Ketika orang memimpikan memiliki harta berlimpah, ternyata tidak tenang juga. Memang dia bisa belanja-belanja. Tapi ketenangan tak dijual di mall. Begitupun saat orang mencapai impiannya, selama itu sifatnya materi, tenang tak kunjung datang. Lantas apa penting kita miliki? 3 Hal utama berikut ini.
Pertama, sadari kita adalah hamba Allah. Namanya hamba terserah Allah bagaimana memberikan kehidupan kepada kita.
Sebagai hamba kita tidak bisa memilih hidup sezaman Nabi Adam as atau pun era Nabi Muhammad SAW. Sisi lain, kalau kita menganggap masa sekarang itu buruk dan membayangkan masa Nabi lebih enak, jangan-jangan pas era Nabi Musa, kita memilih ikut Fir’aun daripada Nabi Musa.
Jadi secara prinsip, sebagai hamba mari terima apapun yang kita alami dalam kehidupan dunia ini. Allah telah mengukur dan Allah pasti menolong. Sejauh kita yakin dan tetap beramal shaleh.
Tenang dengan Syukur
Kedua, kita harus memiliki kesadaran bersyukur. Artinya kita fokus pada hal-hal baik yang telah Allah berikan. Misalnya kita bisa membaca Alquran, ya, jangan tidak membaca. Bahkan kita harus meningkatkan cara kita membaca mukjizat akhir zaman itu.
Kemudian, hargai apa yang telah Allah berikan. Berupa rumah, kendaraan, ya, walaupun sederhana. Itu sudah anugerah besar. Termasuk hargai kala istri kita menyediakan secangkir kopi hangat di pagi hari.
Jangan kira, itu tidak datang dengan sendirinya. Tapi Allah SWT yang menggerakkan untuk kita.
Tapi bagaimana kalau ada masalah? Apakah kamu mau memegang beras seberat 1 Kg terus-menerus? Tidak bukan. Jadi tugasmu adalah letakkan masalah dan bersyukurlah. Nanti ada waktu memikirkan, berjuang mengatasinya dan menemukan solusinya.
Mindset Surga
Ketiga, miliki mindset surga. Ini adalah cara kita meletakkan logika atas bimbingan wahyu. Dengan cara ini tentu kita akan mudah masuk surga daripada terjun bebas ke neraka.
Apa konkretnya? Mari pelan-pelan kita cermati ini.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).
Maknanya, apa yang kita alami itu baik. Tinggal kita berjuang menemukan hikmahnya. Ego memang penting agar kita punya prinsip hidup. Tapi memandang apapun dengan kacamata ego bisa kacau mindset kita.
Oleh karena itu tundukkan akal dan ego kita pada bimbingan Alquran.
Kalau tiga hal itu ada dalam hidup seseorang, termasuk saya dan kamu juga, insya Allah kita akan tenang menjalani hidup ini.
Jelasnya, kita bisa semakin kuat iman kepada Allah. Stress berkurang. Kemudian kinerja bisa meningkat. Kita bebas dari pesimisme, suka mengeluh dan kalau kerja tidak beres. Semoga kita bisa menjadi pribadi yang hidupnya tenang, menginspirasi dan menggerakkan sesama.*


