Mas Imam Nawawi

- Kisah

Belajar Keadilan dan Hakikat Ilmu dari Yunus Emre, Siapakah Dia?

Menonton film sejarah bukan sekadar menikmati visual masa lalu. Tapi cara ringan untuk menjadi manusia yang tidak mudah layu. Seperti yang saya lakukan pada Malam minggu (20/12/25). Saya mendalami kisah Yunus Emre, penyair besar asal Anatolia yang hidup pada abad ke-13. Melalui Episode 1, saya bisa belajar bahwa ilmu pengetahuan bukan sekadar hafalan, melainkan jalan […]

Belajar Keadilan dan Hakikat Ilmu dari Yunus Emre: Catatan Berharga Episode 1

Menonton film sejarah bukan sekadar menikmati visual masa lalu. Tapi cara ringan untuk menjadi manusia yang tidak mudah layu. Seperti yang saya lakukan pada Malam minggu (20/12/25). Saya mendalami kisah Yunus Emre, penyair besar asal Anatolia yang hidup pada abad ke-13. Melalui Episode 1, saya bisa belajar bahwa ilmu pengetahuan bukan sekadar hafalan, melainkan jalan hidup yang penuh tanggung jawab.

Sayangnya hari ini kita menemukan fenomena, semakin orang berilmu semakin ingin ia mendapat kompensasi materi. Padahal hakikat ilmu adalah cahaya, ia menerangi, bukan menghimpun kekayaan pribadi.

Hakikat Ujian dan Kedalaman Pengetahuan

Yunus Emre memulai perjalanannya di Madrasah Karatay. Satu pelajaran penting muncul saat momen ujian tiba. Kita sering menganggap guru adalah penentu segalanya. Namun, film ini menegaskan sudut pandang berbeda.

“Dalam ujian sebenarnya bukan guru yang menilai, tetapi sedalam apa pengetahuan seseorang sepanjang belajar.” Itu adalah satu ungkapan dari salah satu guru yang akan menguji Yunus Emre, sebelum akhirnya Yunus akan bertugas menjadi seorang Qadi (hakim).

Kalimat ini menyentil kita semua. Guru hanya memvalidasi, namun kualitas diri bergantung pada proses internalisasi ilmu tersebut.

Kita tahu, ilmu adalah cahaya Allah. Maka pemahaman itu membuat Yunus Emre merasa bisa segalanya. Ia selalu berdoa.

Sebelum menghadapi tantangan, Yunus Emre selalu bersandar pada Allah. Ia berdoa agar Allah memberikan kesuksesan, baik untuk ujian saat ini maupun ujian-ujian di masa depan.

Ilmu: Jalan Sempit Menuju Kebenaran

Film ini menggambarkan pengetahuan dengan metafora yang sangat dalam. Pengetahuan bukanlah jalan tol yang luas dan bebas hambatan.

Sebaliknya, kata sang guru, “pengetahuan adalah jalan yang sempit.”

Di satu sisi ada surga, di sisi lain ada neraka. Ilmu juga bersinggungan dengan masa depan, kedudukan, jabatan, bahkan ego diri sendiri.

Jika seseorang salah melangkah atau menyalahgunakan ilmunya, ia akan jatuh ke dalam lubang kesombongan.

Singkatnya ilmu harus menjadikan kita seperti Nabi Adam, mengakui kesalahan dan bertaubat kepada Allah. Bukan seperti Iblis yang malah ingkar dan menantang Allah SWT.

Karakter Muslim dan Keadilan yang Mutlak

Selain soal ilmu, episode ini menyoroti karakter ideal seorang Muslim.

Seorang beriman tidak hanya pandai bicara atau berteori. Karakter umat Islam sejati adalah komitmen nyata untuk bekerja dan melayani sesama.

Alhamdulillah dalam konteks banjir Aceh dan Sumatera kita temukan umat Islam bahu-membahu memberikan bantuan.

Nah, pesan paling kuat muncul dalam diskusi mengenai hukum.

Penulis skenario menyelipkan pengingat tajam: “Ketika umat Islam lari dari keadilan, maka semua masalah akan muncul.”

Keadilan bukan sekadar urusan pengadilan. Keadilan adalah fondasi utama yang menjamin terjaganya perdamaian dan persatuan bangsa.

Mengembalikan Segalanya kepada Sang Pencipta

Seluruh pencapaian Yunus Emre bermuara pada satu kesadaran spiritual. Ia memahami bahwa “apapun yang kita miliki ini berasal dari Allah.”

Kesadaran ini menjauhkan manusia dari sifat rakus dan tinggi hati.

Kisah Yunus Emre mengajarkan kita bahwa kesabaran, toleransi, dan kedermawanan adalah buah dari ilmu yang benar.

Kini, mari kita jadikan nilai-nilai ini sebagai kompas dalam kehidupan sehari-hari. Dan, pada era seperti sekarang, kita tak selalu harus mendapat hikmah dengan membaca buku dengan halaman ratusan apalagi ribuan. Melalui film pun kita bisa menemukannya.*

Mas Imam Nawawi