Mas Imam Nawawi

- Opini

Pemuda Berdaya dan Tantangan 2026

Semua yang terjadi dalam hidup ini tidak ada yang kebetulan. Begitu sebagian orang memahami realitas dalam kehidupan ini. Saya termasuk orang yang juga memiliki pandangan seperti itu. Termasuk tema Munas Pemuda Hidayatullah ke-9 tentang “Pemuda Berdaya”. Korelasinya dengan tantangan yang menganga lebar pada tahun 2026 ini benar-benar kuat. Artikel Kompas yang berjudul “Risiko PHK dan […]

Pemuda Berdaya dan Tantangan 2026

Semua yang terjadi dalam hidup ini tidak ada yang kebetulan. Begitu sebagian orang memahami realitas dalam kehidupan ini. Saya termasuk orang yang juga memiliki pandangan seperti itu. Termasuk tema Munas Pemuda Hidayatullah ke-9 tentang “Pemuda Berdaya”. Korelasinya dengan tantangan yang menganga lebar pada tahun 2026 ini benar-benar kuat.

Artikel Kompas yang berjudul “Risiko PHK dan Pengangguran Usia Muda Berpotensi Meluas Tahun 2026” menjadikan teman-teman muda Hidayatullah harus pasang kuda-kuda, menjawab tantangan di depan mata hari ini.

Faktanya menurut artikel itu, Indonesia berpotensi mengalami risiko dalam dua hal sekaligus. Pertama, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Kedua, meningkatnya pengangguran usia muda. Bisa kita bayangkan, orang lulus universitas sulit mendapatkan pekerjaan. Dan, banyak analis mengatakan, kalau itu tidak pemerintah atasi, maka bom waktu akan tercipta.

Pengaruh dari sisi ini memang tidak pernah bercanda. Baznas pun mengakui bahwa tahun 2025 angka penghimpunan zakat hanya tumbuh 2% dari tahun sebelumnya. Dan, itu merupakan perolehan paling kecil dalam perjalanan Baznas.

Mulai dengan Aksi

Menjawab soal ekonomi memang tidak bisa dengan wacana. Kata berdaya yang pemuda gunakan pada Munas ke-9 harus benar-benar bisa segera menjadi garis start. Sejarah Nabi Muhammad SAW menegaskan hal itu. Begitu usia Rasulullah SAW masuk angka 12 perniagaan segera beliau tekuni.

Dalam kata yang lain, kalau berdaya itu memang bermuatan dominan pada kekuatan ekonomi, maka langkah setelah Munas ini harus jelas, membangun pengusaha-pengusaha muda. Dan, itu tidak perlu langsung ingin besar, karena kita tak mungkin hidup dengan cara men-skip hukum proses dan hukum pertumbuhan.

Kalau Munas ini bisa merumuskan itu dengan holistik, yang mana nanti nilai-nilai jati diri menjiwai semangat berniaga, maka besar kemungkinan Pemuda Hidayatullah bisa ikut membantu beban pemerintah dalam hal mengatasi pengangguran. Dan, ini modal yang sangat baik menuju Indonesia Emas 2045.

Langkah itu juga membuat banyak anak muda yang mau instan dengan terjun ke politik akhirnya punya pandangan alternatif. Bahwa menjadi kaya tak selamanya harus melalui jalur-jalur menjadi pejabat melalui saluran-saluran politik praktis.

Meski demikian, tidak mesti 100% SDM di dalam Pemuda Hidayatullah harus terjun ke dunia ekonomi. Visi peradaban tak memungkinkan itu terjadi. Fakta sejarah juga memberikan arah, para ekonom pada masa Nabi SAW termasuk bisa dihitung jari. Karena peradaban memerlukan ahli ilmu, ekonomi, pertahanan, dan lain sebagainya.

Refleksi Mendalam

Pada akhirnya kita tak mungkin melesat secepat kilat. Namun narasi “Pemuda Berdaya” tak boleh berhenti sebagai slogan di atas podium Munas. Pengurus Pusat dan seluruh peserta harus mampu memberi respon profetik atas realitas zaman yang kian menantang.

Ancaman badai PHK dan ledakan pengangguran di tahun 2026 adalah “alarm” nyaring yang memaksa kita mengubah wacana menjadi kerja nyata. Jika pemuda mampu berdiri di atas kaki sendiri secara ekonomi, kita tidak hanya menjinakkan bom waktu sosial, tetapi juga menegakkan marwah umat di tengah ketidakpastian global yang kian menghimpit.

Sebagai catatan, sungguh tidak ada kemuliaan yang diraih secara instan dengan menihilkan proses. Mencetak pengusaha muda yang berkarakter—yang menjadikan perniagaan sebagai jalan ibadah sebagaimana teladan Nabi—adalah langkah strategis yang tak bisa ditawar.

Dengan mentalitas ini, Pemuda Hidayatullah tidak akan terjebak pada pragmatisme politik sesaat, melainkan fokus membangun fondasi ekonomi yang kokoh, tumbuh dari bawah, dan mengakar kuat pada jati diri.

Akhirnya, sinergi antara kekuatan ekonomi dan ketajaman ilmu harus tetap terjaga dalam harmoni visi peradaban. Kita membutuhkan pengusaha yang menopang dakwah, sekaligus ulama dan pemikir yang menjaga arah umat agar tidak tersesat.

Jika kolaborasi peran ini berjalan padu, Pemuda Hidayatullah akan hadir sebagai solusi konkret bagi bangsa, meringankan beban negara, sekaligus menjadi lokomotif utama menuju cita-cita besar Indonesia Emas 2045.*

Mas Imam Nawawi