Mas Imam Nawawi

- Kajian Utama

Menemukan Makna Terdalam Isra’ Mi’raj: Lebih dari Sekadar Perjalanan Malam

Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa hebat yang selalu dinanti umat Islam setiap 27 Rajab. Meskipun diperingati setiap tahun, ulasan tentang kejadian ini tidak pernah usai. Maknanya terus hadir membersamai denyut napas umat Islam dari masa ke masa. Namun, apa sebenarnya pesan penting dari perjalanan spiritual ini? Menurut Ust. Iwan Abdullah, Kadep Pembinaan Anggota DPP Hidayatullah, dalam […]

Menemukan Makna Terdalam Isra’ Mi’raj: Lebih dari Sekadar Perjalanan Malam

Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa hebat yang selalu dinanti umat Islam setiap 27 Rajab. Meskipun diperingati setiap tahun, ulasan tentang kejadian ini tidak pernah usai. Maknanya terus hadir membersamai denyut napas umat Islam dari masa ke masa. Namun, apa sebenarnya pesan penting dari perjalanan spiritual ini?

Menurut Ust. Iwan Abdullah, Kadep Pembinaan Anggota DPP Hidayatullah, dalam khutbah Jumat di Masjid Ummul Qura, Depok (16/1/26), terdapat dua esensi utama. Mari kita bedah agar menjadi inspirasi hidup kita sehari-hari.

Penegasan Status “Hamba” yang Mulia

Pertama, peristiwa ini menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah hamba Allah. Istilah “Abdun” atau hamba sering muncul dalam ayat tentang Isra’ Mi’raj. Hal ini menunjukkan bahwa derajat tertinggi manusia adalah saat ia benar-benar menghamba kepada Sang Pencipta.

Bagi kita generasi produktif, pesan ini sangatlah relevan. Di tengah ambisi duniawi, kita diingatkan untuk tetap rendah hati. Kesuksesan sejati lahir dari ketaatan penuh kepada Allah. Dengan meneladani Nabi sebagai hamba terbaik, kita akan menemukan ketenangan di tengah hiruk-pikuk modernitas. Dan, kita sadar, shalat adalah pembuktian kita hanyalah menghamba kepada Allah SWT semata.

Shalat sebagai “Mi’raj” Orang Beriman

Kedua, peristiwa Mi’raj memberikan sarana bagi umat Islam untuk bertemu dengan Allah melalui shalat. Jika Nabi Muhammad melakukan perjalanan fisik ke Sidratul Muntaha, maka kita melakukan perjalanan spiritual lewat sujud kita. Shalat adalah media komunikasi langsung antara makhluk dengan Penciptanya.

Pendiri Hidayatullah, Ust. Abdullah Said selalu menjadikan shalat sebagai media paling pertama dan utama untuk teguh dalam perjuangan mendidik santri dan kader-kadernya. Bahkan beliau mendorong kepada semua muridnya untuk bisa menikmati keindahan shalat. Shalat yang berenergi, shalat yang mendorong pada kebaikan dan mencegah pada keburukan.

Ibadah shalat bukan sekadar kewajiban yang menggugurkan beban. Sebaliknya, shalat adalah kebutuhan ruhani untuk melepas penat dan mencari solusi. Melalui shalat, kita mendapatkan kekuatan baru untuk menghadapi tantangan hidup. Mari kita perbaiki kualitas shalat agar komunikasi kita dengan Allah semakin indah.

Meneladani Sang Uswah Hasanah

Selain dua esensi tersebut, Isra’ Mi’raj mengajak kita untuk menjadikan Nabi Muhammad sebagai teladan hidup. Beliau menunjukkan ketabahan luar biasa sebelum peristiwa ini terjadi. Coba sejenak kita perhatikan beberapa kejadian sebelum peristiwa sangat penting itu terjadi. Nabi Muhammad SAW dalam kondisi tidak baik-baik saja. Istri tercinta, Khadijah ra, meninggal dunia. Sang paman, Abu Thalib juga wafat. Kondisi hati Nabi SAW kala itu benar-benar dalam kesedihan.

Lalu kemudian terjadilah peristiwa ini. Maknanya bagi kita adalah mari mengikuti jejak beliau SAW. Karena dengan begitu kita telah belajar untuk selalu optimis dan percaya pada pertolongan Allah.

Kesimpulannya, Isra’ Mi’raj adalah pengingat tentang identitas kita sebagai hamba dan pentingnya menjaga koneksi dengan Allah SWT.

Jadi, mari kita jadikan momentum ini untuk lebih disiplin mendirikan shalat tepat waktu. Dengan begitu, keberkahan akan senantiasa mengalir dalam setiap langkah kaki kita.*

Mas Imam Nawawi