Home Artikel Tidak Dihargai Bukan Berarti Tidak Berharga
Tidak Dihargai Bukan Berarti Tidak Berharga

Tidak Dihargai Bukan Berarti Tidak Berharga

by Imam Nawawi

Ingatlah bahwa setiap ada orang yang tidak dihargai, boleh jadi orang itulah yang sangat berharga. Jadi, tenang, woles (santai) saja. Ketika Anda merasa tidak dihargai, bukan berarti Anda benar-benar tidak berharga.

Saya sering mengatakan kepada kaum muda, kalau ada orang berbicara negatif tentang Anda, maka letakkan ucapan negatif itu pada tempatnya, yaitu tempat sampah. Jangan simpan dalam hati.

Baca Juga: Kerugian Nyata dalam Hidup Seseorang

Mengapa langkah itu perlu? Tidak lain agar diri mampu untuk menanggulangi pikiran negatif. Ucapan negatif yang Anda terima dalam hati, pasti akan merusak suasana hati Anda sendiri. Rugi!

Jadi, lebih baik identifikasi segera apakah ucapan negatif orang telah mempengaruhi pola pikir sendiri atau tidak.

Jika, jawabannya, iya, maka segera pugar pola pikir negatif itu. Renovasilah menjadi pikiran positif.

Berjuanglah untuk membangun pemikiran yang lebih sehat, optimis dan mendorong diri melakukan langkah-langkah kebaikan, betapapun itu sangat berat untuk Anda mulai.

Belajar dari Nabi Yusuf

Nabi Yusuf as, adalah sosok penuh inspirasi. Ia muda, cerdas, tampan luar biasa, dan punya visi hidup.

Akan tetapi, justru semua hal positif itulah yang membuat saudara-saudara lainnya menjadi iri.

Berbagai skenario pun mereka upayakan, semata-mata agar Yusuf tidak menjadi orang istimewa dalam keluarga.

Dalam tempo tiga dekade (katakan begitu) skenario itu bekerja dalam pandangan orang-orang yang hasad (iri, dengki) itu. Akan tetapi, skenario mereka berbalik dengan skenario Tuhan.

Tempo tiga dekade dalam pengucilan, Nabi Yusuf tumbuh sebagai pemuda tampan, cerdas, mendapat kepercayaan besar untuk urusan manusia dan semakin berkibar kiprah hidupnya.

Sedangkan, tukang hasad itu, yang tak lain adalah saudaranya sendiri, semakin terpuruk.

Sebuah fakta, bahwa betapapun tukang iri merasa menang, ia sedang melangkah pada kurva rendah, bahkan minus, rusak dan hancur.

Sedangkan orang yang mengalami pengucilan, sementara dia memang orang yang berharga pada dasarnya, mungkin mengalami kesulitan hidup.

Akan tetapi dia sedang menempuh “kelas” kenaikan derajat, setahap demi setahap dan pasti.

Timbangan

Jadi, jika Anda adalah orang yang punya visi, tidak ada niat melakukan keburukan dan senantiasa berkontribusi dalam kebaikan. Tetapi lingkungan mengucilkan Anda, tenang dan tabahlah.

Baca Lagi: Berpikir Positif dan Teguh Pendirian

Sebagian motivator meminta Anda untuk meninggalkan lingkungan Anda dan mencari komunitas yang bisa menghargai Anda. Itu rasional.

Tetapi dalam sejarah, sabar, tabah dan penuh perjuangan justru yang penting menjadi pilihan.

الأرواحُ جنودٌ مجنَّدةٌ . فما تعارف منها ائتَلَف . وما تناكَر منها اختلف

“Ruh-ruh itu bagaikan pasukan yang dihimpun dalam kesatuan. Jika saling mengenal di antara mereka maka akan bersatu. Dan yang saling merasa asing di antara mereka maka akan berpisah.” (HR. Muslim).

Dalam kata yang lain, betapapun Anda mendapat pengerdilan, pengucilan atau bahkan penghinaan, tetap tenang. Sifat ruh adalah menyukai yang sama.

Artinya, cepat atau lambat Allah akan berikan pertolongan.

Tugas Anda tetap satu, sabar dan bekerjalah dengan sebaik-baiknya.

Guru saya pernah memberi nasihat, bahwa emas tetaplah emas. Dimana emas berada, bahkan walaupun berada dalam kubangan kotoran ternak, orang tetap akan mengambil, membersihkan dan menghargainya.

Bukankah ketika Nabi Muhammad SAW dikucilkan kaum Quraisy, Allah datangkan kaum Anshar yang memberikan pertolongan dan penghargaan?*

Mas Imam Nawawi

 

Related Posts

Leave a Comment