Mas Imam Nawawi

- Opini

Pemuda itu Pandai Menyiapkan Diri

Kamis, 8 Januari 2026 Pemuda Hidayatullah menggelar hajatan periodiknya, yakni Musyawarah Nasional, yang kini menjadi helatan ke-9 setiap tiga tahun sekali. Saya sempat bertemu dengan beberapa peserta dari beberapa wilayah seperti Kaltim dan Sulteng. Masih kuat energi memancar dari mereka untuk masa depan umat dan bangsa. Dan, sesuai tema kali ini “Pemuda Berdaya, Indonesia Emas […]

Pemuda itu Pandai Menyiapkan Diri

Kamis, 8 Januari 2026 Pemuda Hidayatullah menggelar hajatan periodiknya, yakni Musyawarah Nasional, yang kini menjadi helatan ke-9 setiap tiga tahun sekali. Saya sempat bertemu dengan beberapa peserta dari beberapa wilayah seperti Kaltim dan Sulteng. Masih kuat energi memancar dari mereka untuk masa depan umat dan bangsa. Dan, sesuai tema kali ini “Pemuda Berdaya, Indonesia Emas 2045” tampaknya mereka mulai resah dengan apa yang harus mereka siapkan.

Janeera Amba dalam buku “Mindset Therapy” menerangkan bahwa kalau manusia ingin maju, maka ia harus memiliki pusat kesadaran, mampu menghasilkan ide, persepsi dan perasaan. Termasuk sikap mental dalam merespon sesuatu.

Sejak tahun 2020 Pemuda Hidayatullah telah menjadikan kata 2045 sebagai limitasi capaian terbaik untuk umat dan bangsa. Ketika itu mereka kerap menggemakan kalimat: “Pemuda Hidayatullah 2045 Memimpin Indonesia.” Meminjam ungkapan Amba, ini adalah wujud dari upaya membentuk pusat kesadaran untuk bisa menghasilkan ide dalam wujud program, sikap dan karakter.

Gelisah

Namun, kalimat itu tidak saja membawa Pemuda Hidayatullah kedalam satu pandangan ke depan yang kuat. Sebagian dari mereka mulai gelisah, bertanya, bahkan ragu dan sebagian kecil yakin, bahwa kita bisa memimpin Indonesia di tahun 2045.

Semua itu coba dijawab dalam Munas ke-9 dengan tema “Pemuda Berdaya, Indonesia Emas 2045.” Kata berdaya ini menarik. Secara umum “berdaya” identik dengan kemandirian secara ekonomi. Walakin saya memandang berdaya adalah buah dari cara berpikir yang optimis untuk menjadi lebih baik yang disertai karakter kuat sejak kecil.

Kalau kita perhatikan sejarah, yang membuat Nabi Muhammad SAW itu sukses menjadi pedagang dan bisnisman bukan semata pilihan hidupnya, tapi bekal berupa karakter jujur yang begitu kokoh dalam jiwanya. Pemuda memang harus bisa seperti itu, saat orang atau bahkan zaman tenggelam dalam pragmatisme, Pemuda Hidayatullah harus terampil bangkit dari kegelisahan.

Bung Karno dan Bung Hatta juga demikian, mereka gelisah untuk bisa membawa bangsa ini lepas dari jeratan kolonialisme. Maka mereka menempa diri dengan belajar sangat tekun, hingga akhirnya memiliki ide bernegara untuk bisa merdeka.

Indonesia Emas

Sekarang, seluruh Indonesia telah menyadari bahwa dalam tempo dua dekade ke depan, bangsa ini akan sampai pada masa 1 abad kemerdekaan. Namun narasi tentang Indonesia Emas perlahan mulai redup. Bukan tanpa alasan, kalau mau mendata masalah, jumlahnya sangat banyak. Mulai dari situasi politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan, lingkungan dan budaya, semua semakin hari seperti semakin memburuk.

Namun, tak ada cita-cita besar yang tak menghadapi hambatan dan halangan. Realitas adalah cermin untuk kita bisa benar-benar memastikan mana langkah strategis yang relevan. Tidak satupun orang hidup yang bersih dari masalah. Semua berhadapan dengan masalah, namun pemuda yang tangguh ia bisa mengatasinya dengan cerdas. Salah satunya cerdas mempersiapkan diri dengan komitmen pada jati diri, terus menempa diri, dan tak berhenti membaca, Iqra’ Bismirabbik.

Tengok sejarah, tak ada manusia hebat tumbuh begitu saja. Bung Karno, Bung Hatta, Agus Salim, dan lebih jauh seorang Khalid bin Walid yang tak pernah kalah dalam segala medan tempur umat Islam, semua adalah sosok yang tekun berlatih, berpikir dan komitmen dengan pilihan hidupnya. Mereka bukan orang yang mudah silau dengan kesenangan-kesenangan palsu.

Sekarang, apakah Pemuda Hidayatullah bisa atau tidak menjadi berdaya pada momentum Indonesia Emas 2045, jangan kita perdebatkan terus, tapi pastikan bagaimana persiapan kita secara kolektif dan personal. Kalau sinkron melalui nilai, spirit dan program yang ada, cepat atau lambat kemajuan itu akan menjadi kenyataan. Selamat Munas teman-teman, umat dan bangsa ini menunggu kesungguhanmu dalam membangun negeri. Tunjukkan dengan bukti bukan slogan basi.*

Mas Imam Nawawi