Sore ini saya membaca sebuah jurnal dengan tema “Gambaran Tingkat Stres Pada Lansia” karya Vindy Dortje Kaunang dan kawan-kawan di Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Menariknya bagi saya adalah bahasan tentang prasangka buruk, yang kalau ada dalam diri seseorang, maka diam-diam itu akan merusak mental.
Saya menemukan penjelasan bahwa prasangka (labelling) adalah penyebab terjadinya stres psikologis pada seseorang. Akibat dari semua itu orang akan sulit menyesuaikan diri. Dan, dalam pandangan saya juga akan gagal memahami situasi dan kondisi secara objektif.
Misalnya, kita bertemu dengan seseorang, katakanlah dia orang yang punya jabatan. Kemudian ia mengucapkan hal yang tidak kita sukai. Daripada terus mengingat ungkapan yang tidak kita sukai, lebih baik kita melihat mengapa orang itu mengatakan hal demikian.
Memahami orangnya akan mendatangkan pengetahuan, pemahaman bahkan pemakluman. Tapi mengingat-ingat terus ungkapannya yang buruk akan menyeret emosi kita, sehingga merasa tidak suka dan enggan membangun komunikasi.
Oleh karena itu kalau kita pelajari Nabi Yusuf kita akan mendapati cara bagaimana membuang prasangka. Yakni dengan menatap ke depan. Ketika saudara-saudara Nabi Yusuf menyadari dan menyesali perbuatannya pada masa lalu, Nabi Yusuf meminta mereka menghentikan ucapan itu. Bahkan Nabi Yusuf mengatakan, tidak ada celaan pada hari ini bagi kalian.
Jawaban Islam
Hidup ini adalah ujian, lebih-lebih bagi orang yang beriman. Allah tidak akan membiarkan orang berkata beriman sedangkan ia tidak mendapatkan ujian.
Nah, salah satu bentuk ujian itu adalah dalam konteks hidup sosial sesama umat Islam. Allah SWT menegaskan bahwa jangan banyak prasangka apalagi suka mencari-cari kesalahan orang lain.
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12).
Ayat itu mendorong kita untuk tidak main prasangka, tapi berusaha menemukan data atau bukti. Ketika seseorang memiliki prasangka tanpa ada bukti apapun, maka orang itu bisa terjebak ke dalam sikap yang terkategori dosa.
Sedemikian indah Islam memberikan regulasi agar mental kita sehat agar kehidupan sosial sesama umat Islam sehat, tangguh dan bersinar.
Dalam kata yang lain, jangan habiskan waktu untuk berdiskusi yang tidak ada bukti, apalagi kalau menyangkut pribadi Muslim lainnya. Ini relevan dengan semangat Iqra’ Bismirabbik, jangan bicara kalau belum membaca.
Langkah Solusi
Dengan demikian kita butuh langkah solusi. Pertama, milikilah cara pandang yang positif. Seperti Nabi Muhammad SAW yang tak berprasangka buruk apalagi benci kepada kaum Thaif yang menolak dakwahnya. Beliau justru berharap Islam masuk ke dalam dada anak keturunan kaum yang malaikat kala itu siap menjatuhkan gunung kepada mereka.
Kalau kita bertemu dengan masalah, maka fokuslah pada akar masalahnya. Jangan terjebak emosi dan membiarkan pandangan negatif mendominasi.
Jika berhadapan dengan sebuah masalah atau konflik, maka fokuslah pada jalan tengah, jangan mau menang sendiri, apalagi karena merasa kuat dan bisa berbuat apapun.
Lebih dalam, jangan berprasangka apalagi buruk, karena itu merugikan diri sendiri secara langsung, sekarang juga. Yang kalau kita terlambat menyadari dan mengatasinya, kerugian sudah datang lebih awal dengan level yang sangat dalam dan memberatkan.*
