Home Kisah Tidak Emosional Tanda Terampil Memimpin Diri
Tidak Emosional Tanda Terampil Memimpin Diri

Tidak Emosional Tanda Terampil Memimpin Diri

by Imam Nawawi

Belum lama ini saya bepergian dengan seorang anak muda, tepatnya suami muda. Belum lama saya duduk di dalam mobil, ia langsung melontarkan pertanyaan, bagaimana agar kita tidak mudah kecewa terhadap pasangan? Saya yang agak kaget, menjawab singkat, “Jangan emosional, kalau mau terampil memimpin diri.”

Baca Lagi: Pemuda Menerobos Masa Depan

Mendengar kalimat itu, ia yang awalnya tampak sangat serius dan membawa beban mendalam dalam pikirannya, seketika tersenyum. “Oh…begitu, ya…?”

Self Leadership

Kalimat saya itu merujuk pada istilah self leadership, yakni kemampuan seseorang memimpin dirinya sendiri dengan cara membangun kebiasaan reasoning, sehingga memiliki tujuan, bahkan visi sekaligus strategi dalam meningkatkan kapasitas diri dan mencapai keberhasilan.

Mengapa reasoning pertama? Karena ini adalah perbuatan akal dan hati yang hanya mungkin terjadi dengan sangat baik, kalau seseorang gemar membaca, sehingga kaya akan bahan untuk berpikir.

Dalam kata yang lain, orang yang punya stok bacaan tipis, mudah sekali untuk tersulut emosinya.

Jangankan yang tipis, yang stok bacaannya melimpah pun, kalau tidak punya self leadership, (meminjam istilah dari KH Hasyim Muzadi) profesor pun bisa goblok mendadak.

Poin paling penting dari self leadership adalah hadirnya pemahaman dan kebahagiaan dalam melihat apapun. Ia benar-benar mengelola dirinya dengan baik, lahir dan batin. Ia tidak mudah terbakar emosi karena ucapan atau tindakan bahkan keadaan yang sedang terjadi.

Pendek kata, begitulah Nabi Muhammad SAW. Apa beliau langsung murka saat ada orang kafir meludahinya, membencinya, bahkan ingin membunuhnya? Beliau SAW tetap pada komitmen akhlak. Dan, ini bukan perkara yang bisa begitu saja kita miliki. Perlu latihan.

Saling Menghargai

Saya melanjutkan jawaban. “Kalau soal pasangan, maka hal yang utama harus suami miliki adalah kemauan kuat menghargai istri.”

Baca Lagi: Kunci Kemesraan Suami Istri

Teman saya itu mulai mudah mencerna maksud saya. Sepertinya ia sudah memahami apa itu self leadership dengan baik.

“Kalau Anda merasa kecewa dengan pasangan Anda, boleh jadi pasangan Anda juga kecewa. Cara mengatasinya bukan menuntut pasangan sesuai selera kita, tapi kita ubah posisi, dari tidak menghargai, bersegera untuk menghormati dan menghargai,” uraiku lebih lanjut.

Saya pun tambahkan dengan quote yang saya dapatkan dari Ustadz Sholeh Hasyim yang akan berangkat tugas dakwah saat dapat nasihat dari Ustadz Abdullah Said.

“Pahami orang lain, jangan minta dipahami.”

Simpel kan kalimat itu. Tetapi itu bentuk kematangan berpikir seseorang, yang kalau kita bisa mengamalkannya, kita akan bahagia tanpa harus tergantung dengan senyuman atau kecutnya wajah orang lain atau bahkan pasangan sendiri.

Karena itu dalam Islam, mental yang harus kita bangun adalah memberi, bukan menerima, apalagi sekadar pandai menuntut.*

Mas Imam Nawawi

 

Related Posts

Leave a Comment