Saat malam masih sunyi, saya berteman dengan buku “Lembaga Budi”. Itu adalah bacaan karya Buya Hamka. Satu bahasan yang memincut perhatianku adalah ulasan tentang hewan-hewan di sekitar kita. Mengamati mereka kita akan mendapat sinar terang bagi hati dan pikiran.
Pertama, ayam. Tepatnya induk ayam. Meski induk ayam itu lemah, tapi kalau ada gangguan terhadap anak-anaknya seketika dia menantang. Induk ayam itu lupa akan kelemahannya. Rasa tanggung jawab, menjaga kelangsungan hidup anak-anaknya menobatkannya berani bertaruh apapun. Bahkan nyawa.
Memaku tentang hal itu, hati kita pasti teringat akan para pemimpin negeri. Apakah mereka sudah lebih unggul dalam membela rakyat daripada ayam membela anak-anaknya?
Pada sisi lain mungkin dari kita ada yang prihatin. Mengapa ada saja orang yang membunuh anaknya, membuangnya, dan tidak mau merawatnya.
Padahal induk ayam tak pernah punya pilihan sampai seburuk itu. Manusia, memang berakal. Tapi kalau sudah lupa Allah, akal itu pun hilang. Hidup jadi lebih lecak dari binatang ternak.
Sekitar Memberi Kode Komunikasi
Sebenarnya masih ada beberapa hewan lagi yang Buya Hamka jadikan tafsiran. Tapi saya sangat suka kepada cerita seorang kolega. Cerita penuh hikmah. Yakni ketika Nabi Sulaiman berbicara dengan burung dan semut.
Kata kolegaku itu, selain fakta sejarah demikian, kita dapat mengambil pengetahuan bahwa itu kode bagaimana kita berkomunikasi.
Ketika Nabi Sulaiman bisa berbicara dengan semut dan burung, artinya kita harus bisa berkomunikasi dengan bahasa objek dakwah kita.
Kalau objek dakwah (mad’u) itu anak muda, kita harus bisa merasakan cara komunikasi yang menyentuh mereka. Kalau tidak, tidak akan terjadi interaksi batin dan pikiran.
Pernah kan melihat satu forum, pesertanya Gen-Z, pembicaranya generasi senior. Apa yang terjadi, Gen-Z-nya tampak lemas, tak bergairah dan sebagian tidak fokus. Bisa jadi konsep Nabi Sulaiman tidak bisa beroperasi.
Perhatikan dan Perhatikan
Beralaskan dua fakta itu, yang semuanya berbicara tentang hewan di sekitar kita, kita harus dapat pelajaran.
Pertama, Allah menitahkan kepada kita untuk sering belajar, memperhatikan dengan seksama kondisi sekitar. Temukan makna, ambil hikmah dan melangkah progresif.
Kedua, hiduplah dengan ilmu. Meski ilmu itu seakan sederhana, kita peroleh dari sekitar kita. Tapi kalau itu bisa menjelma sebagai karakter hidup yang baik dan kokoh, kita bisa menjadi manusia bermanfaat. Berpikirnya lurus, bertindaknya tulus.
Saya kira itu untuk pengkajian ringan pada kesempatan ini. Semoga Allah memudahkan hati kita memahami sekitar dengan baik. Dengan itu kita pun tumbuh dengan kemanfaatan besar bagi publik.*


