Mas Imam Nawawi

- Artikel

Pagi ke Sore Wujud dari Kehendak Hati: Berkarya atau Berutopia

Jika sore hari seseorang tidak ada hasil baik yang datang, bukan berarti itu semata “takdir”. Boleh jadi karena orang itu gagal mengisi pagi hingga siang dengan benar. Hasil baik itu bisa berupa karya, ilmu, semangat atau pun rencana aksi untuk esok hari. Brian Tracy mengatakan segalanya terjadi untuk sebuah alasan (The Laws of Luck). Keberuntungan […]

Pagi ke Sore Wujud dari Kehendak Hati: Berkarya atau Berutopia

Jika sore hari seseorang tidak ada hasil baik yang datang, bukan berarti itu semata “takdir”. Boleh jadi karena orang itu gagal mengisi pagi hingga siang dengan benar. Hasil baik itu bisa berupa karya, ilmu, semangat atau pun rencana aksi untuk esok hari. Brian Tracy mengatakan segalanya terjadi untuk sebuah alasan (The Laws of Luck).

Keberuntungan bukanlah kilat yang menyambar tiba-tiba, melainkan sebuah “titik temu”. Seseorang disebut “beruntung” hanya karena mereka sudah berada di lapangan saat peluang itu lewat. Jika seseorang tidak berada di sana (karena malas di pagi hari), peluang itu tetap lewat, namun bagi orang itu bukan keberuntungan.

Selanjutnya, mari bayangkan diri kita seperti sebuah wadah atau bendungan. Tulisan atau karya di sore hari adalah “tumpahan” air dari wadah tersebut.

Air hanya bisa tumpah (mengalir keluar) jika wadah itu sudah penuh diisi sejak pagi. Jika pagi hari kita tidak menuangkan bacaan, pengamatan, dan diskusi ke dalam wadah pikiran, maka di sore hari wadah itu akan tetap kering. Anda tidak bisa memerah air dari batu yang kering.

Dalam kehidupan pun demikian. Jika seseorang pada usia 40 tahun tidak merasakan ada keberuntungan datang dalam hidupnya, boleh jadi itu bukan “takdir” tapi ada salah niat, salah jalan dan akhirnya salah pekerjaan sepanjang usia mudanya.

Dalam bahasa Tracy, “Sukses bukanlah kebetulan. Sukses adalah hasil dari keberuntungan melawan kesialan.” Artinya orang melawan malas dan bodoh dengan berjuang terus membaca, berusaha, bahkan berjuang.

Buang Menunda

Apa penyebab orang tidak bahagia? Bukan kurang harta atau tahta, tapi karena sebagian umurnya relatif habis untuk menunda. Islam sangat mewanti-wanti jangan ada penundaan dalam kebaikan.

“Jika kamu memasuki sore hari, maka jangan menunggu pagi hari. Jika kamu memasuki pagi hari, maka jangan menunggu sore hari. Manfaatkanlah sehatmu sebelum sakitmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. Bukhari).

Menunda adalah beban yang bertambah berat seiring berjalannya waktu. Jika kita mulai mendorong ‘roda aksi’ sejak pagi, momentum akan membantu kita di sore hari. Namun jika kita baru memulainya saat matahari terbenam, kita akan kelelahan melawan beratnya inersia dari rasa malas yang sudah memupuk sepanjang hari.

Setiap detik adalah peluang dan kesempatan. Jika kita gagal memanfaatkannya untuk kebaikan, maka kita akan bertemu dengan penyesalan.

Seorang senior belum lama ini membuat ungkapan menarik. “Penyesalan itu memang pahit di akhir. Kalau pahit di awal namanya pembekalan.”

Sebuah logika sederhana namun relevan untuk menggambarkan bahwa orang itu menyesal karena memang kerap tidak fokus, tidak konsisten, bahkan akhirnya tidak yakin. Kalau sudah seperti itu, pagi, siang, bahkan sore akan ia isi dengan hal-hal yang tidak baik, tidak penting dan tidak benar.

Yakinkan Hati

Dengan demikian agar kita bisa menghasilkan karya, kebaikan dan hal positif pada sore hari, kita mesti atur jadwal kita pada pagi hingga siang hari. Kita boleh menonton hiburan, tapi jangan terus-terusan. Semua harus kita kendalikan dengan sebaik-baiknya.

Seperti pohon yang kita harapkan berbuah dengan baik, maka kita tak cukup hanya berdoa dan berharap. Kita mesti melangkah untuk memastikan pohon itu mendapat sinar matahari. Kemudian kita pupuk sesuai dosisnya. Selanjutnya kita jaga agar tak terkena gangguan hewan atau pun lainnya.

Kalau kata Alquran, ketika kamu berbuat baik, maka kebaikan itu bagimu sendiri. Artinya sore akan baik kalau pagi kita sibuk menanam dan menabung kebaikan. Sebaliknya sore akan suram kalau pagi hingga siang kita hanya duduk membayangkan kebaikan, tana pernah kita sertai dengan tindakan dan perjuangan.*

Mas Imam Nawawi