Beberapa dekade silam orang kagum dengan setiap kemajuan teknologi. Namun belakangan orang mulai menyoal, setidak-tidaknya bertanya. Mengapa teknologi yang terus maju justru membuat manusia sulit bahagia, seakan-akan terampas moralitasnya?
Kasus banjir besar yang menimpa Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat adalah bukti terkini. Meskipun banjir yang lain juga terjadi di Jawa Tengah, seperti Jepara dan Pati.
Dalam kata yang lain, teknologi tak mampu mendorong akal manusia komitmen untuk merawat alam. Mereka justru semakin egois, asal kekayaan bisa didapatkan dengan cepat dan dalam jumlah yang besar.
Pandangan Al-Biruni
Pertanyaan itu mengantarkan saya pada satu pertemuan dengan artikel berjudul “Filsafat Sains Abu Rayhan al-Biruni” yang ditulis oleh Febri Daus di website lembaga pemikiran Islam INSISTS.
Al-Biruni memiliki pandangan bahwa seorang ilmuwan mesti mendorong kemajuan sains dengan basis niat yang menekankan kejujuran dan keadilan. Itu berlaku dalam seluruh aktivitas keilmiahan.
Sains tidak boleh manusia gunakan sekadar untuk mengejar kekayaan, melainkan untuk menyelesaikan permasalahan masyarakat dan mencari keridhaan Allah.
Al-Biruni juga memiliki pandangan bahwa pengembangan ilmu, utamanya astronomi dan matematika hendaknya terus dikembangkan dengan mengintegrasikannya dengan nilai-nilai Islam.
Dalam kata yang lain, umat Islam harus “tampil” mengatasi krisis hari ini dengan nilai-nilai Islam yang memang seharusnya menjiwai perkembangan sains dan teknologi.
Sikap Integratif
Berdasarkan uraian ringan dalam artikel ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa penting bagi siapapun untuk memiliki sikap integratif. Yakni sikap yang kita tumbuhkan dari kesadaran sains dan teknologi satu sisi. Kemudian kita jiwai pertumbuhan sikap itu dengan ketakwaan kepada Allah SWT.
Dalam bahasan Ust. Abdullah Said, selaku pendiri Hidayatullah, itulah langkah yang amat mendasar untuk kita ejawantahkan, yakni mengimplementasikan mentalitas Iqra’ Bismirabbik.
Membaca yang tak sebatas mencapai target tahu dan paham. Tetapi lebih jauh siap untuk meyakini pengetahuan yang benar dalam Islam itu sebagai jalan hidup yang kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, bagaimana caranya memahamkan ini kepada para pengusaha besar, penguasa besar, dan pihak-pihak yang punya pengaruh besar. Itu bukan soal yang mendasar. Hal yang mendasar harus kita lakukan, mari kita mulai dari jiwa kita hari ini dan terus kita kembangkan kepada semua.
Cepat atau lambat, gerakan yang menjadi gelombang akan menciptakan suatu budaya baru yang membangun. Kita harus optimis bahwa akan tiba masa dimana sains dan teknologi kembali tunduk pada iman dan orang-orang beriman mampu menghadirkan kemaslahatan bagi dunia.*


