Ketika seseorang masih bermain HP saat adzan telah berkumandang, nilai seperti apa yang bisa kita berikan untuk memahaminya? Akan mudah kalau pelaku dalam hal ini adalah orang lain. Bagaimana kalau pelakunya adalah saya sendiri? Inilah alasan mengapa ulasan tentang kepemimpinan pribadi perlu kita pahami.
Secara umum kita dapat memahami bahwa memimpin berarti kemampuan setiap orang dalam mengarahkan, membimbing dan memengaruhi orang lain untuk tujuan bersama. Tetapi kita sedang berbicara pribadi masing-masing, yang Nabi SAW tegaskan setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya sendiri.
Artinya, kita bisa kembangkan makna itu sebagai kemampuan mengarahkan, membimbing dan memastikan jalan yang kita pilih adalah benar (dapat kita pertanggungjawabkan).
Sebagai Muslim, ketika mendengar adzan, maka sikap kita terbaik adalah bersiap dan bersegera ke masjid. Namun, kalau kita tidak melakukannya dengan segera, berarti kita masih belum berhasil dalam memimpin pribadi sendiri.
Apabila itu terjadi pada seseorang yang punya anak, seruannya untuk anaknya segera shalat hanya akan mengundang kesan lucu. “Ayah saja tidak, mengapa saya harus,” begitu kira-kira.
Lantas, bagaimana kalau ayahnya suka main game, ibunya juga demikian. Lalu anaknya mereka harapkan bisa tekun shalat?
Kesadaran
Untuk seseorang bisa berubah, terutama kebiasaannya dari negatif ke positif, maka ia butuh satu energi bernama kesadaran.
Oleh karena itu penting kita memahami 5 ayat dari Surah Al-‘Alaq yang menjadi wahyu pertama yang Nabi Muhammad SAW terima.
Melalui ayat itu kita akan sadar bahwa siapa sebenarnya kita sebagai manusia. Apa hakikat manusia, mengapa manusia harus hadir. Lalu siapa sebenarnya Rabb (Tuhan) itu?
Dalam kajian Ust. Abdullah Said orang yang memahami Al-‘Alaq dengan baik maka akan memiliki syahadat yang berkualitas, akidah yang kokoh dan orientasi hidup yang jelas, yakni Allah SWT.
Orang yang tidak memiliki kesadaran akan terombang-ambing oleh keadaan.
Secara pengetahuan kita bisa memahami dengan jelas bahwa orang yang hidup tanpa kesadaran diri, hanya akan hidup bereaksi terhadap keadaan, bukan bertindak dengan arah.
Di sinilah pentingnya refleksi — menilai ulang kebiasaan, prinsip, dan tujuan hidup agar langkah selanjutnya lebih terarah dan bermakna. Dan, inilah langkah dasar untuk membangun kesadaran.
Bangun Komitmen
Langkah selanjutnya agar kita memiliki kepemimpinan diri yang kuat adalah memahami Alquran sebagai pembentuk nilai yang kita pahami dan kita perjuangkan dalam kehidupan sehari-hari.
Mengacu pada Surah Al-‘Alaq dan Al-Qolam, maka komitmen yang bisa kita bentuk adalah: senang membaca dan gemar menulis. Keduanya penting dalam upaya untuk menangkap informasi dengan lengkap, menambah pengetahuan dan memberi makna terhadap realitas.
Mengapa umat Islam sebagian besar mudah terperangkap isu viral di media sosial? Jawabannya bisa jadi karena umat Islam tidak terampil membaca apalagi menulis. Alhasil umat Islam menjadi konsumen informasi, bukan produsen konten positif.
Jadi, cara terbaik untuk bisa memimpin pribadi sendiri, kita harus tahu dan sadar bahwa kita hanyalah manusia. Ingat tak ada satu pun filosof Yunani yang berhasil mendefinisikan manusia secara utuh.
Hanya Alquran yang tegas dan jelas menerangkan siapa manusia itu. Jika demikian, maka bangunlah kesadaran dan komitmen untuk menjadi Muslim yang sadar akan hakikat dunia dan bagaimana bersikap terbaik kepadanya.
Ketika itu bisa kita capai, maka insya Allah kita bisa menjadi pemimpin yang sesungguhnya, yang bisa menghadirkan dampak positif dalam kehidupan sosial. Itulah hamba Allah dan khalifatullah. Pribadi yang bertanggung jawab dalam memelihara, mengawasi dan melindungi orang-orang yang ada dalam genggaman kepemimpinannya.*


