Mas Imam Nawawi

- Artikel

Apakah Kita Benar-benar Sudah Punya Ide? Menakar Kualitas Solusi Bangsa

Baru-baru ini, seorang teman melontarkan kegelisahan yang cukup menohok. Ia berujar bahwa bangsa ini akan sulit merangkak maju jika para pemimpinnya tidak memiliki ide yang segar dan relevan. Saya sempat menyahut dengan nada santai, “Mereka itu orang-orang pintar, setidaknya secara rekam jejak pendidikan.” Namun, ia kembali mengejar dengan pertanyaan yang membuat saya terdiam sejenak: “Apakah […]

Apakah Kita Benar-benar Sudah Punya Ide? Menakar Kualitas Solusi Bangsa

Baru-baru ini, seorang teman melontarkan kegelisahan yang cukup menohok. Ia berujar bahwa bangsa ini akan sulit merangkak maju jika para pemimpinnya tidak memiliki ide yang segar dan relevan. Saya sempat menyahut dengan nada santai, “Mereka itu orang-orang pintar, setidaknya secara rekam jejak pendidikan.”

Namun, ia kembali mengejar dengan pertanyaan yang membuat saya terdiam sejenak: “Apakah gelar dan pengalaman birokrasi menjamin seseorang pasti memiliki ide?”

Pertanyaan itu membawa saya pada perenungan mendalam. Kita sering mencampuradukkan antara “pengetahuan” dan “ide”. Padahal, pengetahuan tanpa kemampuan mengeksekusi ide hanyalah perpustakaan yang berdebu.

Ide Sebagai Kunci Keberuntungan dan Pemecah Kebuntuan

Dalam bukunya yang fenomenal, The Laws of Luck, Brian Tracy menegaskan bahwa ide adalah kunci masa depan. Ide bukan sekadar lamunan di siang bolong, melainkan cara konkret untuk mencapai tujuan dan meruntuhkan rintangan.

Tracy menekankan sebuah poin penting: “Ide adalah alat yang kita gunakan untuk menyelesaikan masalah.”

Logikanya sederhana namun tajam. Jika kita masih bergelut dengan masalah yang sama bertahun-tahun—baik dalam skala pribadi, organisasi, maupun bernegara—itu adalah sinyal kuat bahwa kita sebenarnya belum punya ide. Mengapa? Karena jika ide itu ada dan dieksekusi, masalah tersebut seharusnya sudah terurai.

Tracy berargumen bahwa mereka yang memiliki ide akan lebih mudah meraih kesejahteraan, ketenangan, dan kesuksesan. Hal ini karena ide-ide baru mengandung elemen kunci dari apa yang sering kita sebut sebagai “keberuntungan”.

Keberuntungan, dalam konteks ini, adalah pertemuan antara kesiapan mental dan peluang yang diciptakan oleh ide kreatif.

Menumbuhkan Budaya Berpikir Kreatif di Setiap Lini

Lantas, bagaimana agar kita tidak sekadar menjadi penghafal masalah, tapi menjadi penghasil ide?

  1. Berhenti Mengeluh, Mulai Memetakan: Masalah adalah bahan baku ide. Ubah keluhan menjadi pertanyaan: “Bagaimana cara memperbaiki ini?”
  2. Perbanyak Referensi: Ide jarang muncul dari ruang hampa. Membaca, berdiskusi, dan mengamati adalah cara memberi “nutrisi” pada otak kita.
  3. Keberanian Mengeksekusi: Ide terbaik sekalipun akan mati jika hanya disimpan di kepala. Keberuntungan hanya menghampiri mereka yang berani mencoba.

Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tapi mungkin kita sedang krisis keberanian untuk melahirkan ide-ide yang “di luar kotak”.

Mari kita mulai bertanya pada diri sendiri sebelum tidur malam ini: Apakah hari ini saya sudah melahirkan satu ide untuk mempermudah hidup orang lain?*

Mas Imam Nawawi