Home Artikel Tantangan Terbesar itu Bernama Fokus
Tantangan Terbesar itu Bernama Fokus

Tantangan Terbesar itu Bernama Fokus

by Imam Nawawi

Mesin jet cleaner, orang tertarik memiliki karena semburan airnya yang kuat. Daya semprotnya dapat menerbangkan debu dan kotoran saat kita fokuskan. Bahkan pada benda tertentu, pancaran airnya bisa membuat lobang. Lumut di lantai dan dinding pun bisa terangkat seketika. Dan, kondisi manusia saat ini umumnya sulit untuk fokus. Itulah tantangan terbesar abad digital.

Mobil, motor, bahkan AC dapat dengan cepat bersih karena daya basut mesin yang bisa kita fokuskan. Memang perlu kita catat, saat air itu menyembur, energi watt yang diperlukan bukan kaleng-kaleng. Minimal 600 – 800 watt.

Tetapi begitulah satu contoh tentang kekuatan fokus. Rolf Dobelli dalam “The Art of The Good Life” mengatakan kebanyakan manusia tidak tahu bagaimana fokus. Bahkan orang cenderung mengalami kesalahan sistematis kala bagaimana harus fokus.

Foto Instagram

“Foto di Instagram, betapapun indah kelihatannya, adalah debit,” begitu Dobelli berpendapat. Debit itu adalah fokus yang kita bayarkan untuk melihat sebuah foto yang mungkin indah tapi apa dampak perubahan lebih baik bagi diri kita.

Baca Juga: Jangan Cancel Doamu

Padahal, idealnya kita melihat sesuatu, apalagi meluangkan waktu, tenaga, dan fokus, adalah mendatangkan manfaat. Bukan berlalu begitu saja, apalagi nirmakna.

“Pada saat membacanya (Facebook, Email, WA, Instagram) kita membayar – dengan fokus, waktu, atau bahkan uang,” Dobelli menegaskan.

Dalam kata yang lain kalau seseorang mau menghabiskan waktu luangnya untuk membaca buku, melakukan hal yang dapat meningkatkan kapasitas diri, maka itu jauh lebih baik kita fokus di situ.

Itulah yang orang sekarang disebut dengan distraksi. Kita sulit menghasilkan sesuatu apalagi karya. Tentu itu karena kita terlalu sibuk merespon segala hal yang membuat fokus diri tidak pernah benar-benar terbentuk.

Dobelli pun memberi saran. “Beri jarak pada semua hal yang berhubungan dengan ‘multimedia’.

Bagaimana melakukan, tergantung selera kita. Saya lebih suka menonaktifkan smartphone pada saat-saat harus fokus. Bahkan meski hanya untuk membaca buku.

Dan, ternyata itu senafas dengan sebuah saran dari buku “Maximum Personal Productivity” karya Yodhia Antariksa, yang juga menyarankan semua orang yang ingin fokus untuk menjauhkan smartphonenya dari jangkauan mata dan tangan.

Ingin Bisa Membuat Apa

Salah satu pemantik fokus paling bagus adalah tanyakan ke dalam hati, ingin bisa membuat apa di masa depan?

Baca Lagi: Mumpung Masih Muda

Saya menarik kalimat itu dari Anies Baswedan. Ia menilai kita tidak lagi relevan mengajak anak berdialog nanti mau jadi apa. Ke depan yang tepat adalah kedepan ingin bisa membuat apa. Tentu saja ini karena era telah berubah.

Teori fokus juga demikian, laksana seorang sniper, jika telah terang target yang akan dibidik, segera ia fokus dan melakukan hal yang seharusnya.

Saat diri sadar ingin bisa membuat apa maka ia akan menggali dirinya lebih dalam, sampai pada kesimpulan bahwa ia harus mengambil keputusan terbaik dengan segera.

Pada saat itulah orang bisa fokus, memusatkan perhatian pada apa yang telah menjadi keputusannya.

Saat saya ingin membuat tulisan untuk mendukung gerakan literasi di era digital setiap hari, maka saya selalu mencari waktu untuk benar-benar bisa fokus, sehingga lahir satu tulisan di setiap hari.

Mungkin orang bertanya, dapat apa dari melakukan itu? Bagiku menulis membahagiakan. Dan, itu sangat lebih dari cukup bagiku. Karena janji Tuhan pasti, siapa berbuat kebaikan, ia akan mendapat balasan kebaikan. Bukankah menulis itu baik? Lalu mengapa saya tidak mau fokus untuk kebaikan yang seperti itu!*

Mas Imam Nawawi

Related Posts

Leave a Comment