Banyak orang terkejut ketika Ust. Abdullah Said memutuskan berhenti kuliah setelah hanya satu tahun mengecap pendidikan tinggi di Makassar.
Secara umum, langkah ini dianggap anomali atau bahkan kerugian. Namun, jika dibedah dengan kacamata ahli strategi, keputusan tersebut bukanlah luapan emosi sesaat. Sebaliknya, itu adalah wujud nyata dari cara berpikir yang jelas, rasional, dan berdampak jauh ke depan.
Jernih di Dalam, Tajam di Luar
Berpikir strategis selalu dimulai dari ketenangan mental. Ust. Abdullah Said mempraktikkan proses ini dengan melakukan pengamatan saksama—sebuah perpaduan antara latihan spiritual dan ketajaman intelektual.
Beliau tidak sekadar mengikuti arus tren pendidikan formal, melainkan menelisik dua sisi secara mendalam:
- Analisis Dunia Luar: Beliau mengamati bahwa sistem akademis formal saat itu lebih cenderung mencetak “pegawai”. Sementara itu, beliau melihat tantangan dakwah di masa depan membutuhkan sosok penggerak yang lebih progresif dan mandiri.
- Analisis Dunia Dalam (Jiwa): Beliau menyadari bahwa referensi kuliah yang tersedia telah ia lahap habis. Jiwanya memanggil untuk melakukan akselerasi ilmu melalui jalur non-formal yang lebih intensif di bawah bimbingan guru-guru besar seperti KH. Abdul Djabbar Asyiri dan KH. Ahmad Marzuki Hasan.
Langkah ini membuktikan prinsip utama strategi: diam sejenak untuk mengingat Allah demi mendapatkan rencana dengan kekuatan mental yang lebih segar. Ini sesuai dengan frame work berpikir strategis dalam buku Solid Skills, yang mana kita tak cukup hanya punya rencana, tapi juga tahu jalan mewujudkannya. Singkatnya, jangan hanya punya target, tapi juga mesti memiliki rencana yang jelas.
Analisis Kedalaman: Bukan Sekadar Intuisi
Kesalahan umum dalam strategi adalah menetapkan target tanpa memahami akar masalah. Ust. Abdullah Said menghindari jebakan ini.
Beliau melakukan analisis mendalam terhadap realitas pendidikan dan dakwah. Beliau memahami bahwa untuk membangun institusi yang berdampak sistemik—seperti Pesantren Hidayatullah di Balikpapan—beliau harus berani mengambil risiko terukur untuk menerobos pola pikir umum.
Dan, kita tahu salah satu ciri berpikir strategis adalah memastikan langkahnya tepat berdasarkan pengamatan data dan pengetahuan mendalam terhadap akar masalah.
Di sinilah letak keseimbangan antara taktik dan visi. Secara taktis, beliau memilih belajar privat secara intensif; secara visi, beliau sedang menyiapkan fondasi bagi kemandirian dakwah. Beliau tidak sekadar bertanya “bagaimana cara lulus”, tetapi berpikir lima langkah ke depan: “Apa yang akan terjadi jika saya tetap di jalur ini? Apakah saya akan sampai pada tujuan besar saya, atau justru terjebak dalam rutinitas birokrasi?”
Responsif Terhadap Masa Depan
Strategi sejati bersifat responsif, bukan reaktif. Dengan melepaskan status mahasiswa, beliau sebenarnya sedang membangun rencana aksi yang lebih relevan untuk menjawab tantangan zaman.
Hasilnya terbukti nyata: bukan sekadar gelar di belakang nama, melainkan lahirnya gerakan yang memberikan dampak bagi umat secara luas. Sekarang bisa kita lihat, mulai banyak kader Hidayatullah yang menyandang gelar akademik, yang tentu saja itu belum cukup. Karena tugas sejatinya adalah harus bisa berpikir dan melangkah strategis, membawa dakwah dan tarbiyah sebagai penopang tegaknya peradaban Islam.
Kisah Ust. Abdullah Said mengajarkan kita bahwa berpikir strategis adalah tentang keberanian untuk menempuh jalan yang berbeda, asalkan didasari oleh rasionalitas dan kejernihan batin.
Kemampuan inilah yang mendesak untuk ditemukan kembali oleh kaum muda saat ini. Sebab, kiprah hidup yang bermakna bukan semata soal rutinitas membaca, menulis, dan bekerja, melainkan bagaimana menciptakan keputusan sadar yang mampu melahirkan kader-kader loyal, militan, dan progresif demi masa depan. Dan, itu butuh jiwa-jiwa yang progresif dan beradab.*


