Mas Imam Nawawi

- Artikel

Mengapa Rasa Bosan Sering Datang?

Baru sepekan ikut pelatihan dan semangat meroket, pada hari ke-8 Roni tiba-tiba kehilangan semangat. Begitu teman-temannya bertanya, kenapa berhenti latihan. Roni dengan lemas menjawab, “Bosan, bro”. Apakah teman-teman ada yang memiliki pengalaman serupa? Mengapa rasa bosan sering datang? Meski malas, Roni masih punya kesadaran untuk kembali aktif melakukan latihan. Ia masih punya asa walau terus […]

Mengapa Rasa Bosan Sering Datang?

Baru sepekan ikut pelatihan dan semangat meroket, pada hari ke-8 Roni tiba-tiba kehilangan semangat. Begitu teman-temannya bertanya, kenapa berhenti latihan. Roni dengan lemas menjawab, “Bosan, bro”. Apakah teman-teman ada yang memiliki pengalaman serupa? Mengapa rasa bosan sering datang?

Meski malas, Roni masih punya kesadaran untuk kembali aktif melakukan latihan. Ia masih punya asa walau terus menipis dan terkikis untuk benar-benar berubah dan menjadi pribadi dengan semangat hidup yang lebih baik. Tapi, lagi-lagi Roni belum mampu menghadang arus malas yang terlanjur menguasai pikiran dan kesadarannya.

Lemahnya Komitmen

Brian Tracy dalam “The Law of Luck” menegaskan bahwa manusia adalah hasil dari cara berpikirnya. Lebih tepatnya adalah kebiasaan berpikirnya. Kalau apa yang Roni alami adalah hal pertama, maka ia penting segera melakukan perubahan cara dan kebiasaan berpikir. Walakin, kalau itu adalah hal yang telah berulang, maka ia butuh mengencangkan sabuk komitmennya.

Komitmen dalam hal ini adalah kekuatan tindakan. Masih kata Tracy, kalau kita ingin hidup lebih baik, ingin lebih bahagia, atau memperoleh kemujuran, maka kita harus mendesain kehidupan ini dengan baik. Dengan begitu dalam 24 jam kita lebih banyak tindakan yang hasilnya adalah seperti yang kita inginkan.

Nah, kalau kita renungkan dengan mendalam, malas itu datang kepada orang yang komitmennya sedang lemah. Dan, seperti peperangan, kalau “pasukan” komitmen semakin sedikit, maka malas akan semakin menguasai kesadaran. Alhasil jiwa kita mudah sekali terseret oleh rasa bosan. Itulah alasan mengapa dalam Islam ada perintah shalat fardhu, supaya kita tak kehilangan disiplin, orientasi bahkan komitmen.

Jangan Tunggu Tapi Jemput

Lebih jauh, kebosanan, sejatinya, adalah sinyal bahwa pikiran kita sedang “menganggur” dari visi besar yang ingin kita capai. Jika Roni—dan juga kita—ingin benar-benar lepas dari jeratan rasa malas, kuncinya bukan menunggu semangat itu datang kembali. Justru sebaliknya, kita harus bergerak menjemput semangat itu melalui paksaan tindakan yang terukur.

Kalau merujuk pandangan Brian Tracy ini sebagai disiplin diri; kemampuan untuk melakukan hal yang seharusnya dilakukan, pada saat yang tepat, terlepas dari apakah kita sedang menyukainya atau tidak.

Oleh karena itu obat paling mujarab untuk mengusir kebosanan adalah gerak nyata. Ketika rasa malas membisikkan untuk “berhenti sejenak”, logikanya harus kita balik: “inilah saatnya untuk berlari lebih kencang”.

Seperti kala akan shalat berjamaah sebagai makmum, kita harus lurus dan rapat. Begitu pun kita dalam aktivitas harian, mesti padat akan kebaikan, kita tidak memberikan celah sedikitpun bagi rasa bosan untuk memanipulasi kesadaran.

Ingatlah, air yang tergenang perlahan akan menjadi keruh dan berbau, tetapi air yang terus mengalir akan senantiasa jernih dan menghidupkan sekitarnya.

Jadi, mulai hari ini, mari ubah sudut pandang kita secara total. Kebosanan bukanlah tanda untuk berhenti, melainkan ujian kenaikan kelas untuk membuktikan seberapa kuat “otot” komitmen yang kita miliki.

Jangan biarkan perasaan memimpin tindakan, tetapi biarkan tindakan yang mendikte perasaan. Dengan cara inilah, kebaikan tidak lagi menjadi beban sesaat, melainkan menjadi kebutuhan jiwa yang menentramkan.

Teman-teman, teruslah bergerak, karena dalam setiap gerakan yang istiqomah, pasti ada jalan kemudahan yang terbentang.*

Mas Imam Nawawi