Mas Imam Nawawi

- Kisah

Jika Memimpin Jangan Abaikan Musyawarah: Sebuah Risiko Kehancuran

Apa yang seharusnya menjadi kesadaran utama bagi seorang pemimpin di level mana pun? Jika mencari jawaban yang mutlak, jawabannya adalah musyawarah. Pemimpin sejati harus memahami dan menjalankan prinsip musyawarah dengan sebaik-baiknya. Hal ini bukan semata karena musyawarah adalah tradisi mulia dalam Islam, melainkan karena ia merupakan cara paling efektif dalam menemukan jalan keluar dari berbagai […]

Jika Memimpin Jangan Abaikan Musyawarah: Sebuah Risiko Kehancuran

Apa yang seharusnya menjadi kesadaran utama bagi seorang pemimpin di level mana pun? Jika mencari jawaban yang mutlak, jawabannya adalah musyawarah. Pemimpin sejati harus memahami dan menjalankan prinsip musyawarah dengan sebaik-baiknya.

Hal ini bukan semata karena musyawarah adalah tradisi mulia dalam Islam, melainkan karena ia merupakan cara paling efektif dalam menemukan jalan keluar dari berbagai persoalan, sekaligus memitigasi potensi masalah di masa depan.

Jika masih ragu, mari kita bedah beberapa kasus kecil dalam kepemimpinan yang akan menyadarkan kita betapa krusialnya musyawarah bagi seorang pemimpin.

Resentimen dan “Kemarahan” Bawahan

Saya menggunakan istilah “kemarahan” karena itulah realitas yang sering terjadi di lapangan. Dalam satu momentum, seorang Kepala Sekolah mengambil sebuah keputusan. Padahal, keputusan tersebut berada di luar ranahnya dalam garis komando. Ada sub-pemimpin yang mestinya ia ajak bicara, namun ia abaikan.

Alhasil, sub-pemimpin tersebut merasa dikesampingkan. Padahal, secara struktural, itu adalah kewenangannya. Berbagai prasangka pun muncul: mulai dari perasaan tidak mendapat pengakuan dan penghargaan, hingga label bahwa sang pemimpin bersikap otoriter. Kondisi kian memburuk ketika sang Kepala Sekolah melakukan pola yang sama secara berulang.

Kasus lain dapat kita pelajari dari dunia perusahaan. Terdapat sebuah kondisi di mana jajaran komisaris merasa tidak nyaman melakukan evaluasi langsung kepada direksi. Alih-alih bermusyawarah secara resmi, mereka justru memanggil bawahan langsung dari direksi tersebut. Hal ini tentu memicu kebingungan.

Mengapa garis komando tidak berjalan secara hierarkis sehingga struktur organisasi tidak berfungsi maksimal?

Dampaknya, internal perusahaan justru sibuk berdiskusi tentang mekanisme pengambilan keputusan yang nyaris seluruh bawahan menilai itu tidak relevan. Alih-alih karyawan akan bekerja keras, percaya dengan mekanisme perusahaan pun semakin terkikis dari waktu ke waktu.

Kembali ke Esensi Musyawarah

Mengacu pada dua kasus tersebut, kita dapat memahami bahwa tugas utama pemimpin adalah bermusyawarah. Secara makna, musyawarah berarti upaya menemukan solusi bersama berdasarkan kemaslahatan umum dan akal sehat.

Secara etimologis, musyawarah bermakna upaya “mengeluarkan atau memeras madu”. Artinya, sebuah keputusan tidak boleh pemimpin ambil secara serampangan; ia harus benar-benar mampu mengolah proses dengan baik hingga menghasilkan kebaikan.

Musyawarah tidak selalu berarti rapat besar di ruangan formal. Ia bisa dilakukan dengan siapa pun dan kapan pun, bergantung pada level kebutuhan keputusan tersebut.

Sangat relevan apa yang ditegaskan oleh Rais ‘Aam Hidayatullah, KH. Abdurrahman Muhammad: pemimpin yang enggan bermusyawarah adalah pemimpin yang cacat secara moral.

Ini adalah peringatan keras bahwa musyawarah bagi seorang pemimpin adalah “mahkota”. Sekali kita melepasnya, ketidakpercayaan bawahan akan membekas dalam waktu yang sangat lama.*

Mas Imam Nawawi