Mas Imam Nawawi

- Berita

Bahagia Menikmati Proses Perjuangan

Hari itu (18/3) benar-benar padat bagiku. Alhamdulillah, usai lima hari perjalanan menyusuri Sumatera Utara, saya dapat mengambil hikmah dari 3 dai sarjana yang bahagia karena menikmati proses perjuangan. Ada Miki Ade Samudra Ngangi, pemuda asal Minahasa yang lahir dan besar dalam pangkuan bumi Kutai Barat kemudian sukses belajar dan lulus dari STIE Hidayatullah Depok. Baginya, […]

Bahagialah menikmati proses perjuangan

Hari itu (18/3) benar-benar padat bagiku. Alhamdulillah, usai lima hari perjalanan menyusuri Sumatera Utara, saya dapat mengambil hikmah dari 3 dai sarjana yang bahagia karena menikmati proses perjuangan.

Ada Miki Ade Samudra Ngangi, pemuda asal Minahasa yang lahir dan besar dalam pangkuan bumi Kutai Barat kemudian sukses belajar dan lulus dari STIE Hidayatullah Depok.

Baginya, bisa lulus dari STIE Hidayatullah Depok dan kini dapat tugas dakwah ke daerah merupakan satu hal yang membuktikan pernyataan dan ajaran dari kedua orangtuanya. Meski dalam hati saya berkata semoga engkau bisa kuat dan istiqomah.

“Orangtuaku sering berpesan, jangan pernah lelah berjuang, belajar yang baik, jangan malas, kelak kamu akan bahagia. Alhamdulillah nasihat itu kini benar-benar kurasakan manfaatnya,” ucapnya.

Baca Juga: Masa Muda Harus Berprestasi

Kemudian ada Muhammad Jundullah, pemuda asal Lambara, Luwu, Sulawesi Selatan. Ia tak cukup lancar dalam merangkai kata, namun body languagenya jelas ia seorang pemuda yang rajin dan visioner.

“Insha Allah saya akan tugas ke Manokwari. Mungkin sungkem dulu ke orangtua lalu berangkat ke Papua Barat. Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk menjadi pribadi bermanfaat di sana, ikut mencerdaskan bangsa melalui dakwah dan pendidikan,” ucapnya.

Tak kalah dari keduanya ada Rahmat Ghafur Hamran. “Saya bisa teman-teman panggil RGH juga,” katanya yang dapat sambutan tawa semua temannya.

“Wah, bisa jadi pejabat sepertinya ini, RGH,” tambahku yang menjadikan suasana kian riuh untuk beberapa saat.

“Masa penugasan ini semakin membukitkan apa yang kudapati dari para dosen dan murobbi di STIE Hidayatullah bahwa selama ada semangat berjuang, kebahagiaan akan Allah hadiahkan,” jelasnya.

Rumus Bahagia

Di dunia ini rasanya tak ada seorang pun yang mau hidup tidak bahagia. Tetapi, faktanya, banyak yang nyaman di jalan ketidakbahagiaan.

Sebagai mahasiswa misalnya, benarkah diri telah mengerahkan segenap tenaga dan waktu untuk belajar?

Sedari kecil berjuang itu harus
Sedari kecil berjuang itu harus walau dengan belajar online

Sebagai seorang istri atau suami benarkah diri kita telah mengerahkan segenap perhatian dan fokus pada kebaikan rumah tangga?

Sebagai seorang guru misalnya, sudahkah mendidik menjadi kegiatan yang paling ia cintai, sehingga masuk ke ruang belajar baik online maupun offline hadir dengan optimisme tinggi?

Jika jawabannya ya, maka itulah yang harusnya ia jalankan. Jika tidak, maka dari situlah ketidakbahagiaan sedang datang dan berselimut sebagai kenyamanan.

Sasyuki

Islam sebagai agama paripurna memberikan rumusan bagaimana menggapai kebahagiaan. Yakni dengan rumus Sasyuki (Sabar, Syukur dan Ikhlas).

Untuk bisa sabar, kita wajib mengerti untuk apa kita bersabar (QS. Al-Kahfi: 68).

Kalau mahasiswa ya sabarnya berarti untuk bisa lulus dengan sebaik-baik pengalaman, nilai, dan juga ilmu serta skill. Jika ini tidak ia pahami, maka bisa kita “jamin” ia akan sulit untuk sabar. Artinya akan terhambat kesuksesannya.

Syukur, lebih sederhana. Bisa kuliah sebenarnya adalah nikmat yang luar biasa.

Berapa banyak anak-anak Indonesia yang tak berkesempatan mencecap nikmat duduk pada bangku kuliah?

Sebuah data pada 2018 menyebutkan, mahasiswa untuk pendidikan S1 rata-rata berusia diantara 19-23 tahun dengan tingkat populasi 80 hingga 107 juta. Sementara yang mendapatkan layanan pendidikan tinggi hanya sebanyak 7,5 juta yang artinya masih jauh atau mencapai sekitar 32,9 persen.

Terakhir, ikhlas. Jika kita rujuk pada makna surah Al-Ikhlas, sudah tidak ada lagi dalam hidup ini yang perlu dipersoalkan atau dipikirkan melampaui kapasitas diri sebagai manusia.

Baca Juga: Berpikir itu Ibadah

Tinggal jalankan apa perintah Allah saat kita merasa banyak masalah, seperti sholat dan sabar, lantas berakhlak baik dengan sesama. Selanjutnya biarlah Allah menentukan segalanya. Bukankah Allah Maha Tahu dan Maha Adil? Jadi ikhlas, artinya, semangat, maju terus dan berpantang mundur.

Selamat jalan selamat bertugas, wahai kalian yang sejak dini telah menancapkan niat perjuangan dalam hati. Oya, di balik semua naskah ini ada seorang dai sarjana bernama Jufri yang selalu menjadi solusi dari kegiatanku menjalankan tugas sebagai host dalam program Bincang Mulia BMH TV itu.*

Mas Imam Nawawi_Perenung Kejadian

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *