Bagaimana perasaan orang tua saat menghadapi anak remaja (12-17 tahun) yang sulit mendirikan shalat? Beragam respons muncul; ada yang bersikap santai, ada yang mulai merasa terusik, bahkan ada yang terjebak dalam kemarahan yang meluap. Namun, di antara semua reaksi tersebut, manakah sikap yang terbaik?
Memerintahkan anak shalat bukanlah perkara mudah karena mereka belum memiliki pemahaman hidup yang mendalam. Di sisi lain, dunia maya telah merenggut konsentrasi mereka secara masif.
Mendidik anak shalat di usia remaja ibarat menanam pohon di tengah badai digital. Kita tidak bisa hanya sekadar menancapkan bibit lalu meninggalkannya. Kita perlu memasang penyangga berupa kesabaran dan menyiramnya dengan kasih sayang secara konsisten agar akarnya kuat menghujam, meski angin kencang dunia maya terus berusaha merubuhkannya.
Tanpa jalan tengah yang tepat, risiko ketidakdisiplinan anak dalam shalat akan semakin besar. Hal ini diperparah jika anak merasa mendapatkan “legitimacy” atau tempat nyaman dalam lingkungan yang memandang shalat bukan sebagai urusan utama.
Terus Ingatkan dengan Sabar
Secara prinsip, urusan shalat memang bukan perkara ringan. Oleh karena itu, Allah SWT memerintahkan kita sebagai orang tua untuk mendidik keluarga melaksanakan shalat dengan penuh kesabaran (QS. Thaha: 132).
Sabar di sini memiliki makna ganda: sabar bagi kita untuk konsisten menjalankannya, sekaligus sabar dalam mengajak anak. Kita sebaiknya tidak mudah menjadi pemarah, apalagi urusan kita adalah mengajak anak untuk “bertemu” dengan Allah SWT.
Jika orang tua menggunakan cara kasar atau memukul secara berlebihan, anak berisiko salah persepsi. Mereka akan memandang orang tuanya memiliki perangai yang buruk, meskipun niat sejatinya adalah mengajak pada kebaikan.
Pernah suatu waktu saya bertemu dengan seorang anak muda. Ia menuturkan tentang sikap orang tuanya yang kasar kalau mendapati anaknya tidak shalat. Tanpa kata-kata langsung main pukul. Hal itu memberikan bekas luka dalam jiwa pada sang anak. Meski kemudian kala dewasa ia sadar, orang tuanya benar dan dia yang salah (karena mengabaikan shalat).
Dalam hal ini, renungan mendalam atas dialog-dialog penuh kasih antara ayah dan anak di dalam Al-Qur’an menjadi sangat penting.
Akibat yang Baik
Allah memerintahkan shalat kepada kita bukan karena Allah membutuhkan sesuatu dari hamba-Nya. Sebaliknya, Allah ingin akhir kehidupan kita di dunia ini berbuah kebaikan.
Dengan kata lain, shalat adalah kunci paling utama bagi manusia untuk meraih kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.
Maka, selagi hangat momentum Isra’ Mi’raj pada tahun ini, mari kita kencangkan semangat untuk mendirikan shalat dan menjaganya bersama keluarga tercinta.*


