Mas Imam Nawawi

- Kisah

3 Pesan dari Orang Usia 68 Tahun, Bagus Kita Terapkan

Dalam satu momen (pertengahan Desember 2025), saya bersama dua kolega bersilaturahmi dengan seorang senior di Depok, Jawa Barat, usianya 68 tahun. Tapi fisiknya masih kuat, bicara jelas dan berinteraksi dengan sangat baik. Nah, apa yang menarik dari pertemuan itu, tidak lain adalah 3 pesan darinya. Mengapa bukan tips sehat yang dia terapkan? Karena sejatinya kita […]

3 Pesan dari Orang Usia 68 Tahun, Bagus Bagi Kita Semua

Dalam satu momen (pertengahan Desember 2025), saya bersama dua kolega bersilaturahmi dengan seorang senior di Depok, Jawa Barat, usianya 68 tahun. Tapi fisiknya masih kuat, bicara jelas dan berinteraksi dengan sangat baik. Nah, apa yang menarik dari pertemuan itu, tidak lain adalah 3 pesan darinya.

Mengapa bukan tips sehat yang dia terapkan? Karena sejatinya kita sudah memiliki pengetahuan, menjadi tetap energik, walau usia telah senja, bisa kita mulai dari melakukan hal-hal baik dari sekarang, selagi muda.

Kita tahu dalam hidup manusia itu ada tiga jenis usia. Yaitu usia mental, usia kronologis, dan usia fisik. Dan, untuk mencapai kebaikan panjang, semua usia itu harus kita perhatikan sebaik mungkin, terutama usia mental.

Pesan Pertama

Jika seseorang ingin tubuhnya sehat, bahkan sembuh dari sakit sekalipun, maka kita harus berprasangka baik kepada Allah SWT. Begitu senior tersebut menuturkan kepadaku dan teman-teman.

Tidak sedikit orang yang misalnya sakit, ia kehilangan semangat. Ia bahkan mulai memasang prasangka yang tidak seharusnya kepada Allah.

“Padahal bagaimana Allah berkomitmen kepada kita, tergantung pada prasangka kita sendiri kepada Allah. Yang, prasangka itu kita buktikan dengan komitmen kita untuk taat, percaya sepenuhnya kepada Allah,” tegasnya.

Saya teringat akan kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Zakaria. Keduanya telah berusia lanjut, sementara keduanya belum memiliki keturunan. Akan tetapi mental mereka tidak terganggu. Keyakinan kepada Allah akan memberikan jawaban semakin membara. Hasilnya, Allah pun memberikan keduanya keturunan.

Jadi, pesan pertama ini benar-benar luar biasa. Terbukti dalam sejarah dan teruji dalam kehidupan manusia masa kini.

Pesan Kedua

Orang yang berhasil meraih sukses punya kunci untuk mencapainya. Salah satu kunci paling penting adalah konsistensi (istiqomah) dalam satu kebaikan.

“Saya tidak bisa mengamalkan seluruh ajaran Islam. Tapi menarik saat saya punya kebiasaan infaq melalui kotak infak pada hari Jumat. Kala itu saya berada di Masjid Nabawi, tepat hari Jumat. Saya ingin infak tapi tidak menemukan kotak infak. Tiba-tiba ada orang asing datang dan membawakan kotak infak seperti yang biasa saya lihat di Indonesia, maka saya berinfak pada hari itu,” ungkapnya.

Saya pun ingat akan hadits Nabi SAW. ”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya.(HR. Muslim).

Pesan Ketiga

Setiap orang sukses baik dalam perkara dunia maupun akhirat, selalu memiliki sosok mursyid.

“Mursyid ini sederhana saja maknanya. Yaitu orang yang “seprofesi” dengan kita, tetapi ia lebih alim, lebih paham ilmu-ilmu dalam Islam, sehingga kita menjadi semakin ingin dekat kepada Allah. Meski kita adalah pegawai, karyawan, atau pun profesional,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa banyak orang gagal, karena ia berprofesi sebagai pebisnis tetapi mengambil mursyid dari kelompok senior dari pegiat sosial. Kondisi yang demikian tidak akan banyak membantu.

Saya pun ingat akan sosok Ali ra. Ia adalah anak muda yang mendapat mentoring langsung dari Rasulullah SAW. Kita bisa saksikan langsung bagaimana Ali tumbuh menjadi sosok hebat. Sampai-sampai Rasulullah SAW menyebut Ali adalah pintunya ilmu yang Nabi miliki.

Pesan ini tentu sebagian kecil dari cara dan langkah hidup yang panjang, sehat dan bermanfaat. Sampai sekarang pria berusia 68 tahun itu aktif menghitung hartanya kemudian menunaikan zakat sesuai ketentuan Islam.

Menurutnya, langkah itu penting supaya kita tak menjadi manusia bermental hewan, tidak peduli lagi kepada aturan Allah, juga tidak mau tahu kondisi sesama. Padahal nilai kita sebagai khalifah harus bisa menjalankan perintah Allah demi kemaslahatan hidup sesama dan semuanya.*

Mas Imam Nawawi