Perjalanan ribuan kilometer (1900 Km) dari Jakarta ke Medan bukan sekadar urusan jarak. Ia membuka ruang refleksi: jalan raya, lautan, dan pegunungan menjadi guru diam yang mengajarkan sabar, kerendahan hati, dan keteguhan. Saya benar-benar menemukan hal-hal esensial bagi hidup yang bahagia dalam perjalanan ini.
Pertama, perjalanan ini mengingatkan kita bahwa hidup bukan perlombaan, melainkan proses. Coba perhatikan, orang yang meraih sukses dengan tanpa melalui proses yang benar, kehancurannya pun cepat bahkan tragis. Jadi, nikmatilah proses yang harus kita lalui dalam kehidupan ini. Mesin bisa membantu efisiensi, tapi keberhasilan bukan mesin yang menentukan.
Sisi lain, saat terjebak kemacetan di Jakarta, menghadapi delay kapal, atau melewati jalan berlubang di Lintas Timur Sumatera, kita terpaksa melambat—dan justru di sanalah kita belajar hadir. Kita sadar: keindahan tak selalu menanti di tujuan, tetapi sering kali terselip dalam ketidaknyamanan yang membentuk jiwa.
Perjalanan ini melatih mental untuk memahami makna sejati sebuah perjalanan—bukan hanya soal stamina, tetapi juga komitmen sampai akhir dan tujuan yang harus benar-benar mulia..
Kekayaan Indonesia
Kedua, keragaman yang menyambut di sepanjang rute memperlihatkan kekayaan Indonesia yang sesungguhnya. Dari logat Betawi hingga aksen Karo, dari soto Betawi sampai gule lomak Medan, semuanya mengingatkan kita: keberagaman bukan penghalang, melainkan jembatan saling memahami.
Dalam hal ini, kita belajar bahwa kebijaksanaan tak selalu datang dari buku, tetapi dari senyum tulus penjual kopi, tawa pedagang buah, atau obrolan hangat sesama musafir.
Sahabat saya pernah berkata, “Masjid-masjid di sepanjang jalan Palembang–Medan itu bagus-bagus.” Memang, jejak spiritual para pendahulu masih hidup di sana. Dalam kata yang lain masih ada penghormatan pada sisi spiritual, meski sebenarnya perlu juga implementasi spiritual secara lebih operasional.
Hancurkan Ilusi Kendali
Ketiga, perjalanan ini menghancurkan ilusi kendali. Ketika tubuh lelah atau sinyal menghilang di pegunungan, kita menyadari betapa kecilnya rencana manusia dihadapan takdir. Pada titik itu, kita belajar tawakal: menerima, berikhtiar, lalu menyerahkan segalanya kepada-Nya.
Namun, hikmah teragung bukan yang kita alami hari ini, melainkan yang para ulama zaman dahulu teladankan. Mereka tempuh jarak yang jauh lebih berat—tanpa aspal, tanpa GPS, bahkan tanpa jaminan hidup—hanya demi membawa cahaya ilmu ke pelosok Sumatera.
Mereka berjalan kaki, naik perahu kayu, atau menunggang kuda, lalu mendirikan pesantren di tengah hutan dan balik gunung, demi menyalakan lampu akhlak dan ilmu di tengah masyarakat.
Dan, saya menyaksikan itu. Beberapa bisa saya kunjungi, seperti Pesantren Hidayatullah Jambi, Pekanbaru dan Tanjung Morawa Deli Serdang hingga di Besitang, Langkat. Pesantren yang gelap kala malam 4 tahun silam, kini sudah mulai terang. Masjid pun nyaman dan kalau ada tamu, sudah ada tempat yang bisa digunakan untuk meluruskan badan.
Merekalah para musafir hakiki: bukan sekadar pindah tempat, tetapi menggerakkan sejarah. Keteguhan mereka lahir bukan dari kekuatan jasmani, melainkan keyakinan bahwa ilmu adalah amanah, dan setiap langkah dalam menuntut serta menyebarkannya adalah ibadah.
Maka, saat lelah menyergap—dalam perjalanan fisik maupun hidup—ingatlah jejak mereka. Jejak yang tak hanya menghubungkan kota, tetapi juga menyambungkan generasi dan visi.*


