Setiap hati manusia pasti bahagia memiliki keturunan. Apalagi anak merupakan penyempurna kehidupan sepasang kekasih (suami-istri) dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Namun, satu hal, yaitu tentang status anak kita di dalam kehidupan dunia. Benarkah kita telah memperkenalkannya dengan baik?
Anak memang betul memerlukan jajan, makanan, minuman, pakaian, bahkan kasih sayang. Namun lebih dalam anak sebenarnya butuh mengerti tentang siapa sebenarnya mereka dalam kehidupan dunia ini.
Seorang ayah pernah memberi nasihat kepada anaknya yang masih sekolah SD. “Nak, kamu itu adalah khalifah Allah. Kamu tidak Allah hadirkan dalam kehidupan dunia ini semata untuk bermain. Tetapi menjadi manusia yang cerdas. Cerdas dalam arti gemar membaca, pandai mengambil pelajaran dan bermanfaat bagi orang lain. Seharusnya waktumu lebih banyak kamu gunakan untuk menjalankan amanah sebagai khalifah Allah, memimpin dengan adab sesuai ketentuan-Nya.”
Tanggapan Sang Anak
Satu hal yang menarik adalah anak yang mendapatkan nasihat itu ternyata mampu memberikan tanggapan yang menarik. Ia berkata, “Dalam hidup ini kita tidak hanya bersenang-senang. Jadi, saya akan belajar lebih giat lagi.”
Saya pun teringat nasihat Luqman Al-Hakim kepada putranya. “Wahai anakku jangan kamu mempersekutukan Allah. Karena syirik adalah kezaliman yang besar”.
Nah, ternyata Islam memang mendorong agar anak-anak kita itu paham akan posisi dan statusnya. Sebagai khalifah Allah dan sekaligus sebagai hamba Allah. Kalau ini bisa orang tua jelaskan dengan rasional, sesuai kapasitas anak menyerapnya sejak dini, maka insya Allah akan tumbuh generasi yang kuat: Integritas dan kepemimpinannya.
Akan tetapi bagaimana kalau anak tidak pernah mendengar itu dari ayah dan ibunya. Selalu ayah dan ibunya khawatir akan masa depan anak dalam hal-hal materi belaka.
Visioner
Dengan demikian kebahagiaan memiliki keturunan tidak boleh berhenti pada pemenuhan kebutuhan fisik semata, seperti sandang dan pangan. Narasi dalam artikel ini mengingatkan kita akan pentingnya pengenalan identitas spiritual anak sebagai “Khalifah Allah”. Sebab itulah cara hidup yang benar-benar visioner.
Ini adalah pondasi pendidikan yang sering terlupakan namun paling krusial. Anak yang memahami status hakikinya sejak dini tidak akan tumbuh sekadar sebagai pencari kesenangan duniawi, melainkan menjadi manusia sadar peran yang siap memimpin dengan adab, cerdas mengambil pelajaran, dan berorientasi memberi manfaat bagi sesama.
Keteladanan Luqman Al-Hakim dan dialog ayah-anak tersebut membuktikan bahwa anak memiliki kapasitas nalar untuk menerima nilai-nilai luhur jika disampaikan dengan bahasa yang tepat.
Menanamkan kesadaran tauhid dan tanggung jawab kepemimpinan akan melahirkan generasi berintegritas kuat yang tidak mudah terombang-ambing oleh arus materialisme. Sebaliknya, jika orang tua hanya menularkan kekhawatiran akan masa depan materi tanpa menyentuh aspek substansial ini, kita berisiko mencetak generasi yang rapuh jiwanya meski sejahtera fisiknya.
Oleh karena itu, sangat direkomendasikan bagi setiap orang tua untuk memulai dialog bermakna dengan buah hati mulai hari ini. Jangan biarkan hari berlalu tanpa mengingatkan mereka bahwa kehadiran mereka di dunia membawa misi besar dari Sang Pencipta, bukan sekadar pelengkap keluarga.
Jelaskan status mereka sebagai hamba dan pemimpin di muka bumi secara rasional dan penuh kasih sayang, agar kelak mereka tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara spiritual dan moral.*


