Ketika kita mengatakan tidak bisa (untuk hal yang benar dan baik), maka otak akan bekerja mencari argumentasi. Bahwa kita memang tidak bisa, terutama bisa berubah menjadi lebih baik. Begitu saya temukan dalam buku “The Psychology of Habit” karya David J. Lieberman. Oleh karena itu kita mesti punya sikap mau belajar agar otak bekerja untuk kita menjadi lebih baik dari masa-masa sebelum ini.
Saya juga cukup surprise ketika Lieberman mengutip tentang Bung Karno. Menurutnya proklamator Indonesia itu adalah sosok yang penuh semangat menjadi lebih baik. Utamanya untuk bangsa dan rakyat Indonesia bisa merdeka.
Bung Karno katanya termasuk orang-orang yang tidak pernah mau menyerah meski banyak rintangan. “Selalu bangkit lagi dengan menjadi lebih kuat.”
Lantas apa tiga hal yang harus kita miliki untuk benar-benar bisa berubah menjadi lebih baik?
Kesadaran
Ketika Umar bin Khattab ra membaca Alquran untuk pertama kali, kesadarannya bekerja. Tidak mungkin Muhammad yang membawa wahyu ini berkehendak tidak baik. Lantas atas dasar apa saya membencinya. Umar pun segera bergegas menemui Nabi Muhammad SAW untuk bersyahadat.
Itulah buah dari kesadaran. Kesadaran mendorong manusia berubah lebih baik tanpa menunggu apapun. Oleh karena itu kalau ada orang tersentuh hidayah, maka sedetik kemudian dia akan bersyahadat.
Akan tetapi, orang yang walaupun mengkaji Islam puluhan tahun – seperti kaum Orientalis – ketika kesadarannya tidak tersentuh maka ia selamanya akan menjadi orang yang “tahu” soal Islam. Tetapi tidak bisa menjadi orang yang merasakan indah dan manisnya ajaran Islam.
Dalam skala pribadi yang lebih kecil, orang mungkin masih malas untuk shalat. Tapi kalau melihat orang dengan harta benda dan kekayaannya seketika menjadi tidak punya apa-apa karena bencana, apakah iya kesadaran kita mengatakan kekayaan bisa menjadi sandaran hidup yang sesungguhnya. Kalau fakta itu tak mampu menggugah kesadarannya, shalat tidak akan ia dirikan.
Pergaulan
Langkah selanjutnya adalah memastikan pergaulan mengarah pada kondisi kita menjadi lebih baik.
Dalam hal menulis, saya sejak SMA memang senang menulis. Namun, begitu bergaul dengan Kang Maman, saya punya kesadaran tersendiri dalam hal menulis. Kata Kang Maman menulis itu membaca berulang kali. Artinya menulis memang menuntut kita semangat dalam membaca.
Alhasil, saya semakin menikmati aktivitas menulis. Bukan karena menulis membuat saya bisa seperti Kang Maman dengan karya-karya hebatnya. Tapi saya bersyukur bisa menulis karena itu membuat saya bisa mengamalkan perintah Allah untuk terus Iqra’.
Jadi, pilih orang yang lebih senior, yang berpengalaman dan baik, untuk bisa menjadi mentor kita. Jika itu kita temukan, insya Allah pergaulan kita akan mendukung apa yang kita harapkan dalam hidup ini.
Konsistensi
Banyak orang ingin berhasil, tapi mereka enggan untuk konsisten. Padahal konsisten adalah oli bagi mesin motor atau mobil. Dalam kata yang lain, bensin penuh tapi oli tidak ada, kerja kendaraan akan masalah. Begitupun kita, banyak pengetahuan, banyak teman, tapi kalau tidak konsisten dalam satu kebaikan, kita akan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu kembali pada narasi Lieberman soal Bung Karno, jadilah pribadi yang yakin dalam memilih satu jalan hidup. Kemudian berjuanglah hingga titik penghabisan. Jangan biarkan ada rongga dalam cara berpikir kita bagi yang namanya keraguan.
Apabila tiga hal ini ada dalam kehidupan kita mulai sekarang, ke depan kita akan benar-benar bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Jadi, saatnya untuk membuktikan.*


