keputusan, kita sedang membangun fondasi yang kokoh untuk diri kita sendiri dan lingkungan sekitar di masa mendatang.

Dunia tidak pernah berhutang pada mereka yang hanya menunggu. Sebaliknya, semesta selalu menyediakan ruang bagi mereka yang berani “berkeringat” di masa sekarang.

Jika hari ini kita hanya membiarkan waktu berlalu tanpa makna, maka kita sebenarnya sedang memesan sebuah masa depan yang kosong. Namun, jika kita memaksimalkan setiap peluang dengan kebaikan dan kerja keras, maka panen raya keberhasilan hanyalah masalah waktu dengan izin Allah.

Mari berhenti mencemaskan apa yang akan terjadi, dan mulailah menentukan apa yang harus terjadi melalui tindakan nyata hari ini. Alquran menegaskan, kalau kamu berbuat baik, maka kebaikanmu itu akan kembali dalam kehidupanmu sendiri. Pesan Nabi Muhammad SAW juga jelas, kalau kita di pagi hari, jangan menunda kebaikan untuk kita lakukan pada sore hari.*

Mas Imam Nawawi