Mas Imam Nawawi

- Hikmah

Tenang dengan Nasihat Syekh Ibn Athaillah Tentang “Haluan” Hati

“Adakalanya kamu dibukakan pintu taat tapi tidak dibukakan pintu penerimaan. Adakalanya kamu ditakdirkan melakukan maksiat tapi ia menjadi pendorong untuk mencapai tobat. Suatu perbuatan maksiat yang melahirkan penyesalan adalah lebih baik daripada ketaatan yang menimbulkan ujub dan keangkuhan.” Itu adalah ungkapan Syekh Ibn Athaillah yang dikutip oleh Syekh Yusuf Qardhawi dalam buku “Kembali dalam Dekapan […]

Tenang dengan Nasihat Syekh Ibn Athaillah Tentang “Haluan” Hati

“Adakalanya kamu dibukakan pintu taat tapi tidak dibukakan pintu penerimaan. Adakalanya kamu ditakdirkan melakukan maksiat tapi ia menjadi pendorong untuk mencapai tobat. Suatu perbuatan maksiat yang melahirkan penyesalan adalah lebih baik daripada ketaatan yang menimbulkan ujub dan keangkuhan.” Itu adalah ungkapan Syekh Ibn Athaillah yang dikutip oleh Syekh Yusuf Qardhawi dalam buku “Kembali dalam Dekapan Tarbiyah”.

Kalau kita mau merenungkan sejenak, tampak sekali bahwa kalimat ini bukan sekadar hiasan kata.

Kalimat itu adalah cermin yang jernih, memantulkan wajah batin kita yang sering kali tersembunyi dari balik jubah ibadah. Pada saat yang sama, kita berhadapan dengan sebuah paradoks suci: bukan semua ketaatan itu otomatis Allah terima, dan tidak semua maksiat itu mutlak bermakna sia-sia.

Hal ini menunjukkan kepada kita apapun yang terjadi jangan kehilangan jati diri. Kita sebagai manusia hanyalah makhluk. Segala hal dalam kehidupan ini ada dalam genggaman Allah. Dalam kata yang lain, seperti kata Gus Baha, kalau kita salat, bersyukurlah. Karena hakikatnya Allah yang menakdirkan kita bisa sujud. Kalau kita berbuat maksiat, bertaubatlah. Sebab itu bukti kita butuh akan pertolongan Allah.

Kalau kita bisa berpikir dan membangun kesadaran seperti itu, apa yang akan menjadi landasan kita merasa lebih baik dari orang lain. Kemudian apa yang menjadi argumentasi bahwa kita tidak layak mendapat ampunan Allah.

Belajar dari Realitas

Sungguh menyadari hal itu sangat penting, karena ini perkara yang menentukan “haluan” hati.

Dalam tradisi spiritual Islam, terutama dalam ajaran tasawuf, nilai sebuah perbuatan tidak terletak dari bentuk lahirnya semata, melainkan dari kualitas hati yang melahirkannya.

Seorang yang berdiri dalam sepertiga malam, berdoa dengan khusyuk, namun dalam hatinya tersimpan rasa bangga—bahwa ia lebih baik dari tetangganya yang tidur—maka ketaatannya, betapa pun sempurna secara teknis, telah tercemar oleh ujub.

Dan ujub, sebagaimana diingatkan para ulama, adalah dosa yang paling halus sekaligus paling mematikan: ia membunuh ruh ibadah dari dalam.

Sebaliknya, seorang yang terjatuh dalam dosa—mungkin karena lemah iman, godaan, atau kekhilafan—namun kemudian hatinya remuk oleh penyesalan, matanya basah oleh tangis, dan jiwanya merindukan ampunan, maka justru di situlah rahmat Allah bekerja paling nyata.

Alhasil, tobatnya pun bukan hanya permohonan maaf, tapi kelahiran ulang jiwa yang lebih rendah hati, lebih waspada, dan lebih dekat pada Sang Pemberi Maaf.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian tidak pernah berdosa, niscaya Allah akan menggantimu dengan kaum yang berdosa lalu mereka memohon ampun kepada-Nya.” (HR. Muslim).

Hadis ini bukan anjuran untuk berbuat dosa, melainkan penegasan bahwa kesadaran akan kelemahan diri adalah pintu menuju rahmat. Jika seseorang memiliki dosa, maka itu peluang mengubah haluan hidup.

Sebab, orang yang tak pernah merasa salah, tak pernah memohon ampun. Dan siapa yang tidak memohon ampun, ia telah menutup pintu rahmat dari Allah SWT.

Berharap Hanya kepada Allah

Lalu apa esensi dari melakukan itu semua? Dalam konteks buku yang Syekh Yusuf Qardhawi tulis adalah agar kita tidak mudah kehilangan iman.

Pada sisi yang lain agar kita ringan hati dan kaki serta tangan untuk banyak beramal bahkan berkorban dengan berharap balasan hanya dari Allah SWT.

Orang yang bisa sampai pada level nasihat Syekh Ibn Athaillah itu kata Syekh Yusuf Qardhawi akan sampai pada output dari tarbiyah rabbaniyah. Orang itu akan mudah berkorban dalam setiap aktivitas dakwahnya. Yang mana mereka melakukan itu semua tanpa mengharap balas jasa dari siapapun juga.

Dengan demikian, langkah paling penting bagi kita dalam menjalani kehidupan ini adalah benar-benar mengenal Allah, kemudian mengerahkan segala kemampuan untuk berbuat baik. Bukan untuk menjadi populer, tapi agar hati semakin cinta kepada Allah, bukan hanyut dalam ilusi kosmik karena cinta dunia.*

Mas Imam Nawawi