Dahulu orang sulit mendapat akses untuk bisa meningkatkan kualitas diri. Saya pun jarang menemukan buku kala masih SD sekitar tahun 90-an. Bahkan perpustakaan sekolah pun hanya sebuah lemari yang berisi buku dalam jumlah yang masih apa adanya. Tapi sekarang, semua telah terpasang, mulai dari internet hingga AI. Tapi apakah fasilitas yang melimpah akan menjadikan orang otomatis mencapai peningkatan kualitas diri?
Seperti kata orang, tak ada makan siang gratis. Rasanya begitu juga dengan kehidupan setiap orang, tak ada yang otomatis untuk menjadi pribadi berkualitas. Sebatas untuk menjadi pemain sepakbola terbaik dunia, Cristiano Ronaldo harus membangun disiplin berlatih dengan begitu ketat.
Artinya, apa yang Brian Tracy tulis dalam bukunya “The Laws of Luck” orang akan meningkat kualitasnya kalau banyak bertindak. Tentu saja tindakan yang relevan, yang memungkinkan mendatangkan akibat yang kita harapkan. Sama dengan Ronaldo, Khabib Normagomedov juga demikian. Ia melatih kekuatannya dapat fokus pada cara mengunci setiap lawannya dalam pertandingan di oktagon.
Dan, sebelum manusia berbicara soal itu, Alquran telah menegaskan. “Bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya” (QS. An-Najm: 39).
Melakukan Apa?
Pertanyaan selanjutnya, kita harus melakukan apa? Lakukan apa yang membuat kualitas diri kita meningkat. Misalnya seorang pelajar, katakan SMP atau SMA. Ia ingin ke depan hidup bahagia dan bisa membantu orang tua. Maka ia harus membaca, peluang apa dan kompetensi apa yang relevan untuk dimiliki ke depan, yang harus ia latih sejak sekarang.
Dalam era digital seperti sekarang, kemampuan membaca, teknologi dan interaksi sangatlah penting. Itu berarti 24 jam harus benar-benar ia kelola untuk bisa menguasai itu semua. Shalat, dzikir, tilawah tetap jalan. Tapi itu harus menjadi fondasi untuk haus belajar dan tak lelah mendesain diri untuk menjadi lebih berkualitas.
Sedikit menengok ke dalam sejarah, Khalid bin Walid ra, bisa menjadi panglima Islam yang tak pernah kalah dalam setiap pertempuran, maka itu karena memang ia terbiasa gulat. Ia juga lihai dalam menggunakan panah, tombak, pedang dan mampu menunggang kuda dan unta dengan sangat baik. Semua itu lahir karena latihan yang memang ia lakukan sejak kecil.
Jadi, temukan apa yang penting kita lakukan. Kemudian desain itu menjadi regulasi diri, desain dengan sangat baik, kemudian jadikan fokus dalam hidup.
Menjemput “Takdir”
Pada akhirnya, melimpahnya fasilitas di era digital hanyalah sebuah instrumen, bukan jaminan kesuksesan.
Peningkatan kualitas diri bukan terjadi secara otomatis karena kecanggihan teknologi, melainkan lahir dari keberanian kita untuk mendesain disiplin yang ketat dan melakukan ikhtiar yang benar-benar terukur.
Sebagaimana disiplin Ronaldo di lapangan hijau atau ketangguhan Khalid bin Walid dalam latihan militer sejak belia, setiap pencapaian besar selalu memiliki harga berupa konsistensi tindakan.
Dengan menyelaraskan antara fasilitas yang ada, manajemen waktu yang bijak, serta fondasi spiritual yang kokoh, kita tidak lagi sekadar menunggu perubahan, melainkan sedang aktif menjemput takdir kualitas diri yang lebih mulia.
Inilah desain hidup yang sesungguhnya: sebuah perpaduan antara doa, usaha, dan regulasi diri yang tak kenal lelah. Nah, apakah kita telah punya “kegelisahan” model ini?*


